KOTA BEKASI – Di tengah gempuran beton, papan reklame, dan kebiasaan “menyalahkan musim” setiap kali banjir datang, secercah kabar baik muncul dari bantaran Sungai Cikeas. Sejumlah komunitas pencinta lingkungan yang diprakarsai Adam Hawa Siliwangi (AHS) dan Kalpataru memilih cara yang sederhana namun berdampak panjang menanam pohon, bukan janji.
Aksi nyata ini diwujudkan melalui program penanaman pohon kelapa dan berbagai jenis pohon lainnya di sepanjang bantaran Sungai Cikeas. Tujuannya jelas menumbuhkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, bahwa menjaga lingkungan tidak cukup dengan unggahan media sosial, tetapi perlu tindakan yang konsisten dan berkelanjutan.
Program ini akan menyasar sepanjang enam kilometer bantaran Sungai Cikeas, dimulai dari Jembatan Mendu hingga Jembatan AL di Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Wilayah ini selama bertahun-tahun menjadi saksi bisu degradasi lingkungan: erosi bantaran, minim vegetasi, hingga ancaman banjir yang datang nyaris rutin.
Tak ingin berhenti pada seremoni tanam pohon semata, kegiatan ini dirancang berlangsung selama satu tahun penuh. Setiap bulan, sebanyak 125 pohon akan ditanam secara rutin, dengan target total 1.500 pohon. Artinya, ini bukan aksi “tanam-lalu-tinggal”, melainkan gerakan yang menuntut komitmen jangka panjang.
“Rencananya penanaman dilakukan setiap bulan selama satu tahun sampai target 1.500 pohon tercapai. Ke depannya, bukan hanya menanam, tapi juga ada kegiatan perawatan,” ujar Kang Abel, Ketua Adam Hawa Siliwangi, Kamis (8/1).
Pernyataan tersebut penting, mengingat banyak program penghijauan gagal bukan karena kurangnya bibit, melainkan karena minimnya perawatan. Pohon ditanam, difoto, lalu dibiarkan bertarung sendiri dengan cuaca, sampah, dan tangan-tangan jahil.
Program penanaman ini sejalan dengan agenda pelestarian lingkungan yang digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bekasi, khususnya dalam upaya menjaga daerah aliran sungai (DAS).
Namun yang membuat gerakan ini berbeda adalah dorongan dari akar rumput masyarakat yang lelah melihat sungai hanya diperlakukan sebagai saluran air dan tempat pembuangan terakhir.
Lewat kolaborasi lintas komunitas dan partisipasi warga, gerakan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan tugas eksklusif pemerintah.
Sungai yang lestari, bantaran yang hijau, dan kota yang lebih aman dari banjir adalah hasil dari kepedulian bersama.
Sungai Cikeas mungkin tak bisa berbicara. Tapi lewat pohon-pohon yang mulai tumbuh di bantarnya, alam seolah sedang mengirim pesan, jika manusia mau menjaga, alam pun bersedia melindungi.












