BANDUNG — Setelah lama budaya Sunda lebih sering muncul di baliho pariwisata dan acara seremonial, Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini resmi menetapkan 18 Mei sebagai Hari Tatar Sunda melalui Pergub Nomor 13 Tahun 2026.
Momentum kebangkitan budaya itu ditandai dengan Kirab Mahkota Binokasih yang dimulai dari Sumedang pada Sabtu (2/5/2026). Bukan sekadar arak-arakan budaya biasa, kirab ini membawa simbol besar peradaban Sunda: Mahkota Binokasih Sanghyang Pake mahkota emas legendaris yang sarat filosofi, sejarah, dan identitas Tatar Sunda.
Dan ya, mahkota ini bukan properti sinetron kolosal.
Luky Djohari Soemawilaya menjelaskan, Mahkota Binokasih bukan hanya benda pusaka berlapis emas, melainkan simbol kehidupan adiluhung masyarakat Sunda.
Nama lengkapnya, Binokasih Sanghyang Pake, mengandung makna mendalam:
- Binokasih berarti kasih sayang,
- Sanghyang Pake berarti digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya, nilai kasih sayang tidak boleh berhenti jadi slogan atau kutipan status media sosial, tetapi harus hadir dalam kehidupan nyata.
“Kasih sayang harus menjadi sumber tindakan, karena dari kasih sayang lahir gotong royong, toleransi, musyawarah, adil, dan bijaksana,” ujar Luky.
Filosofi Sunda yang Mulai Kalah oleh Konten 15 Detik
Mahkota Binokasih juga memiliki tiga susunan yang merepresentasikan konsep Sunda Tritangtu:
- silih asah,
- silih asih,
- silih asuh.
Filosofi itu mengajarkan pentingnya saling berbagi ilmu, menyayangi, dan membimbing sesama.
Di bagian mahkota juga terdapat ornamen bunga wijaya kusuma dan burung julang yang melambangkan:
- kesetiaan,
- ketulusan,
- serta kekuatan niat.
Nilai-nilai yang hari ini terasa makin mahal di tengah zaman yang lebih sibuk mengejar viral daripada warisan budaya.
Hari Tatar Sunda Resmi Lahir
Peneliti sejarah sekaligus dosen Universitas Padjadjaran, Nina Herlina, mengatakan penetapan Hari Tatar Sunda pada 18 Mei merujuk pada momentum berdirinya Kerajaan Sunda tahun 669 Masehi oleh Maharaja Tarusbawa.
Peristiwa tersebut tercatat dalam:
- Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantana,
- serta catatan Dinasti Tang dari Tiongkok.
“Awal berdirinya Kerajaan Sunda menjadi awal lahirnya Tatar Sunda,” jelas Nina.
Namun ia menegaskan, Hari Tatar Sunda bukan upaya menghidupkan kembali kerajaan, melainkan membangkitkan kesadaran budaya masyarakat Sunda.
Karena rupanya, yang perlu dibangunkan hari ini bukan kerajaan lama—tetapi generasi yang mulai lupa akar budayanya sendiri.
Dosen Fakultas Hukum Unpad, Hernadi Affandi, menjelaskan bahwa Hari Tatar Sunda berbeda dengan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat setiap 19 Agustus.
Menurutnya:
- Hari Jadi Jawa Barat bersifat administratif pemerintahan,
- sementara Hari Tatar Sunda fokus pada akar budaya dan sejarah.
“Ini tonggak kebangkitan jati diri dan karakter warga Jawa Barat,” ujarnya.
Kirab Budaya 1,5 Kilometer, Mahkota Dikawal Ketat
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Iendra Sofyan, mengatakan rangkaian Milangkala Tatar Sunda mengusung tema:
“Nyuhun Buhun, Nata Nagara”.
Maknanya:
mengangkat kembali nilai baik leluhur untuk menata Jawa Barat masa kini.
Kirab budaya akan berlangsung dari:
- Sumedang
hingga - Cirebon
dengan panjang iring-iringan mencapai sekitar 1–1,5 kilometer.
Mahkota Binokasih asli akan dikawal ketat menggunakan kereta kencana bersama gubernur, wakil gubernur, dan kepala daerah.
Di belakangnya akan tampil berbagai kesenian tradisional dari 27 kabupaten/kota:
- Reak Bandung,
- Sasapian Buhun KBB,
- hingga komunitas adat Sunda lainnya.
Kalau biasanya jalanan macet karena konvoi motor knalpot bising, kali ini Jawa Barat ingin macet karena budaya.
Rangkaian kegiatan akan ditutup:
- 16 Mei 2026 dengan karnaval budaya di Bandung,
- dan 17 Mei 2026 pertunjukan kolosal di Gedung Sate bersama Sujiwo Tejo.
Pemerintah berharap kegiatan ini menjadi momentum mengenalkan kembali budaya Sunda kepada generasi muda secara langsung.
Karena budaya tidak cukup disimpan di museum, diposting saat hari besar, atau dijadikan dekorasi acara resmi.
Budaya harus hidup di jalan, di rumah, di sekolah, dan di cara masyarakat memperlakukan sesamanya.***













