Scroll untuk baca artikel
AgamaRagam

Istiqamah: Ujian Terberat Seorang Mukmin, Bertahan di Jalan Allah hingga Akhir

×

Istiqamah: Ujian Terberat Seorang Mukmin, Bertahan di Jalan Allah hingga Akhir

Sebarkan artikel ini
Al Qur'an - foto istockphoto
Al Qur'an - foto istockphoto

WawaiNEWS.ID – Ada satu pertanyaan yang pernah diajukan kepada Rasulullah SAW, sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi jawabannya mengguncang hati setiap orang yang merenungkannya.

“Wahai Rasulullah, apakah perkara yang paling berat dalam kehidupan ini?”

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sebagian orang mungkin akan menduga jawabannya adalah menghadapi musuh, menanggung kemiskinan, kehilangan orang yang dicintai, atau menghadapi ancaman kematian. Bukankah Rasulullah sendiri pernah dihina, diusir dari tanah kelahirannya, dilempari batu di Thaif, diboikot, bahkan diperangi oleh kaumnya sendiri?

Namun, Rasulullah SAW justru menunjuk kepada sesuatu yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi ujian terbesar sepanjang hayat seorang hamba.

Beliau mengutip firman Allah:

اسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

“Beristiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan.” (QS. Hud: 112).

Ayat ini begitu dalam maknanya hingga diriwayatkan membuat Rasulullah bersabda:

“Surah Hud telah membuat rambutku beruban.”

Para ulama menjelaskan, salah satu sebabnya adalah beratnya perintah untuk tetap lurus di jalan Allah tanpa sedikit pun menyimpang.

Allah berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan demikian pula orang-orang yang telah bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).

Sesungguhnya memulai kebaikan bukanlah perkara yang paling sulit.

Banyak orang mampu bangun malam beberapa hari untuk tahajud. Banyak yang bersemangat menghafal Al-Qur’an di awal perjalanan. Banyak yang bertekad memperbaiki diri, meninggalkan maksiat, membangun usaha halal, atau menuntut ilmu agama.

BACA JUGA :  Dua Wajah Kaderisasi: Nasionalis yang Membumi vs Transnasionalis yang “Melangit”

Namun, perjalanan waktu sering kali menguji ketulusan niat.

Semangat perlahan memudar.
Kesibukan datang silih berganti.
Kegagalan mulai menghampiri.
Doa terasa belum terkabul.

Lalu satu demi satu amal yang dahulu diperjuangkan mulai ditinggalkan.

Padahal, sering kali seseorang gagal bukan karena cita-citanya terlalu tinggi, melainkan karena ia berhenti sebelum Allah memperlihatkan hasilnya.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa istiqamah adalah:

الاستمرار في جهة واحدة من غير أخذ في جهة اليمين والشمال

“Terus berjalan pada satu arah tanpa menyimpang ke kanan maupun ke kiri.”

Beliau kemudian menegaskan:

فاستقم على امتثال أمر الله

“Beristiqamahlah dalam menjalankan dan menaati perintah Allah.”

Dari penjelasan ini kita memahami bahwa istiqamah bukan sekadar rajin beribadah atau konsisten melakukan suatu aktivitas. Istiqamah adalah menjaga agar seluruh langkah hidup tetap berada di jalan yang diridhai Allah.

Sebab tidak semua orang yang tekun berada di jalan yang benar.

Ada yang sangat gigih, tetapi salah arah.
Ada yang sangat keras mempertahankan prinsip, tetapi prinsip itu justru menjauhkannya dari rahmat Allah.
Ada pula yang begitu bersemangat membela agama, namun tanpa ilmu akhirnya terjatuh pada sikap melampaui batas.

Karena itu, istiqamah bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang bertahan di jalan yang lurus.

Imam Al-Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil menjelaskan bahwa makna ayat tersebut adalah:

“Beristiqamahlah di atas agama Tuhanmu, amalkanlah, dan ajaklah manusia kepadanya sebagaimana engkau diperintahkan.”

Lalu Allah menambahkan:

وَمَنْ تَابَ مَعَكَ

“Dan orang-orang yang bertobat bersamamu.”

Ini menunjukkan bahwa istiqamah bukan hanya tanggung jawab pribadi, melainkan juga tanggung jawab kolektif umat.

Sebuah masyarakat akan tetap kuat selama mereka berjalan pada arah yang sama, yakni menuju ridha Allah. Tetapi ketika masing-masing mengikuti hawa nafsunya sendiri, maka persatuan akan retak dan jalan kebenaran perlahan ditinggalkan.

BACA JUGA :  Kuota Haji Reguler Tersisa 11.143, Batas Akhir Pelunasan Hari ini

Menariknya, dalam kajian psikologi modern dikenal istilah grit, yaitu ketekunan dan semangat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Angela Duckworth menjelaskan bahwa orang yang memiliki grit tidak berhenti hanya karena gagal. Ia terus melangkah walaupun hasil belum terlihat.

Nilai ini ternyata sangat dekat dengan konsep istiqamah dalam Islam.

Namun Islam memberikan sesuatu yang jauh lebih tinggi.

Jika grit bertujuan mencapai keberhasilan duniawi, maka istiqamah bertujuan meraih ridha Allah dan husnul khatimah.

Seorang mukmin tidak bertahan demi pujian manusia, melainkan karena ia yakin bahwa setiap langkahnya dilihat oleh Rabb semesta alam.

Ia tetap shalat meski tidak ada yang memuji.
Ia tetap jujur meski harus rugi.
Ia tetap berbuat baik meski dibalas keburukan.

Karena yang dicarinya bukan tepuk tangan manusia, tetapi pandangan Allah.

Sayyidina Umar bin Al-Khaththab r.a. pernah berkata:

“Istiqamah adalah tetap teguh menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak berkelok-kelok seperti liciknya seekor rubah.”

Betapa dalam nasihat ini.

Ternyata istiqamah bukan hanya tentang rajin, tetapi juga tentang kejujuran hati.

Tidak licik dalam beragama.
Tidak mencari-cari celah untuk mengikuti hawa nafsu.
Tidak mengubah-ubah prinsip hanya karena kepentingan dunia.

Lalu, bagaimana agar kita mampu istiqamah?

Profesor Quraish Shihab menjelaskan bahwa seseorang memerlukan ilmu. Sebab mustahil mengetahui posisi tengah jika tidak memahami batas kanan dan kiri.

Orang yang tidak memiliki ilmu mudah mengira dirinya sedang membela agama, padahal yang dibelanya hanyalah amarah.

BACA JUGA :  Qur’an Add-ins untuk PowerPoint 2026 Diluncurkan, Kini Masukkan Ayat Al-Qur’an ke Slide Lebih Mudah dan Sahih

Ia merasa sedang menegakkan kebenaran, padahal sebenarnya sedang memperturutkan ego.

Karena itu Allah tidak hanya berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

Tetapi ayat itu ditutup dengan peringatan:

وَلَا تَطْغَوْا

“Janganlah kalian melampaui batas.”

Inilah keseimbangan Islam.

Agama ini tidak mengajarkan sikap meremehkan syariat, tetapi juga tidak membenarkan sikap berlebihan.

Islam adalah jalan tengah.
Jalan yang lurus.
Jalan yang dipenuhi ilmu, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

Allah berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153).

Istiqamah adalah kemampuan untuk tetap berjalan ketika kaki mulai lelah, tetap taat ketika hawa nafsu mengajak berpaling, tetap sabar ketika hasil belum tampak, dan tetap berharap kepada Allah ketika dunia terasa gelap.

Karena di hadapan Allah, yang dinilai bukan hanya awal perjalanan, tetapi bagaimana seorang hamba menutup hidupnya.

Mungkin itulah sebabnya mengapa perintah ini begitu berat.

Memulai kebaikan memang tidak mudah.

Tetapi yang jauh lebih sulit adalah menjaga hati agar tetap lurus sampai akhir hayat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang diberi keteguhan hati, yang tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri, serta diwafatkan dalam keadaan istiqamah di atas jalan-Nya.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

“Ya Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.”***