Scroll untuk baca artikel
Opini

Trump, Xi, dan Dunia yang Diam-Diam Dikuasai Korporasi

×

Trump, Xi, dan Dunia yang Diam-Diam Dikuasai Korporasi

Sebarkan artikel ini
Bobby Ciputra Ketua AMSI (Angkatan Muda Sosialis Indonesia)

Ketika Diplomasi Negara Berubah Menjadi Rapat Direksi Global

Oleh: Bobby Ciputra

WawaiNEWS.ID – Pertanyaan paling penting dalam politik global hari ini mungkin bukan lagi siapa presiden paling kuat di dunia. Pertanyaan sesungguhnya adalah: siapa yang sebenarnya mengendalikan keputusan para presiden itu?

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Negara?
Pasar?
Atau segelintir elite korporasi global yang bekerja sunyi di belakang layar?

Kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing pada 15 Mei 2026 bersama Presiden Xi Jinping memberi petunjuk yang semakin terang: dunia sedang bergerak menuju era baru, ketika diplomasi antarnegara perlahan berubah menjadi diplomasi antar-korporasi.

Pertemuan itu tampak seperti kunjungan kenegaraan biasa. Ada karpet merah, protokol diplomatik, dan pidato resmi. Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, yang hadir bukan hanya pejabat negara. Trump membawa rombongan CEO raksasa teknologi, keuangan, dan industri Amerika Serikat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di satu sisi ada Elon Musk, Tim Cook, Jensen Huang, hingga pimpinan Boeing, Qualcomm, dan Micron.
Di sisi lain ada para penguasa modal global seperti Larry Fink, Stephen Schwarzman, hingga pimpinan Goldman Sachs, Citigroup, Visa, dan Mastercard.

BACA JUGA :  Membaca Sosok Zohran Mamdani: Gelombang Baru atau Eksperimen Berisiko di Kota New York?

Ini bukan delegasi diplomatik biasa. Ini menyerupai “sidang kabinet kapitalisme global”.

Trump tampaknya memahami satu hal yang mulai diabaikan banyak negara: di abad ke-21, pengaruh geopolitik tidak lagi hanya lahir dari tank, rudal, atau kapal induk. Kekuasaan modern kini lahir dari chip AI, data, rantai pasok baterai, investasi global, dan penguasaan teknologi.

Dan semua itu berada di tangan korporasi.

Negara Menjadi Broker Kepentingan Pasar

Dalam model lama, negara mengendalikan pasar. Pemerintah menetapkan aturan, korporasi mengikuti.

Namun dalam model baru yang dipertontonkan Trump di Beijing, hubungan itu mulai terbalik. Negara dan korporasi kini bergerak sebagai satu paket kepentingan.

Trump menggunakan CEO-CEO besar sebagai instrumen negosiasi. Mereka bukan sekadar pengusaha yang ikut rombongan presiden. Mereka adalah alat tawar diplomatik.

BACA JUGA :  Tahun 2025: Menyongsong Harapan

Ketika Amerika berbicara soal pembatasan AI, semikonduktor, rare earth, atau rantai pasok global kepada China, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan sekadar keamanan nasional. Yang sedang dipertaruhkan adalah profit industri teknologi bernilai triliunan dolar.

Diplomasi hari ini bukan lagi sekadar soal ideologi. Diplomasi berubah menjadi negosiasi saham, akses pasar, dan stabilitas investasi.

Dan inilah wajah baru kapitalisme geopolitik.

Scott Bessent dan Politik yang Dikendalikan Ahli Pasar

Di balik sorotan kamera kepada Trump dan Xi, ada satu nama yang justru paling menarik: Scott Bessent.

Namanya mungkin tidak sepopuler Elon Musk atau Marco Rubio. Tetapi justru figur seperti Bessent yang menunjukkan bagaimana dunia modern bekerja.

Bessent bukan diplomat karier. Ia lahir dari dunia hedge fund dan pasar modal. Ia dikenal sebagai tangan kanan George Soros dalam berbagai operasi finansial besar dunia.

Ia disebut terlibat dalam strategi Black Wednesday 1992 yang mengguncang pound sterling Inggris, hingga permainan besar terhadap yen Jepang pada 2013.

BACA JUGA :  Dharma dan Karma Prabowo

Artinya sederhana: orang-orang yang dulu menggerakkan pasar global kini mulai menggerakkan arah diplomasi global.

Dan itu berbahaya sekaligus menarik.

Berbahaya karena keputusan geopolitik bisa semakin tunduk pada logika profit. Menarik karena negara modern kini mengakui secara terbuka bahwa ekonomi adalah senjata utama abad ini.

Trump tampaknya sadar bahwa perang modern terlalu mahal jika hanya mengandalkan militer. Maka ia membawa Wall Street, Silicon Valley, dan korporasi global langsung ke meja diplomasi.

China dan Amerika Tidak Sedang Berperang. Mereka Sedang Bernegosiasi Soal Siapa Pemilik Masa Depan

Narasi “Perang Dingin Baru” antara AS dan China sering kali menyesatkan.

Yang terjadi sebenarnya bukan perang total. Yang terjadi adalah negosiasi keras antar dua raksasa ekonomi yang sama-sama saling membutuhkan.

Amerika membutuhkan manufaktur dan rare earth China. China membutuhkan teknologi, pasar, dan stabilitas keuangan global yang masih dikuasai Barat.