Scroll untuk baca artikel
Opini

Gajah Mati, Politik Menari: Ironi Kedatangan Jokowi dan Pesan Sunyi dari Way Kambas

×

Gajah Mati, Politik Menari: Ironi Kedatangan Jokowi dan Pesan Sunyi dari Way Kambas

Sebarkan artikel ini
Gajah Indra, gajah jantan berusia 42 tahun yang selama lebih dari tiga dekade mengabdi untuk konservasi Gajah Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), mati pada Senin (22/6/2026). Kepergian sang "penjaga hutan" menjadi kehilangan besar bagi upaya konservasi satwa liar di Lampung. - foto dok ist

WawaiNEWS.ID – Ada ironi yang sulit diabaikan di Lampung Timur pekan ini.

Di satu sisi, Presiden RI ke-7 Joko Widodo bersiap melakukan safari politik untuk membantu Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang kini identik dengan simbol gajah. Di sisi lain, Taman Nasional Way Kambas justru sedang berkabung karena kehilangan salah satu gajah terbaiknya, Indra, sang legenda konservasi yang mengabdikan hidupnya selama lebih dari tiga dekade.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Indra bukan gajah dalam logo, bukan gajah dalam baliho, bukan gajah dalam strategi elektoral.

Tentu, kematian Gajah Indra dan agenda politik Jokowi tidak memiliki hubungan sebab akibat. Namun politik kerap hidup dari simbol dan momentum. Dan terkadang, alam menghadirkan simbolismenya sendiri.

BACA JUGA :  Ketidaknetralan Aparat

Ketika para elite sibuk berbicara tentang memperbesar partai berlambang gajah, seekor gajah sesungguhnya justru pergi meninggalkan dunia dalam kesunyian.

Gajah Indra tidak pernah berkampanye. Ia tidak pernah meminta jabatan, tidak pernah memasang baliho, dan tidak pernah berpidato. Namun selama hidupnya, ia menjaga hutan, membantu menyelamatkan konflik satwa dan manusia, serta menjadi bagian penting dari sejarah konservasi di Lampung.

Pengabdiannya berlangsung lebih lama dibanding umur sebagian partai politik di negeri ini.

Di saat politik nasional sedang mencari panggung baru, kematian Indra seolah menjadi pengingat bahwa ada nilai-nilai pengabdian yang jauh lebih besar daripada sekadar perebutan suara dan kekuasaan.

BACA JUGA :  Tri Adhianto: Aspal 5 Meter Jangan Tunggu Musrenbang, Bisa Beres dengan Rp100 Juta Hibah RW

Safari politik Jokowi ke daerah tentu merupakan hak politik seorang mantan presiden. Tidak ada yang salah ketika ia memilih membantu PSI sebagaimana janjinya saat Kongres PSI di Solo. Dalam demokrasi, dukungan politik adalah hal yang sah.

Namun ada pertanyaan yang layak diajukan.

Apakah energi politik nasional saat ini benar-benar diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan rakyat, memperbaiki tata kelola lingkungan, dan menyelamatkan konservasi, atau hanya sekadar mengurus regenerasi kekuatan politik dan perebutan pengaruh?

Way Kambas sesungguhnya memberi pelajaran yang sederhana.

Seekor gajah yang telah mengabdi puluhan tahun pergi dalam kesunyian. Tidak ada panggung, tidak ada tepuk tangan, tidak ada spanduk ucapan selamat.

Tetapi jasa dan jejaknya akan dikenang lebih lama daripada hiruk-pikuk politik yang datang dan pergi setiap musim pemilu.

BACA JUGA :  Pujawati Dudonan ke-61: Kota Bekasi, Ritual, dan Retorika Kerukunan

Mungkin inilah pesan yang ditinggalkan Indra kepada kita semua: bahwa pengabdian sejati tidak selalu hadir di atas panggung kekuasaan. Ia justru lahir dari kerja panjang, ketulusan, dan kesediaan menjaga sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.

Dan di tengah riuhnya safari politik, Way Kambas sedang mengingatkan bangsa ini bahwa seekor gajah yang mati karena mengabdi bisa menjadi cermin bagi para politisi yang masih hidup dan berebut pengaruh.

Selamat jalan, Indra.
Penjaga hutan itu telah pergi, tetapi pesan moralnya tetap tinggal.
***

Tajuk Redaksi