Scroll untuk baca artikel
Opini

Nasionalisme Bung Karno Jangan Hanya Jadi Materi Upacara: Ketika Merah Putih Berkibar, Tapi Persatuan Mulai Ditawar

×

Nasionalisme Bung Karno Jangan Hanya Jadi Materi Upacara: Ketika Merah Putih Berkibar, Tapi Persatuan Mulai Ditawar

Sebarkan artikel ini

Padahal Bung Karno justru membangun Indonesia dari keberagaman.

Perbedaan bukan ancaman.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Perbedaan adalah kekuatan.

Musyawarah bukan kelemahan.

Melainkan fondasi demokrasi Indonesia.

Karena itu demokrasi yang sehat seharusnya mempertemukan gagasan.

Bukan mempertemukan kebencian.

Tantangan Nasionalisme di Era Digital

Hari ini Indonesia menghadapi tantangan yang bahkan tidak pernah dibayangkan Bung Karno.

Media sosial mampu menyebarkan kebencian hanya dalam hitungan detik.

Hoaks lebih cepat daripada klarifikasi.

Fitnah lebih viral daripada fakta.

Algoritma lebih sering mempertemukan kemarahan dibandingkan persaudaraan.

BACA JUGA :  Suara Anak Abah Itu Moral, Tak Untuk Dijual

Akibatnya, nasionalisme perlahan digantikan oleh fanatisme kelompok.

Padahal bangsa yang besar tidak dibangun oleh algoritma.

Bangsa dibangun oleh kesadaran kolektif bahwa kita memiliki nasib yang sama.

Nasionalisme Harus Menghadirkan Negara

Pertanyaan paling penting hari ini bukan lagi apakah rakyat masih mencintai Indonesia.

Mayoritas rakyat tetap mencintai Indonesia.

Yang lebih penting adalah:

Apakah negara sudah cukup menunjukkan cintanya kepada rakyat?

Nasionalisme sejati tidak diukur dari banyaknya slogan.

Tetapi dari keberpihakan negara kepada masyarakat.

Apakah pendidikan semakin berkualitas?

Apakah pelayanan kesehatan semakin mudah?

Apakah petani memperoleh harga yang layak?

Apakah nelayan terlindungi?

BACA JUGA :  Gembong, Gerbong dan Tom Lembong

Apakah buruh mendapatkan upah yang manusiawi?

Apakah anak muda memiliki pekerjaan?

Apakah hukum benar-benar adil?

Karena nasionalisme tanpa keadilan hanya akan menjadi pidato.

Sedangkan keadilan adalah bentuk nasionalisme yang paling nyata.

Bung Karno Belum Selesai

Warisan terbesar Bung Karno bukan hanya Proklamasi.

Bukan hanya Pancasila.

Bukan hanya pidato-pidato besar yang mengguncang dunia.

Warisan terbesar beliau adalah keyakinan bahwa Indonesia hanya akan kuat apabila seluruh rakyat merasa menjadi bagian dari Indonesia.

Nasionalisme tidak boleh berhenti menjadi romantisme sejarah.

Ia harus terus hidup dalam kebijakan negara, pendidikan, demokrasi, penegakan hukum, pemerataan ekonomi, hingga etika para pemimpin.

BACA JUGA :  Ijazah Jokowi, Hasto-PDI & KDM

Sebab Merah Putih bukan sekadar kain yang berkibar.

Ia adalah janji.

Janji bahwa negara ini berdiri untuk seluruh rakyat Indonesia.

Dan selama masih ada ketidakadilan, diskriminasi, kemiskinan, serta politik yang memecah belah anak bangsa, maka nasionalisme Bung Karno belum selesai diperjuangkan.

Bung Karno pernah membangunkan bangsa ini dari tidur panjang kolonialisme.

Kini, tugas generasi penerus bukan sekadar mengenangnya, melainkan membuktikan bahwa nasionalisme masih hidup bukan hanya di tiang bendera, tetapi juga di ruang-ruang keadilan, kesejahteraan, dan persatuan Indonesia.***