JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, ada “perang” yang tak banyak disadari warga. Bukan soal macet atau banjir, melainkan pertempuran melawan makhluk bawah air yakni ikan sapu-sapu. Di aliran Kali Ciliwung hingga Kali Cideng, operasi penangkapan digelar dan hasilnya cukup mencengangkan.
Di kawasan Menteng, tepatnya di depan Plaza Indonesia, sekitar 100 petugas gabungan turun tangan. Targetnya bukan kriminal, melainkan 41 ekor ikan sapu-sapu berukuran jumbo yang selama ini diam-diam “menjajah” sungai Jakarta.
Invasi terhadap ikan sapu-sapu di DKI Jakarta, atau yang dikenal sebagai suckermouth catfish (pleco), telah berlangsung beberapa hari terakhir dan cukup mencuri perhatian publik.
Diketahui bahwa sejatinya ikan tersebut bukan penduduk asli Indonesia. Ia datang dari Amerika Selatan, lalu berkembang jadi “penguasa baru” di perairan kotor tempat yang justru dihindari banyak spesies lain.
Masalahnya, ikan ini bukan sekadar numpang lewat. Ia membawa “paket lengkap” masalah:
- Mengganggu keseimbangan ekosistem
- Mengalahkan ikan lokal dalam perebutan makanan
- Tidak punya predator alami
- Gemar menggali sarang yang merusak tebing sungai
Singkatnya: kecil-kecil, tapi bikin repot satu kota.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Gema Wahyu Dewantoro, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu sudah masuk kategori spesies invasif sesuai regulasi pemerintah.
“Ikan ini mencemari perairan karena reproduksinya tinggi dan sifatnya merusak,” ujarnya sebagaimana dilansir Wawai News, Kamis 16 April 2026.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ikan ini diduga mengandung logam berat. Artinya, bukan cuma berbahaya bagi ekosistem, tapi juga berisiko bagi manusia jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Senada, peneliti BRIN lainnya, Haryono, menyebut populasi ikan ini sudah “kelewat nyaman” di perairan Indonesia.
“Ia menggeser ikan lokal dan merusak habitat. Bahkan bisa membahayakan kesehatan manusia,” katanya.
Menariknya, “perang” ini tidak hanya dilakukan pemerintah. Aksi ini justru berawal dari warga yang resah melihat dominasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung.
Dari situ, gerakan meluas:
- Masyarakat turun langsung menjaring ikan
- Petugas pemerintah ikut terlibat
- Bahkan unsur TNI ikut membantu
Media sosial pun jadi panggung video penangkapan ikan sapu-sapu viral, seolah jadi “reality show” baru: Survivor: Ciliwung Edition.
Strategi Perang: Tangkap, Tangkap, dan Tangkap Lagi
Menurut para ahli, ada tiga cara mengendalikan spesies invasif:
- Biologis
- Kimiawi
- Manual
Namun, metode paling aman adalah cara klasik: ditangkap langsung.
“Harus dilakukan secara intensif dan periodik agar populasinya terus menurun,” jelas Haryono.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, terang-terangan mendukung operasi ini.
Ia menilai penangkapan massal perlu dilakukan demi menyelamatkan ekosistem sungai Jakarta yang kian terdesak.
“Saya setuju dilakukan secara masif untuk mengurangi ikan sapu-sapu,” ujarnya.
Ironisnya, di saat manusia sering kalah dengan polusi dan lingkungan kotor, ikan sapu-sapu justru berkembang pesat di kondisi tersebut. Seolah-olah mereka berkata: “Air kotor? Ini rumah kami.”
Namun kini, Jakarta mulai melawan.
Bukan dengan teknologi canggih, tapi dengan jaring, tenaga, dan kesadaran bersama. Karena kadang, untuk mengalahkan invasi, yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan tapi juga gotong royong.













