JAKARTA – Israel kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah militer negara tersebut mencegat kapal-kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 yang berupaya menembus blokade menuju Gaza. Di antara ratusan aktivis yang diamankan, terdapat sembilan warga negara Indonesia (WNI), termasuk empat jurnalis.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan sembilan WNI tersebut dalam kondisi sehat dan saat ini berada di Kota Ashdod, salah satu pelabuhan terbesar di Israel yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Gaza.
Namun di balik kabar “sehat dan selamat” itu, tersimpan gambaran keras tentang bagaimana jalur kemanusiaan menuju Gaza kini berubah menjadi wilayah penuh ketegangan, pengawasan militer, dan risiko penahanan internasional.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa penahanan para WNI bukan merupakan kasus penyanderaan atau penculikan, melainkan intersepsi militer terhadap kapal yang dianggap melanggar blokade laut Israel.
“Israel melarang kapal apa pun masuk ke wilayah tersebut untuk kepentingan apa pun,” ujar Sugiono di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (20/5/2026).
Pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat pahit bahwa bahkan misi kemanusiaan pun kini tak mudah menembus batas konflik di Timur Tengah.
Empat dari sembilan WNI yang ditahan diketahui berprofesi sebagai jurnalis. Dua di antaranya merupakan jurnalis Republika, yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai Rifan Billah.
Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, mengatakan para WNI telah menjalani pemeriksaan awal oleh otoritas Israel.
“Mereka dicek apakah memiliki hubungan dengan organisasi kriminal. Alhamdulillah kondisi mereka sehat,” ujar Andi.
Namun proses administrasi dan pemeriksaan dilaporkan sempat tertunda karena hari libur keagamaan di Israel. Pemerintah Indonesia kini berharap proses deportasi dapat segera dilakukan agar seluruh WNI bisa dipulangkan dengan aman.
Berdasarkan data dari Global Peace Convoy Indonesia, sembilan WNI tersebut berada di lima kapal berbeda dalam armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Sebelum ditangkap, beberapa relawan sempat mengirimkan video pesan darurat atau SOS yang beredar luas di media sosial.
Berikut daftar WNI yang ikut dalam misi tersebut:
- Andi Angga Prasadewa (Kapal Josef)
- Rahendro Herubowo (Kapal Ozgurluk)
- Andre Prasetyo Nugroho (Kapal Ozgurluk)
- Thoudy Badai Rifan Billah (Jurnalis/Kapal Ozgurluk)
- Bambang Noroyono (Jurnalis/Kapal BoraLize)
- Herman Budianto Sudarsono (Kapal Zapyro)
- Ronggo Wirasanu (Kapal Zapyro)
- Asad Aras Muhammad (Kapal Kasr-1)
- Hendro Prasetyo (Kapal Kasr-1)
Dua relawan asal Indonesia yang berada di Kapal Zapyro bahkan sempat lolos dari pengejaran militer Israel sebelum akhirnya ikut ditangkap sehari kemudian.
Secara keseluruhan, militer Israel dilaporkan mencegat sekitar 10 kapal dan menahan lebih dari 460 aktivis dari 45 negara dalam operasi tersebut.
Di tengah meningkatnya konflik dan blokade Gaza, aksi pencegatan terhadap kapal kemanusiaan kembali memunculkan perdebatan internasional: sampai di mana batas keamanan negara dapat dibenarkan ketika berhadapan dengan misi kemanusiaan sipil.
Ironisnya, bantuan kemanusiaan yang membawa obat, logistik, dan solidaritas kini harus melewati jalur yang nyaris serupa dengan operasi militer.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia menyatakan terus melakukan langkah diplomasi intensif melalui KBRI di Yordania, Turki, dan Mesir untuk memastikan hak-hak para relawan tetap terpenuhi serta mempercepat proses pemulangan mereka ke tanah air.
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menegaskan Indonesia mengecam penahanan tersebut dan mendesak Israel segera membebaskan seluruh awak kapal kemanusiaan internasional.
Di tengah panasnya konflik Gaza, kisah sembilan WNI ini menjadi potret lain dari wajah solidaritas global: ketika bantuan kemanusiaan tak lagi hanya soal mengirim makanan dan obat-obatan, tetapi juga mempertaruhkan kebebasan bahkan keselamatan mereka yang membawanya.***










