Scroll untuk baca artikel
Head LineTANGGAMUS

DUH! Gedung Koperasi Desa Merah Putih di Tanggamus Dibangun di Lahan Pemakaman Swadaya Warga?

×

DUH! Gedung Koperasi Desa Merah Putih di Tanggamus Dibangun di Lahan Pemakaman Swadaya Warga?

Sebarkan artikel ini
Penampakan gedung KDMP di Pekon Landbaw, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Bakal gedung koperasi desa ini disebut dibangun diatas tanah yang dibeli warga dari hasil swadaya masyarakat demi kebutuhan pemakaman warga, Kamis (7/5) - foto doc SMN

TANGGAMUS — Pembangunan Gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mencuat di Pekon Landbaw, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus menjadi sorotan. Warga mempertanyakan penggunaan lahan yang disebut-sebut merupakan tanah pemakaman hasil swadaya masyarakat, namun kini justru dibangun gedung koperasi desa.

Lahan tersebut, menurut pengakuan sejumlah warga, dibeli sekitar tiga tahun lalu melalui iuran masyarakat karena area pemakaman lama di pekon sudah penuh dan tidak lagi mampu menampung jenazah warga. Tapi, sekarang diatas lahan swadaya itu bakal ada gedung koperasi merah putih.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Tanah itu dibeli khusus untuk makam warga. Kami patungan sekitar Rp400 ribu per kepala keluarga waktu itu,” ujar salah satu warga kepada wartawan.

Warga menyebut lahan seluas kurang lebih satu hektare tersebut dibeli dengan dana swadaya masyarakat hingga mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan, area itu disebut dipersiapkan untuk kebutuhan pemakaman warga lintas agama, termasuk sebagian untuk pemakaman nonmuslim.

BACA JUGA :  Kejari Tanggamus Bongkar Dugaan “Aroma Aneh” Proyek Jalan Miliaran, Pejabat Kunci Mulai Diperiksa

Namun belakangan, sebagian area tersebut berubah fungsi menjadi lokasi pembangunan Gedung Koperasi Desa Merah Putih. Kondisi itu memicu keresahan warga karena dinilai tidak sesuai dengan tujuan awal pengadaan tanah.

“Yang membuat kecewa, itu tanah hasil gotong royong masyarakat. Bukan aset pemerintah atau tanah terlantar,” kata warga lainnya.

Selain soal status lahan, lokasi pembangunan gedung koperasi juga dipersoalkan karena dianggap kurang strategis. Letaknya dinilai jauh dari pusat aktivitas masyarakat dan akses jalannya masih sulit dilalui, terutama saat musim hujan.

Lokasi tersebut dikatakan berjarak kurang lebih 700 meteran dari pemukiman warga. Gedung koperasi tersebut jika jadi nanti maka akan dikelilingi areal perkebunan warga dan tentu saja areal pemakaman.

BACA JUGA :  Air Sungai Jadi Teh Harian, Nelayan di Lampung Timur Belajar Bertahan di Tengah Krisis

Warga mengaku selama ini harus bergotong royong memperbaiki akses jalan menuju area tersebut menggunakan batu sabes agar kendaraan pembawa jenazah dapat melintas.

“Kami swadaya memperbaiki jalan supaya mobil pembawa jenazah bisa masuk. Kalau hujan sering susah dilewati,” ungkap warga seraya berseloroh nanti yang datang ke KDMP siapa jika dibangun diatas lahan pemakaman.

Situasi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait dasar penetapan lokasi pembangunan KDMP. Warga berharap pemerintah pekon maupun pihak terkait memberikan penjelasan secara terbuka mengenai status lahan dan proses pengambilan keputusan pembangunan gedung koperasi tersebut.

Bagi masyarakat Landbaw, persoalan ini bukan sekadar sengketa lokasi pembangunan. Mereka menilai ada nilai gotong royong, kepentingan sosial, dan rasa kemanusiaan yang melekat pada lahan tersebut sejak awal dibeli bersama-sama.

BACA JUGA :  Proyek Bronjong Tanggamus Rasa Tahu Sumedang: Luarnya Keras, Dalamnya Kopong?

“Kalau nanti benar jadi area pemakaman, lalu di sampingnya berdiri gedung koperasi, tentu akan jadi pemandangan yang janggal juga,” ujar seorang warga dengan nada heran.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak pemerintah pekon terkait polemik tersebut. Warga berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara musyawarah dan transparan agar tidak menimbulkan konflik sosial berkepanjangan di tengah masyarakat.

Di tengah semangat pembangunan desa dan penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi, warga mengingatkan bahwa pembangunan seharusnya tetap berpijak pada aspirasi masyarakat serta menghormati tujuan awal aset yang dibangun dari hasil swadaya bersama.***