Scroll untuk baca artikel
Info Wawai

Pamer Ibadah di Media Sosial? Ini 5 Ayat Al-Qur’an yang Mengingatkan Bahaya Riya

×

Pamer Ibadah di Media Sosial? Ini 5 Ayat Al-Qur’an yang Mengingatkan Bahaya Riya

Sebarkan artikel ini
Al Qur'an - foto istockphoto
Al Qur'an - foto istockphoto

WawaiNEWS.ID – Di era media sosial, hampir semua hal bisa dibagikan ke publik. Mulai dari aktivitas harian, pencapaian karier, hingga momen spiritual seperti sedekah, salat, atau kegiatan ibadah lainnya. Di satu sisi, kebiasaan ini bisa menjadi sarana berbagi inspirasi.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah semua itu lahir dari ketulusan, atau sekadar mencari pengakuan?

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Dalam Islam, fenomena ini dikenal dengan istilah riya, yakni melakukan amal kebaikan bukan semata karena Allah, melainkan agar dilihat, dipuji, atau diakui manusia. Secara lahir tampak baik, tetapi jika niatnya melenceng, nilai ibadah bisa berkurang bahkan hilang.

BACA JUGA :  Ini Dampak Buruk Anak yang Terlahir dari Ibu yang Mengalami Tekanan Psikologis Saat Hamil

Al-Qur’an secara tegas mengingatkan umat Islam agar menjaga keikhlasan dalam beramal. Salah satu peringatan terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 264 yang menegaskan bahwa sedekah yang diiringi pamer atau menyakiti penerima dapat menghapus pahala.

Perumpamaannya seperti debu di atas batu licin yang tersapu hujan deras kebaikan itu tampak ada, tetapi akhirnya tidak menyisakan apa pun.

Peringatan serupa juga terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’un Ayat 4-6. Dalam ayat tersebut, Allah memperingatkan orang yang rajin salat tetapi melakukannya dengan lalai dan penuh riya.

Artinya, ibadah yang terlihat baik di mata manusia bisa kehilangan nilainya jika niatnya hanya untuk pencitraan.

BACA JUGA :  Berpuasa dengan Ihtisab?

Selain itu, Al-Qur’an Surah An-Nisa Ayat 38 juga menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang yang menginfakkan hartanya semata-mata untuk dipuji orang lain.

Amal yang seharusnya menjadi jalan kebaikan justru berubah menjadi sarana mencari popularitas.

Ciri lain dari riya bahkan disebut sebagai karakter orang munafik dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa Ayat 142.

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa mereka melakukan ibadah dengan malas dan hanya agar terlihat baik di hadapan manusia, sementara hubungan mereka dengan Allah justru sangat lemah.

Peringatan tentang kesombongan dan pamer juga ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfal Ayat 47. Ayat ini mengingatkan agar manusia tidak melakukan sesuatu dengan rasa angkuh atau demi pujian manusia, karena Allah mengetahui apa pun yang tersembunyi di balik setiap perbuatan.

BACA JUGA :  Rajin Ibadah, Tapi Bangkrut? Siapa Mereka, Jangan Sampai Kita!

Di tengah budaya “posting segala hal” di media sosial, pesan ayat-ayat tersebut menjadi pengingat penting. Tidak semua kebaikan harus diumumkan, dan tidak semua ibadah perlu ditampilkan.

Dalam Islam, nilai amal tidak diukur dari seberapa banyak orang melihatnya, melainkan dari seberapa tulus niat di baliknya.

Karena pada akhirnya, di hadapan manusia kita mungkin terlihat baik. Tetapi di hadapan Allah, yang dinilai bukanlah tampilannya melainkan niat yang tersembunyi di dalam hati.***