WawaiNEWS.ID – Operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang awalnya diproyeksikan sebagai serangan cepat dan menentukan, kini justru berisiko menyeret dunia ke konflik yang lebih luas dan berkepanjangan.
Serangan udara yang menyasar jantung pertahanan Teheran tersebut dirancang untuk melumpuhkan pusat komando militer dan politik Iran. Namun alih-alih berakhir cepat seperti skenario awal, konflik justru berkembang menjadi konfrontasi regional yang semakin kompleks.
Pengamat geopolitik Murad Sadygzade, Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus dosen tamu di HSE University Moscow, menilai bahwa pada jam-jam pertama serangan, Washington dan Yerusalem Barat mencoba membangun narasi kemenangan psikologis.
Dalam analisisnya yang dimuat oleh Russia Today, Sadygzade menyebut pola serangan awal tidak sekadar menghancurkan fasilitas militer, tetapi bertujuan memutus “sistem saraf negara”.
“Serangan ini dirancang untuk menghantam tulang punggung komando, pusat koordinasi, dan simbol otoritas militer-politik Iran dalam satu rangkaian,” tulisnya.
Beberapa laporan media Barat menggambarkan gelombang pertama serangan sebagai operasi gabungan yang menewaskan sejumlah tokoh militer senior Iran bahkan pemimpin tertinggi negara tersebut. Pola ini mirip dengan strategi dekapitasi kepemimpinan, yakni menghancurkan struktur komando agar negara lawan lumpuh dalam waktu singkat.
Namun menurut Sadygzade, keberhasilan blitzkrieg atau perang kilat tidak ditentukan dari seberapa spektakuler serangan awalnya, melainkan seberapa cepat konflik tersebut berakhir sesuai rencana.
Dalam kasus ini, skenario tersebut mulai runtuh.
Iran memilih merespons dengan strategi perlawanan yang tersebar secara geografis. Alih-alih membalas secara simbolis, Teheran melakukan tekanan berkelanjutan terhadap berbagai titik strategis lawan.
Akibatnya, konflik berubah dari satu medan perang menjadi ujian ketahanan regional yang menyasar:
- pertahanan udara
- keamanan pangkalan militer
- jalur logistik
- stabilitas politik negara-negara sekutu
Singkatnya, perang yang tadinya dirancang seperti sprint kini berubah menjadi maraton geopolitik.
Front Diplomatik Ikut Memanas
Ketika konflik berubah menjadi perang ketahanan, faktor logistik, anggaran militer, dan dukungan sekutu menjadi sama pentingnya dengan kekuatan senjata.
Sadygzade menilai front diplomatik kini sama krusialnya dengan medan tempur.
Jika rencana awal adalah operasi singkat dengan dampak politik terbatas, kenyataannya kini Washington dan Israel justru membutuhkan jalan keluar yang tidak terlihat seperti kekalahan.
Spanyol Menolak Jadi “Panggung Perang”
Upaya memperluas koalisi militer ternyata tidak berjalan mulus.
Pemerintah Spanyol secara tegas menolak penggunaan pangkalan militernya untuk operasi melawan Iran.
Perdana Menteri Pedro Sánchez menyatakan negaranya tidak ingin menjadi bagian dari eskalasi konflik.
Penolakan ini bahkan berdampak nyata secara operasional, dengan relokasi pesawat militer AS dari pangkalan di Spanyol selatan.
Respons dari Donald Trump pun cukup keras. Presiden AS tersebut dilaporkan mengancam konsekuensi perdagangan terhadap negara yang menolak memberikan dukungan militer.
Inggris Mengalami “Drama Internal”
Situasi di Inggris juga tidak sepenuhnya solid.
Pemerintah yang dipimpin Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak terlibat dalam serangan awal. Namun laporan media menyebut adanya perdebatan keras di dalam kabinet mengenai sejauh mana London harus mendukung operasi militer tersebut.
Trump bahkan dikabarkan mengkritik Starmer karena tidak mengizinkan penggunaan pangkalan Inggris untuk serangan ofensif.
Pada akhirnya, posisi Inggris bergeser ke arah dukungan defensif, bukan ofensif.
Selat Hormuz Jadi Titik Paling Rentan
Di tingkat regional, dampak konflik ini jauh lebih sensitif.
Negara-negara Teluk selama ini membangun stabilitas ekonomi mereka melalui dua hal:
- keamanan kawasan
- ekspor energi yang stabil
Namun perang berkepanjangan berpotensi menghancurkan kedua pilar tersebut, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu.
Jika selat tersebut tidak dapat digunakan secara efektif, dampaknya bisa sangat besar:
- biaya asuransi kapal melonjak
- kontrak energi terganggu
- pasar global bergejolak
Konsumen energi besar seperti China pun berpotensi ikut terdampak.
Infrastruktur Energi Jadi Target
Ketegangan semakin meningkat ketika fasilitas energi penting menjadi sasaran serangan, termasuk:
- kompleks minyak Ras Tanura di Arab Saudi
- kawasan industri gas Ras Laffan di Qatar
Perusahaan energi negara QatarEnergy bahkan menghentikan sementara produksi LNG setelah fasilitas operasional mereka terkena serangan.
Situasi ini memicu spekulasi baru: apakah Iran benar-benar menyerang negara tetangga, atau ada operasi false flag untuk memancing keterlibatan negara Teluk dalam perang.
Dugaan Operasi Intelijen
Laporan yang beredar menyebut adanya penangkapan individu yang diduga terkait dengan intelijen Israel di Arab Saudi dan Qatar. Namun hingga kini bukti yang beredar masih penuh klaim yang saling bertentangan.
Iran sendiri membantah tuduhan bahwa mereka menyerang negara tetangga dan justru menuduh Israel mencoba memprovokasi konflik yang lebih luas.
Risiko Konflik Regional Besar
Menurut Sadygzade, upaya memperluas koalisi militer Barat sebenarnya memiliki logika strategis yang jelas: jika lebih banyak negara bergabung, tekanan terhadap Iran akan meningkat.
Namun jika dukungan tersebut gagal diperoleh, kredibilitas jaminan keamanan Amerika Serikat bisa dipertanyakan.
Di dalam negeri AS sendiri, perang berkepanjangan juga mulai memicu perdebatan politik, termasuk upaya Kongres membatasi kewenangan presiden dalam memulai perang.
Dunia Menghadapi Risiko “Efek Domino”
Sadygzade memperingatkan bahwa bahaya terbesar bukan hanya kekalahan politik atau kemenangan militer.
Risiko yang lebih besar adalah ledakan konflik regional.
Begitu infrastruktur energi dan jalur pelayaran global menjadi sasaran berulang, perang akan memiliki logika penularan di mana semakin banyak negara terseret ke dalam konflik.
Kematian pemimpin tertinggi Iran, jika benar terjadi, bukan hanya peristiwa militer. Dalam konteks Iran, hal tersebut juga merupakan pukulan terhadap pusat gravitasi politik dan agama negara itu.
Dan dalam geopolitik Timur Tengah, satu pukulan besar sering kali tidak pernah berdiri sendiri ia biasanya menjadi pembuka babak baru konflik yang lebih panjang.
Singkatnya, perang yang awalnya diproyeksikan sebagai operasi cepat kini berpotensi berubah menjadi krisis global yang jauh lebih rumit dari rencana awalnya.













