Scroll untuk baca artikel
Budaya

Bukan Festival Biasa! Sekappung Limo Mego II Siap Gegerkan Lampung Timur 28 Juni 2026

×

Bukan Festival Biasa! Sekappung Limo Mego II Siap Gegerkan Lampung Timur 28 Juni 2026

Sebarkan artikel ini
Tari Kenuy melayang khas Sekappung Limo Migo tampil dalam festival budaya Sekappung Limo Migo pada Juni 2025 lalu- foto doc

LAMPUNG TIMUR – Festival Budaya Sekappung Limo Mego Ke-2 dipastikan bakal kembali digelar lebih meriah tahun ini. Menjelang pelaksanaan yang dijadwalkan pada 28 Juni 2026 mendatang, panitia mulai memanaskan mesin koordinasi lewat rapat internal di Desa Pugung Raharjo, Kabupaten Lampung Timur.

Rapat dipimpin langsung Ketua Panitia, Ibrahim Restusaka, bersama jajaran panitia dan tim pelaksana kegiatan. Berbagai aspek teknis dibahas, mulai dari konsep acara, pengaturan lokasi, kesiapan pelayanan publik, hingga strategi menjaga festival tetap tertib namun tetap hidup dan meriah.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kalau biasanya rapat panitia identik dengan kopi dingin dan revisi rundown tanpa akhir, kali ini suasananya disebut lebih serius. Sebab festival budaya tersebut bukan sekadar hiburan tahunan, melainkan ajang menjaga identitas adat dan sejarah masyarakat Lampung Timur.

BACA JUGA :  Toko Grosir di Sekudik Leluasa Edarkan Rokok Ilegal, Negara Gigit Asap, Mereka Hisap Untung?

Dalam arahannya, Ibrahim menekankan pentingnya solidaritas dan semangat gotong royong seluruh panitia agar festival berjalan sukses dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

“Semoga solidaritas dan semangat teman-teman panitia tetap terjaga sehingga kegiatan ini dapat berjalan sukses dan menjadi kebanggaan budaya Sekappung Limo Mego untuk kita semua,” ujarnya, Selasa (12/5).

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa festival budaya hari ini tidak lagi cukup hanya menampilkan tari tradisional dan panggung seremonial. Tantangan terbesar justru bagaimana budaya tetap relevan di tengah era digital ketika generasi muda lebih hafal tren TikTok daripada sejarah tiyuh leluhur mereka sendiri.

Menariknya, Festival Budaya Sekappung Limo Mego Ke-2 tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan adat istiadat. Panitia juga menyiapkan layanan administrasi pemerintahan dan kesehatan bagi masyarakat yang hadir.

Artinya, warga tidak cuma bisa menikmati kuliner khas Lampung dan pertunjukan budaya, tetapi juga mengurus pelayanan publik secara langsung.

Konsep ini dianggap sebagai cara baru mendekatkan pelayanan kepada masyarakat lewat pendekatan budaya. Jadi warga datang bukan hanya untuk menonton pentas adat, tetapi bisa sekalian mengurus administrasi tanpa harus bolak-balik kantor pelayanan.

Dalam bahasa sederhana, datang nonton budaya, pulang bawa dokumen selesai.

Angkat Sejarah Enam Tiyuh Tua di Pugung Raharjo

Festival ini juga menjadi momentum memperkenalkan kekayaan sejarah kawasan Taman Wisata Nasional Purbakala Lampung yang dikenal memiliki jejak budaya dan adat kuat di wilayah Pugung Raharjo.

Kawasan tersebut menyimpan sejarah enam tiyuh atau kampung tua yang menjadi bagian penting identitas masyarakat adat Sekappung Limo Mego, yakni:

  • Desa Gunung Sugih Besar
  • Gunung Raya
  • Peniangan
  • Batu Badak
  • Toba
  • Bojong

Panitia berharap festival ini dapat menjadi sarana promosi wisata sejarah sekaligus memperkuat posisi Lampung Timur sebagai daerah yang tidak hanya kaya destinasi alam, tetapi juga memiliki warisan budaya yang masih hidup.

Di tengah arus modernisasi dan budaya instan media sosial, keberadaan festival seperti Sekappung Limo Mego menjadi penting untuk menjaga nilai-nilai adat tetap dikenal generasi muda.

Sebab budaya yang tidak dirawat perlahan bisa berubah hanya menjadi nama jalan, simbol acara tahunan, atau sekadar bahan pidato seremoni.

Karena itu, Festival Budaya Sekappung Limo Mego Ke-2 diharapkan bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang memperkuat identitas, solidaritas masyarakat, dan kebanggaan terhadap akar budaya Lampung.

Dan di tengah zaman ketika semuanya serba viral dan cepat lewat, menjaga budaya tetap hidup mungkin menjadi bentuk “perlawanan paling elegan” yang masih dimiliki daerah.***