Scroll untuk baca artikel
PendidikanZona Bekasi

SPMB Kota Bekasi 2026 Tuntas, Warga Minta Orang Tua Legawa: Jangan Terjebak Mitos Sekolah Favorit

×

SPMB Kota Bekasi 2026 Tuntas, Warga Minta Orang Tua Legawa: Jangan Terjebak Mitos Sekolah Favorit

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi SPMB

KOTA BEKASI – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Kota Bekasi 2026 telah resmi berakhir. Kini, perhatian para orang tua beralih pada persiapan memasuki tahun ajaran baru, mulai dari membeli seragam, perlengkapan sekolah hingga menyiapkan kebutuhan belajar anak.

Di balik selesainya proses penerimaan siswa baru, masih muncul berbagai dinamika, terutama terkait keterbatasan daya tampung SMP Negeri yang belum mampu mengakomodasi seluruh lulusan SD di Kota Bekasi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menanggapi hal tersebut, Ahmat Juaini, warga Kota Bekasi, mengajak masyarakat menyikapi hasil SPMB secara bijak dan tidak menjadikan kegagalan masuk sekolah negeri sebagai akhir dari perjalanan pendidikan anak.

“Alhamdulillah, pelaksanaan SPMB tahun ini sudah selesai. Menurut saya pelaksanaannya semakin baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kalau bicara sempurna tentu tidak ada, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Yang terpenting setiap tahun selalu ada perbaikan,” ujar Ahmat Juaini.

BACA JUGA :  “Lebaran Bekasi II: Panggung Budaya Betawi dan Pesta Kuliner yang Menyatukan Warga”

Menurut Ahmat, persoalan utama dalam penerimaan siswa baru bukan terletak pada sistem yang diterapkan, melainkan ketidakseimbangan antara jumlah lulusan SD dengan kapasitas SMP Negeri yang tersedia di Kota Bekasi.

Setiap tahun jumlah lulusan sekolah dasar terus meningkat, sementara jumlah sekolah negeri dan tenaga pendidik belum bertambah secara signifikan. Bahkan, banyak guru yang memasuki masa pensiun sehingga turut memengaruhi kapasitas layanan pendidikan.

“Kita harus memahami bahwa jumlah lulusan SD jauh lebih banyak dibandingkan daya tampung SMP Negeri. Jadi memang tidak mungkin semuanya bisa diterima di sekolah negeri,” katanya.

AJ juga mengingatkan para orang tua agar tidak hanya berfokus pada satu sekolah yang dianggap favorit atau mengikuti keinginan anak karena ingin bersekolah bersama teman-temannya.

Menurutnya, pola pikir seperti itu justru membuat persaingan semakin tinggi di sekolah tertentu.

“Kalau sekolah yang dekat rumah penuh, jangan ragu memilih sekolah lain yang sedikit lebih jauh. Sekarang akses transportasi sudah jauh lebih baik. Yang penting anak tetap mendapatkan pendidikan,” ujarnya.

BACA JUGA :  Organda Himbau Pengemudi Patuhi Aturan Protokol Normal Baru

Dengan sedikit sentuhan satire, Ahmat mengatakan bahwa terkadang yang lebih sulit menerima kenyataan bukan anaknya, melainkan orang tuanya.

“Kadang anak sebenarnya siap sekolah di mana saja, tetapi orang tua masih terpaku pada label sekolah favorit. Padahal di sekolah baru anak juga akan mendapatkan teman-teman baru dan pengalaman yang baru.”

AJ mengaku pernah merasakan bersekolah dengan jarak yang cukup jauh dari rumah.

Saat SMP, ia harus menempuh perjalanan sekitar enam kilometer. Bahkan ketika SMA, jaraknya mencapai sekitar 15 kilometer dan harus menggunakan angkutan umum.

“Jarak bukan penghalang untuk belajar. Yang penting kemauan anak dan dukungan orang tua,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Ahmat Juaini juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bekasi, khususnya Plt Kepala Dinas Pendidikan, beserta seluruh jajaran yang telah bekerja keras menyelenggarakan SPMB tahun ini.

BACA JUGA :  Sosialisasi Empat Pilar, Teh Ade Ajak Pelajar Kota Bekasi

Ia menilai Wali Kota Bekasi dan Wakil Wali Kota juga menunjukkan komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Kota Bekasi.

“Menurut saya pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin. Memang belum bisa disebut yang terbaik di Indonesia atau Jawa Barat, tetapi pelaksanaannya sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Semoga setiap tahun terus disempurnakan,” katanya.

AJ berharap polemik SPMB tidak terus berlarut dan masyarakat dapat menerima hasil seleksi dengan lapang dada.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh status sekolah negeri atau swasta, melainkan oleh semangat belajar siswa, dukungan keluarga, kualitas guru, dan lingkungan yang positif.

“Yang terpenting sekarang adalah mendukung anak agar tetap semangat belajar. Sekolah hanyalah tempat menuntut ilmu, sedangkan masa depan ditentukan oleh kerja keras dan karakter anak itu sendiri,” pungkasnya.***