Scroll untuk baca artikel
Internasional

Google Gabung Proyek AI Pentagon! Dari Mesin Pencari Kini Ikut Cari Musuh?

×

Google Gabung Proyek AI Pentagon! Dari Mesin Pencari Kini Ikut Cari Musuh?

Sebarkan artikel ini
foto google doc ist

JAKARTA — Alphabet Inc., induk dari Google, resmi masuk dalam daftar raksasa teknologi yang bekerja sama dengan United States Department of Defense pada 2026. Kerja sama ini berkaitan dengan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk kebutuhan informasi rahasia dan operasional pemerintah Amerika Serikat.

Langkah ini menandai babak baru hubungan erat antara Silicon Valley dan dunia pertahanan. Jika dulu perusahaan teknologi sibuk memetakan jalan tercepat ke warung kopi, kini sebagian ikut membantu memetakan ancaman global.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Berdasarkan sumber yang mengetahui kesepakatan tersebut, kontrak terbaru memungkinkan Pentagon menggunakan model AI milik Google untuk berbagai kepentingan resmi pemerintah, termasuk sistem yang berkaitan dengan data terklasifikasi.

Artinya, teknologi yang biasa membantu mencari resep rendang atau memperbaiki typo email kini berpotensi ikut membaca tumpukan dokumen rahasia level tinggi.

Selain Google, Pentagon juga disebut telah menjalin kontrak serupa dengan OpenAI dan xAI milik Elon Musk.

Kerja sama ini bukan tanpa kontroversi. Sebelumnya, ratusan karyawan Google pernah mengirim surat terbuka kepada CEO Sundar Pichai agar menghentikan keterlibatan perusahaan dalam proyek AI militer.

BACA JUGA :  Beri Jaminan Rp25 miliar, Ronaldinho Akan Jadi Tahanan Kota

Penolakan itu datang dari berbagai level jabatan, mulai dari staf biasa hingga lebih dari 20 direktur, direktur senior, dan wakil presiden. Bahkan sejumlah peneliti senior dari Google DeepMind ikut menyuarakan keberatan.

Pesan mereka sederhana: bikin AI untuk bantu manusia, bukan bantu misil mencari alamat.

Sebelumnya, isu serupa juga menyeret Anthropic. Startup AI itu dikabarkan menolak jika teknologinya dipakai untuk membuat senjata otomatis atau memata-matai warga Amerika Serikat.

BACA JUGA :  Timur Tengah Memanas! Serangan Israel di Lebanon Tewaskan Ratusan, Iran Ancam Balas Gencatan Senjata di Ujung Tanduk

Perdebatan ini menunjukkan satu hal penting: masalah AI saat ini bukan lagi soal siapa paling pintar, tapi siapa yang paling duluan dipersenjatai.

Masuknya Google, OpenAI, dan xAI ke lingkaran Pentagon menunjukkan pemerintah AS tak ingin tertinggal dalam perlombaan AI global. Teknologi kini bukan sekadar alat bisnis, melainkan aset strategis negara.

Jika dulu perang identik dengan tank dan jet tempur, kini medan tempur baru bisa saja dimulai dari server room berpendingin dingin dan rapat Zoom berkode rahasia.***