TANJUNGPINANG – Riak penolakan terhadap wacana relokasi Gurindam 12 Tepi Laut kian membesar. Sabtu (20/9/2025), ratusan warga “Negeri Pantun” berkumpul di Kuliner Pinang Harmoni, Batu 7, bukan untuk makan sate melainkan untuk menyate kebijakan Pemerintah Provinsi Kepri yang dinilai ngawur.
Forum yang digagas Forum Peduli Ibukota Kepri bersama Gerakan Bersama (Geber) Kepri ini menghadirkan tokoh masyarakat, pemuka agama, cendekiawan, hingga ormas kepemudaan. Judul diskusi mereka cukup menohok “Kasi Paham Gubernur tentang Gurindam 12 Tepi Laut: Transparansi, Akuntabilitas, dan Pengelolaan Aset di Ibukota Tanjungpinang.”
Singkatnya, warga Tanjungpinang sedang berkata: “Pak Gub, jangan mentang-mentang pegang palu, semua rakyat harus ikut gendangmu.”
“Wajah Melayu” Mau Dicoret Pakai Arang
Salah satu narasumber, Edi Susanto alias Edi Cindai, mengaku heran dengan manuver Gubernur Kepri, Ansar Ahmad. “Relokasi Gurindam 12 Tepi Laut itu terlalu pagi, malah kesannya dipaksakan. Ini bukan demokrasi, tapi oligarki berkedok pembangunan,” sindirnya.
Menurut Edi, Gurindam 12 Tepi Laut bukan sekadar taman kota biasa. Itu adalah “Wajah Melayu”, identitas ibukota, dan ikon pariwisata.
“Lah, buat apa wajah cantik kita dicoret pakai arang? Bukannya dipoles, malah ditutupi proyek beton Rp 560 miliar. Ujung-ujungnya dilelang ke investor asing. Ini logika pembangunan atau logika jual-beli aset?” keluhnya.
Edi mengingatkan sejarah kelam proyek-proyek sebelumnya seperti relokasi Dendang Ria, Melayu Square, Anjung Cahaya, hingga Street Food Bintan Centre.
“Semua proyek itu nasibnya sama, habis manis, sepah dibuang. Rakyat hanya kebagian ‘nonton doang’, sementara investor menelantarkan,” tegasnya, disambut gelak tawa getir peserta.
Pemprov Kepri “Main Sapu Bersih”
Tak hanya Edi, sejumlah tokoh lain seperti Asep, Zulkifli, dan Jusri Sabri menuding Pemprov Kepri sudah kelewat serakah.
“Semua aset Pemko Tanjungpinang digasak Pemprov. Kalau terus begini, lama-lama kantor Wali Kota pun disulap jadi mal!” sindir Asep.
Jusri Sabri, Ketua LSM GETUK Kepri, menambahkan bahwa hasil diskusi ini bukan sekadar curhat warung kopi.
“Aspirasi ini kami rangkum, kami godok, dan akan disampaikan ke DPRD Kepri. Kalau perlu, kami bikin jilid dua diskusi ini. Jadi jangan heran kalau rakyat makin ‘ramai-ramai’ ngasi paham,” ujarnya.
Forum ini pada akhirnya menegaskan satu hal, rakyat tidak alergi pembangunan, tapi alergi dengan pembangunan yang lebih mirip “jual-beli warisan”.
“Kalau Gurindam 12 itu diibaratkan gadis cantik Melayu, Pemprov sekarang kayak calon mertua serakah, maunya semua ikut mahar, tapi lupa kalau yang punya anak itu orang lain,” celetuk salah satu peserta yang disambut riuh tawa.
Warga menutup forum dengan pantun yang terdengar lebih tajam dari pisau dapur:
“Kalau ke laut jangan bawa parang,
cukup jala untuk mencari ikan.
Kalau wajah cantik dicoreng arang,
rakyat Tanjungpinang yang jadi korban.”
***









