Scroll untuk baca artikel
Lampung

“Rungkat!”: Lima Hari Terapung di Selat Sunda, Penumpang KMP Mutiara Persada III Akhirnya Sandar

×

“Rungkat!”: Lima Hari Terapung di Selat Sunda, Penumpang KMP Mutiara Persada III Akhirnya Sandar

Sebarkan artikel ini
Berdasarkan data yang dihimpun, kapal milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) itu mengangkut sekitar 179 penumpang beserta puluhan kendaraan logistik, terdiri dari truk Golongan V B, VI B, hingga VII B dengan berbagai jenis muatan.Gangguan mesin mulai terjadi setelah kapal bertolak dari Pelabuhan Cigading pada Kamis (14/5/2026) sekitar pukul 04.15 WIB.- foto doc

BANDARLAMPUNG — Teriakan lega bercampur emosi pecah di Pelabuhan Panjang, Kota Bandarlampung, Senin (18/5/2026). Setelah lima hari terkatung-katung di perairan Selat Sunda akibat mesin kapal rusak, ratusan penumpang KMP Mutiara Persada III akhirnya bisa menginjak daratan.

Namun sandarnya kapal bukan akhir dari drama. Para sopir dan kernet truk yang mendominasi penumpang nyaris menggelar aksi protes di pelabuhan karena merasa terlantar selama berhari-hari di tengah laut tanpa kepastian. Mereka mengeluhkan minimnya logistik, lambannya penanganan, hingga janji-janji pengelola kapal yang dinilai tak sesuai kenyataan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Situasi baru mereda setelah manajemen PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) memenuhi tuntutan kompensasi para penumpang. Usai menerima ganti rugi, kendaraan logistik mulai keluar satu per satu dari area pelabuhan dengan pengawalan aparat kepolisian.

Satu kata paling banyak terdengar dari mulut para penumpang saat tiba di darat ialah: “Rungkat!” ungkapan lega setelah melewati penderitaan panjang di atas kapal mogok.

KMP Mutiara Persada III diketahui berlayar dari Pelabuhan Cigading, Banten, menuju Pelabuhan Panjang, Lampung, membawa sekitar 179 penumpang dan lebih dari 110 kendaraan logistik.

BACA JUGA :  Hujan Deras, Pohon Tumbang Timpa Tiang Listrik di Bukit Kemuning

Perjalanan bermasalah sejak awal. Penumpang mengaku sudah naik kapal sejak Rabu (13/5/2026) pagi, tetapi kapal baru meninggalkan dermaga pada Kamis dini hari sekitar pukul 04.15 WIB setelah mengalami keterlambatan panjang.

Belum lima jam berlayar, mesin utama kapal mendadak mengalami gangguan saat melintas di sekitar perairan Lampung Selatan dekat Pulau Sebuku. Kapal sempat diperbaiki dan kembali bergerak, namun kerusakan kembali terjadi hingga kapal akhirnya hanya terapung-apung di tengah laut selama berhari-hari.

Kasubdit Patroli Airud Polda Banten Kompol Lis Handaya mengatakan pihaknya menerima laporan gangguan mesin sekitar pukul 09.00 WIB.

“Setelah menerima informasi itu, KN GOLOK-P.206 langsung menjalankan operasi SAR dan evakuasi penumpang sebagai bentuk keselamatan pelayaran,” ujarnya.

Selama berada di tengah laut, kondisi penumpang disebut makin memprihatinkan. Persediaan makanan dan air bersih mulai menipis. Beberapa penumpang mengaku awalnya hanya mendapat jatah makan dua kali sehari, bahkan sempat hanya sekali sehari sebelum kejadian itu viral di media sosial.

BACA JUGA :  “Mudik Lebaran 2026: Cuaca Ekstrem Selat Sunda Diwaspadai, ASDP Perketat Keselamatan Penyeberangan Merak–Bakauheni”

Sebagian penumpang terpaksa memasak air menggunakan kayu seadanya di bawah meja kapal agar api tidak terkena hujan. Suasana di atas kapal berubah seperti pos darurat terapung.

“Awalnya makan cuma dua kali sehari. Setelah ramai dan viral, baru jadi tiga kali,” kata salah seorang penumpang, Momo.

Keluhan paling besar datang dari para sopir truk logistik yang khawatir pengiriman barang mengalami keterlambatan dan memicu kerugian besar.

“Bagaimanapun saya harus bertanggung jawab terhadap barang yang saya bawa ke perusahaan. Tapi kondisi ini membuat kami sangat dirugikan,” ujar Dedi Kurniadi (53), salah seorang sopir.

Kekecewaan penumpang juga terekam dalam sejumlah video yang beredar luas di media sosial. Dalam video itu, para penumpang terlihat mendatangi ruang kemudi dan meminta penjelasan kru kapal terkait kepastian evakuasi maupun perbaikan mesin.

Lambannya penanganan kapal yang terombang-ambing hingga lima hari memicu sorotan publik. Banyak pihak mempertanyakan standar keselamatan dan kesiapan armada pelayaran di jalur logistik vital Selat Sunda.

BACA JUGA :  Mantan Camat Sekampung Udik dan Kades Gunung Agung jadi tersangka dugaan mafia tanah di Malangsari

Di tengah situasi tersebut, aparat gabungan akhirnya mengevakuasi sebagian penumpang menggunakan Kapal Negara KN GOLOK-P.206 milik Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Kelas I Tanjung Priok. Sebanyak 28 penumpang berhasil dibawa ke Pelabuhan Panjang dalam keadaan selamat.

Mayoritas penumpang lainnya memilih tetap bertahan di atas kapal sambil menunggu proses perbaikan mesin selesai.

Harapan baru muncul pada Minggu (17/5/2026) ketika mesin kapal akhirnya berhasil diperbaiki dan kapal kembali melanjutkan pelayaran menuju Lampung.

“Alhamdulillah kapal sudah diperbaiki dan sekarang kembali jalan menuju Pelabuhan Panjang,” ujar salah seorang penumpang, Herman Taufik Amrullah.

Meski seluruh penumpang akhirnya selamat dan kapal berhasil sandar, pengalaman lima hari lima malam tanpa kepastian di tengah laut menjadi catatan pahit bagi para sopir logistik dan penumpang lainnya.

Bagi mereka, ombak besar mungkin hal biasa di laut. Tetapi terkatung-katung bersama mesin rusak, logistik minim, dan janji tanpa kepastian adalah pelayaran yang tidak ingin diulang lagi.***