KOTA BEKASI – Kawasan pertigaan Grand Mall Bekasi mendadak berubah jadi lokasi kepanikan massal setelah semburan air bercampur gas melesat lebih dari 10 meter ke udara akibat kebocoran pipa gas bumi milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN), pada Jumat sore (29/5).
Ironisnya, insiden mengerikan itu diduga dipicu proyek saluran air milik Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi sendiri.
Berdasarkan informasi di lapangan, insiden bermula saat ekskavator SY55C melakukan pengerukan di area proyek sekitar pukul 15.00 WIB. Bukannya memperbaiki drainase, alat berat justru diduga sukses “membuka jalur menuju bencana”.
Diduga tanpa perhitungan matang dan minim deteksi utilitas bawah tanah, lengan alat berat menghantam jaringan pipa gas aktif milik PGN yang tertanam di bawah jalur tersebut.
Dalam hitungan detik, tekanan gas langsung mendorong air gorong-gorong menyembur tinggi ke udara. Bau menyengat langsung menyebar, warga panik, kendaraan melambat, dan suasana mendadak seperti adegan film bencana dan memunculkan tontonan mengingat lokasi kejadian berada di jalur protokol padat kendaraan, tepat di kawasan pusat aktivitas warga Kota Bekasi.
Ironisnya operator alat berat dan sejumlah pekerja proyek disebut langsung menghilang sesaat setelah insiden terjadi. Tak ada penjelasan.
Tak ada tanggung jawab. Tak ada upaya pengamanan awal.
Ekskavator justru ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan dalam kondisi mesin mati, seperti pelaku tabrak lari yang kabur meninggalkan kendaraan.
Awalnya petugas gabungan sempat menduga yang pecah adalah pipa air bersih milik Perumda Tirta Patriot. Namun dugaan itu runtuh setelah aliran air tak berhenti meski jalur PDAM sudah dilakukan penutupan.
Komandan Pleton 6 Kompi C Damkar Kota Bekasi, Muhammad Syaifulloh, memastikan sumber kebocoran berasal dari jaringan gas bumi PGN.
“Setelah dicek bersama, PDAM menyatakan itu bukan jalur mereka. PGN kemudian memastikan itu pipa gas. Air yang menyembur berasal dari gorong-gorong di atas jalur gas,” jelasnya.
Insiden ini membuka pertanyaan yang jauh lebih serius daripada sekadar “siapa yang salah”.
Bagaimana proyek pemerintah bisa menggali jalur protokol tanpa memastikan posisi jaringan gas aktif?
Apakah pemetaan utilitas bawah tanah memang tidak dilakukan?
Apakah SOP keselamatan cuma formalitas administrasi?
Atau koordinasi antarinstansi selama ini memang sekadar rapat, foto, lalu bubar?
Proyek konstruksi modern, jalur gas aktif adalah area merah yang seharusnya steril dari pengerukan liar.
Kalau sampai alat berat bisa menghantam pipa gas di tengah kota tanpa antisipasi, maka publik berhak curiga:
yang digali bukan cuma tanah, tapi juga kelalaian sistemik.
Warga Menonton, Jalan Macet, Bekasi Jadi “Waterboom Darurat”
Seperti biasa, setiap ada bencana kecil di Indonesia, selalu ada bonus kerumunan dadakan.
Arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman sempat lumpuh karena banyak pengendara sengaja memperlambat kendaraan demi menonton semburan raksasa tersebut.
Sebagian merekam.
Sebagian tertawa.
Sebagian panik.
Bekasi sore ini berubah jadi perpaduan antara lokasi proyek, arena wisata air, dan simulasi film kiamat.
Padahal di balik tontonan itu, bahaya sesungguhnya sedang mengintai beberapa meter di bawah kaki mereka.
Sekitar pukul 15.45 WIB, tim teknis PGN akhirnya berhasil melakukan cut off atau penghentian aliran gas sehingga tekanan berangsur turun dan situasi mulai kondusif.
Namun meski semburan berhenti, pertanyaan warga di lokasi justru makin deras mengalir. Salah satunya siapa yang bertanggung jawab***













