Scroll untuk baca artikel
TANGGAMUS

Jargon Jalan Lurus Tinggal Slogan, Warga Tanggamus Turun Tangan Menambal Janji

×

Jargon Jalan Lurus Tinggal Slogan, Warga Tanggamus Turun Tangan Menambal Janji

Sebarkan artikel ini
Foto: Puluhan warga Talang Rejo turun tangan memperbaiki jalan rusak yang ironisnya menjadi akses menuju gerbang kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Minggu 3 Mei 2026, (foto_scr/vws)

TANGGAMUS — Ketika janji tinggal jargon dan program hanya pandai berbaris di atas kertas, warga Pekon Talang Rejo, Kecamatan Kota Agung Timur, memilih cara paling sederhana sekaligus paling menohok, bekerja tanpa menunggu. Minggu, 3 Mei 2026, puluhan warga turun tangan memperbaiki jalan rusak yang ironisnya menjadi akses menuju gerbang kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Tanggamus.

Jalan itu bukan gang kecil yang bisa diabaikan. Ini adalah jalur vital urat nadi yang tiap hari dilalui pejabat dan masyarakat. Namun kondisinya? Lebih mirip ujian kesabaran daripada fasilitas publik. Lubang di sana-sini, kerusakan yang seolah dibiarkan menua bersama waktu, meski keluhan sudah berkali-kali dikirim mungkin terselip di antara tumpukan proposal yang tak pernah benar-benar dibaca.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Ini bukan cuma untuk kami. Ini jalan semua orang. Sudah sering dilaporkan, tapi ya begitu… mungkin laporan kami kalah penting dari agenda seremonial,” sindir seorang warga, sambil terus menimbun lubang dengan material seadanya.

Aksi swadaya ini terasa seperti ironi yang dipertontonkan di depan pintu kekuasaan sendiri. Di satu sisi berdiri megah kantor pemerintah, di sisi lain jalan menuju ke sana justru meminta belas kasihan warga. Pertanyaannya sederhana, jika akses ke pusat pemerintahan saja bisa luput dari perhatian, lalu bagian mana yang benar-benar jadi prioritas?

BACA JUGA :  Miris! Dana BOS di Tanggamus Digunakan Membayar Figura Kepala Daerah, Segini Nilainya?

Tokoh masyarakat setempat menyebut aksi ini bukan lagi sekadar gotong royong, tapi akumulasi kekecewaan yang akhirnya menemukan bentuknya.

“Kami ini bukan tidak sabar, tapi sudah terlalu sering diminta sabar. Jalan ini penting, dampaknya luas. Kalau kami diam terus, mungkin sampai lubangnya jadi legenda baru,” ujarnya tajam.

Di balik semangat kebersamaan para pemuda dan warga, terselip pesan yang sulit diabaikan, masyarakat lelah menjadi solusi dari masalah yang seharusnya diselesaikan pemerintah. Gotong royong yang dulu jadi kebanggaan, kini perlahan berubah makna, dari simbol kekuatan bersama menjadi penanda bahwa harapan mulai ditambal sendiri.

BACA JUGA :  Api Nyaris Menyambar Tangki CPO, Warga dan Petugas Cegah Ledakan di Jalinbar Tanggamus

Warga berharap, setidaknya kali ini ada yang benar-benar tergerak, bukan sekadar memberi respons formal atau janji baru yang lebih rapi bahasanya. Sebab jika tidak, bukan mustahil aksi serupa akan terus berulang. Bedanya, mungkin nanti bukan lagi sekadar menambal jalan, tapi juga menambal kepercayaan yang semakin terkikis. ***