Scroll untuk baca artikel
Ragam

“Diburu Dunia! Sukun dari Nusantara Disebut ‘Senjata Rahasia’ Hadapi Kiamat Pangan”

×

“Diburu Dunia! Sukun dari Nusantara Disebut ‘Senjata Rahasia’ Hadapi Kiamat Pangan”

Sebarkan artikel ini
foto buah sukun

WawaiNEWS.ID – Selama ini dunia mengenal Indonesia lewat durian dan rambutan. Aromanya kuat, rasanya khas, dan sering jadi bahan perdebatan lintas negara. Tapi diam-diam, ada satu “pemain senyap” dari Nusantara yang justru bikin bangsa Eropa sejak dulu penasaran, sukun.

Buah bernama latin Artocarpus altilis ini bukan sekadar camilan goreng di pinggir jalan. Dalam catatan sejarah, sukun pernah dianggap sebagai “buah sempurna” mengenyangkan, bergizi tinggi, dan mampu menopang hidup manusia di kondisi ekstrem.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kedengarannya seperti iklan makanan darurat? Eropa abad ke-17 justru menganggapnya serius.

BACA JUGA :  6 Rekomendasi Film Animasi Bagi si Buah Hati Selama Ramadhan

Sebelum era penjelajahan samudera, bangsa Eropa hanya berfantasi tentang buah ideal yang bisa jadi solusi krisis pangan. Fantasi itu akhirnya “pecah” saat mereka menjelajah Pasifik dan Nusantara.

Penjelajah Inggris William Dampier menjadi salah satu orang pertama yang mendokumentasikan sukun pada 1686 di Guam. Dalam bukunya A New Voyage Round the World (1697), ia menyebut buah ini unik tumbuh dari pohon besar dan tidak memiliki biji.

Ia juga memberi nama yang kini mendunia: breadfruit alias “buah roti”.

Kenapa roti? Karena saat dipanggang, teksturnya mirip roti bedanya, ini tumbuh di pohon, bukan dari oven bakery.

BACA JUGA :  “The Ugly”: Misteri Kematian yang Mengungkap Luka Empat Dekade

Jauh sebelum bikin penasaran orang Eropa, masyarakat Nusantara sudah lebih dulu akrab dengan sukun.

Buktinya? Relief di Candi Borobudur menunjukkan bahwa buah ini telah menjadi bagian dari konsumsi masyarakat sejak ratusan tahun lalu.

Jadi, ketika dunia baru “menemukan”, kita sebenarnya sudah lama menikmatinya mungkin sambil ngopi sore.

Tak hanya Dampier, naturalis Belanda Georg Eberhard Rumphius juga ikut terpikat. Dalam karya monumentalnya Herbarium Amboinense (1741), ia menyebut sukun sebagai buah ajaib: kaya nutrisi, serbaguna, dan bisa jadi penyelamat saat kelaparan.

BACA JUGA :  Nisfu Syaban 3 Februari 2026, Malam Penuh Ampunan dan Doa Mustajab

Kalau zaman sekarang, mungkin sudah masuk kategori “viral superfood” minus endorsement selebgram.

Ambisi membawa sukun ke panggung global mulai serius pada abad ke-18. Penjelajah legendaris James Cook, bersama ahli botani Joseph Banks, melihat potensi besar buah ini.

Banks bahkan mengusulkan langsung kepada George III agar sukun ditanam di koloni Inggris sebagai sumber pangan murah.

Bibit sukun pun “merantau” ke Karibia, Afrika, hingga berbagai wilayah tropis lainnya. Dari sinilah, sukun berubah status dari buah lokal jadi komoditas global.***