BANDUNG — Kirab Mahkota Binokasih dan penetapan Hari Tatar Sunda setiap 18 Mei digadang sebagai kebangkitan identitas budaya. Namun di balik gegap gempita kirab, ada satu pertanyaan sederhana yang terasa “menyengat”,: sudah sejauh mana masyarakat benar-benar memahami akar sejarah Tatar Sunda?
Jawabannya, boleh jadi belum terlalu jauh. Bahkan, dalam beberapa momen, sejarah hanya tampil sebagai dekorasi cantik dilihat, minim dipahami.
Padahal, Tatar Sunda bukan sekadar panggung budaya. Ia adalah lanskap panjang peradaban yang membentang dari Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga sebagian Jawa Tengah.
Jejak kekuasaan awal di wilayah ini ditandai oleh Kerajaan Tarumanagara, salah satu kerajaan tertua di Nusantara dengan bukti prasasti yang tersebar dari Bogor hingga Banten.
Nama besar Raja Purnawarman masih menjadi simbol kejayaan awal meski ironisnya, pusat kerajaan itu sendiri hingga kini masih jadi bahan perdebatan akademik.
Lalu, sejarah berbelok di tahun 669 Masehi. Ketika Tarumanagara “berganti nama” menjadi Kerajaan Sunda di bawah Sri Maharaja Tarusbawa.
Tanggal 18 Mei 669 M itu kini diperingati sebagai Hari Tatar Sunda. Sebuah keputusan historis yang resmi diformalkan pemerintah daerah.
Namun di sinilah satirnya, kita merayakan tanggalnya, tapi sering lupa ceritanya.
Galuh, Pajajaran, dan Drama Politik Abad Lampau
Di timur, Kerajaan Galuh berdiri hampir bersamaan. Dua kekuatan ini Sunda dan Galuh akhirnya “berjodoh politik” melalui Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi.
Hasilnya? Kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaan dengan pusat di Pakuan Pajajaran.
Wilayahnya luas. Pengaruhnya besar. Dan kalau pakai bahasa hari ini branding-nya kuat.
Namun seperti banyak kisah kekuasaan, sejarah Sunda juga penuh drama:
- Perang Bubat
- Perebutan kekuasaan
- Hingga runtuhnya kerajaan akibat tekanan eksternal
Singkatnya, ini bukan dongeng kerajaan damai. Ini sejarah yang penuh konflik, strategi, dan kompromi.
Mahkota Binokasih: Simbol atau Sekadar Properti?
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake kini jadi ikon kirab budaya. Mahkota ini dulunya digunakan dalam penobatan raja-raja Sunda dan dibuat di Kerajaan Galuh.
Saat ini disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang.
Maknanya dalam, kasih sayang, kepemimpinan, dan nilai luhur.
Tapi di era modern, mahkota ini juga punya “fungsi baru” yakni konten visual yang estetik, Instagramable, dan viral-ready.
Dari Cirebon ke Banten: Politik, Agama, dan Perebutan Kuasa
Sejarah Tatar Sunda tak berhenti di Pajajaran.
Kerajaan Cirebon muncul, lalu berkembang menjadi kesultanan di bawah Sunan Gunung Jati. Dari sini lahir Kesultanan Banten yang kemudian justru menjadi pesaing utama Sunda.
Konflik demi konflik terjadi. Bahkan melibatkan kekuatan asing seperti Portugis.
Dan seperti sinetron panjang:
- kerajaan pecah
- kekuasaan terfragmentasi
- konflik internal berulang
Sejarah mengajarkan satu hal:
peradaban besar sering runtuh bukan karena musuh luar, tapi karena retak di dalam.
Sumedanglarang: Penjaga Mahkota, Penutup Bab
Saat Pajajaran runtuh pada 1579, mahkota Binokasih diselamatkan dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun di Sumedanglarang.
Di sinilah estafet simbol kekuasaan berakhir.
Setelah itu?
Kerajaan berubah jadi kabupaten. Raja turun kasta jadi bupati.
Dan sejak Indonesia merdeka, semua “raja” hanyalah pemangku budaya.
Penetapan Hari Tatar Sunda dan kirab budaya sejatinya adalah langkah penting. Tapi tanpa pemahaman yang utuh, ia berisiko jadi ritual kosong.
Budaya bukan hanya untuk dirayakan.
Ia harus dipahami, dikritisi, dan dihidupkan.
Kalau tidak, kita hanya akan mewarisi simbol… tanpa makna.
Sumber:
Dokumen “Kerajaan-Kerajaan di Tatar Sunda” oleh Prof. Dr. Nina Herlina, M.S.











