BATAM – Di tengah memanasnya perbincangan publik terkait dugaan penghinaan terhadap Suku Melayu yang viral di media sosial, tokoh masyarakat Kepulauan Riau, Dato H. Huzrin Hood, mengambil langkah menyejukkan dengan bertemu dan berkomunikasi langsung dengan Raja Situmorang, Senin (1/6/2026).
Pertemuan tersebut dilakukan sebagai upaya meredam ketegangan yang berkembang di tengah masyarakat sekaligus menjaga suasana tetap kondusif di wilayah Kepulauan Riau yang selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, toleransi, dan keharmonisan.
Dalam kesempatan itu, Dato Huzrin Hood menyampaikan imbauan kepada seluruh masyarakat agar menahan diri, mengedepankan adab, menjaga marwah, serta tidak terpancing oleh berbagai provokasi yang berpotensi memperkeruh keadaan.
Menurutnya, masyarakat Melayu sejak dahulu dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kesantunan, musyawarah, serta kebijaksanaan dalam menyikapi setiap persoalan. Karena itu, emosi dan kemarahan yang muncul akibat polemik tersebut tidak boleh berkembang menjadi tindakan yang justru merugikan banyak pihak.
“Masyarakat Melayu memiliki tradisi yang kuat dalam menjaga adab dan marwah. Karena itu, saya mengajak seluruh pihak untuk tetap tenang, menahan diri, dan tidak terpancing oleh berbagai provokasi yang dapat memperkeruh suasana,” ujar Dato Huzrin Hood.
Ia juga menegaskan bahwa setiap persoalan harus diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan melalui tindakan yang bertentangan dengan hukum atau melalui saling serang di media sosial.
“Kita semua hendaknya menjaga suasana tetap aman dan teduh. Jangan ada ujaran kebencian, jangan ada tindakan di luar hukum. Hati dan pikiran harus tetap jernih demi persaudaraan, keamanan daerah, dan masa depan kebersamaan kita,” tegasnya.
Pesan tersebut mendapat perhatian luas karena disampaikan di tengah meningkatnya reaksi publik atas unggahan yang dinilai menghina identitas Melayu. Di saat sebagian pihak larut dalam kemarahan di ruang digital, Dato Huzrin Hood justru mengajak masyarakat kembali kepada nilai-nilai kearifan yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Melayu.
Sikap tersebut sekaligus menunjukkan bahwa menjaga marwah tidak selalu dilakukan dengan kemarahan. Sebaliknya, marwah justru terlihat ketika masyarakat mampu mengendalikan diri, menjaga persatuan, dan mempercayakan penyelesaian persoalan kepada aparat penegak hukum.
Sementara itu, Polresta Barelang telah bergerak cepat mengamankan pelaku dugaan ujaran kebencian yang menjadi pemicu polemik tersebut. Proses hukum saat ini tengah berjalan dan masyarakat diharapkan memberikan ruang kepada aparat untuk bekerja secara profesional sesuai ketentuan yang berlaku.
Di tengah derasnya arus informasi dan emosi di media sosial, pesan Dato Huzrin Hood menjadi pengingat penting bahwa persaudaraan yang dibangun selama puluhan tahun jangan sampai runtuh hanya karena satu unggahan yang memancing kegaduhan.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa besar kemarahan yang ditunjukkan, melainkan seberapa bijaksana masyarakat menjaga kedamaian ketika sedang diuji.***









