Scroll untuk baca artikel
Lampung

4 Hari Terapung Tanpa Kepastian! KMP Mutiara Persada 3 Mati Mesin di Tengah Laut, Penumpang: “Kami Seperti Ditinggal di Laut”

×

4 Hari Terapung Tanpa Kepastian! KMP Mutiara Persada 3 Mati Mesin di Tengah Laut, Penumpang: “Kami Seperti Ditinggal di Laut”

Sebarkan artikel ini
Ratusan penumpang KMP Mutiara Persada 3 dalam situasi memprihatinkan setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami mati mesin total dan terombang-ambing di perairan Kalianda, Lampung, sejak Kamis (14/5/2026). - foto SC

LAMPUNG – Ratusan penumpang KMP Mutiara Persada 3 kini berada dalam situasi memprihatinkan setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami mati mesin total dan terombang-ambing di perairan Kalianda, Lampung, sejak Kamis (14/5/2026).

Sudah empat hari berlalu, namun hingga Minggu (17/5/2026), para penumpang mengaku belum mendapatkan kepastian evakuasi maupun penjelasan memadai dari pihak operator kapal, PT Atosim Lampung Pelayaran.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Yang tersisa di atas kapal hanyalah kecemasan, stok logistik yang menipis, dan janji evakuasi yang disebut penumpang datang lalu menghilang seperti sinyal di tengah laut.

Berdasarkan kesaksian penumpang, persoalan sebenarnya sudah dimulai sejak proses keberangkatan. Kapal yang dijadwalkan berlayar dari Pelabuhan Cigading pada Rabu pagi pukul 08.00 WIB mengalami penundaan panjang.

Proses muat kendaraan baru dilakukan malam hari sekitar pukul 21.00 WIB. Kapal akhirnya bertolak pada Kamis dini hari sekitar pukul 04.30 WIB menuju Pelabuhan Panjang, Lampung.

BACA JUGA :  Kapal Barang Tenggelam di Kepulauan Seribu, Nelayan Lampung Selatan Panen Rokok

Namun baru beberapa jam berlayar, mesin kapal dilaporkan mati total sekitar pukul 08.00 WIB.

“Saat kami tanya ke kru, katanya mesin rusak berat. Sempat dijanjikan akan diderek ke Pelabuhan Panjang, tapi sampai sekarang tidak ada tindakan. Kami seperti dibiarkan di tengah laut,” ujar Dedi Kurniadi (53), salah satu sopir logistik yang ikut terjebak di kapal.

Menurut data manifest, terdapat sekitar 175 penumpang di atas kapal yang terdiri dari sopir dan kernet kendaraan logistik.

Selain penumpang, sekitar 110 unit kendaraan juga ikut tertahan di kapal.

Situasi di atas kapal kini disebut semakin kritis. Persediaan makanan, air bersih, dan fasilitas dasar mulai terbatas setelah penumpang bertahan berhari-hari tanpa kepastian.

Bahkan untuk memasak air, sebagian penumpang terpaksa menggunakan kayu bakar seadanya di atas kapal.

Ironinya, di tengah era modernisasi transportasi laut dan slogan konektivitas nasional, para penumpang justru harus bertahan seperti kapal karam mini mengandalkan solidaritas sesama penumpang sambil menunggu bantuan yang tak kunjung terlihat.

BACA JUGA :  Waykanan, Anggarkan Intensif Bagi Babinsa dan Bhabinkamtibmas

Herman Taufik Amrullah, penumpang lainnya, mengaku kondisi konsumsi yang diberikan kepada penumpang jauh dari layak.

“Sampai sekarang belum ada tindakan yang jelas. Makanan juga sangat tidak layak, tapi demi bertahan kami makan seadanya,” katanya melalui video yang dikirim dari atas kapal.

Bagi para sopir logistik, keterlambatan ini bukan sekadar soal waktu tempuh. Banyak dari mereka kini dihantui ancaman sanksi perusahaan akibat keterlambatan pengiriman barang.

Dedi, yang membawa armada logistik Bahtera Surya Cargo, mengaku khawatir terhadap nasib pekerjaannya.

“Bagaimanapun saya harus mempertanggungjawabkan barang yang saya bawa. Padahal keterlambatan ini murni karena kapal rusak. Saya sangat cemas,” ujarnya.

Keterlambatan distribusi logistik juga berpotensi memicu kerusakan barang, terutama untuk muatan pangan dan kebutuhan publik lainnya. Sementara biaya operasional harian terus berjalan meski kendaraan tidak bergerak.

BACA JUGA :  Ombudsman Lampung Sebut Tiga Pengaduan Terkait CPNS Lolos Seleksi

Yang membuat penumpang semakin frustrasi adalah minimnya kepastian informasi.

Menurut mereka, sempat ada janji armada penarik akan datang untuk mengevakuasi kapal menuju Pelabuhan Panjang. Namun hingga hari keempat, bantuan tersebut belum juga muncul.

“Katanya kemarin mau dijemput, katanya mau ada kapal penarik. Sampai sekarang tidak ada kabar lagi,” ungkap salah satu penumpang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi rinci dari pihak operator kapal terkait penyebab kerusakan, proses evakuasi, maupun estimasi penyelamatan penumpang.

Para penumpang mendesak otoritas pelayaran, KSOP, Basarnas, hingga pemerintah daerah segera turun tangan sebelum kondisi kesehatan dan keselamatan penumpang semakin memburuk.

Sebab di tengah laut yang terus bergelombang itu, bukan hanya mesin kapal yang mati. Kesabaran para penumpang pun perlahan mulai kehabisan bahan bakar.***