KOTA BEKASI – Di tengah hiruk-pikuk urusan pemerintahan dan padatnya dinamika Kota Bekasi, ada satu momen yang terasa berbeda di Asrama Haji Bekasi, Senin (18/5/2026).
Bukan rapat anggaran. Bukan sidak banjir. Bukan pula agenda politik.
Melainkan pelukan, doa, dan perpisahan menuju Tanah Suci.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama sang istri, Wiwiek Hargono, resmi berangkat menunaikan ibadah haji.
Keberangkatan keduanya dilepas langsung oleh Pelaksana Harian (PLH) Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe beserta istri dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Di balik prosesi pelepasan itu, terselip satu kalimat yang cukup menyentuh.
“Untuk sementara waktu, roda pemerintahan saya titipkan kepada Pak Wakil Wali Kota agar seluruh pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” ujar Tri.
Meski ingin fokus menjalankan ibadah di Tanah Suci, Tri mengakui dirinya tetap membuka ruang komunikasi jika terjadi kondisi mendesak di Kota Bekasi.
Nomor teleponnya disebut akan tetap aktif selama di Arab Saudi.
Artinya, bahkan saat menjalani ibadah paling sakral sekalipun, seorang kepala daerah tampaknya tetap sulit sepenuhnya lepas dari notifikasi pemerintahan.
Di era digital hari ini, mungkin benar bahwa pemimpin bisa pergi ribuan kilometer ke Makkah, tapi grup WhatsApp birokrasi tetap bisa mengejar kapan saja.
Namun Tri menegaskan, kendali pemerintahan sementara dipercayakan kepada Harris Bobihoe agar pelayanan publik tetap berjalan optimal.
Usai doa bersama, Harris Bobihoe turut melepas langsung bus kloter jamaah haji asal Kota Bekasi yang membawa Tri Adhianto dan rombongan menuju embarkasi.
Suasana pelepasan berlangsung khidmat. Keluarga jamaah, kerabat, hingga jajaran pemerintah tampak mengiringi keberangkatan dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah diberikan keselamatan selama menjalankan ibadah.
Dalam kesempatan itu, Harris menyampaikan doa khusus kepada Tri dan Wiwiek agar seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar hingga kembali ke Bekasi dengan predikat haji mabrur.
“Semoga selalu diberikan kesehatan dalam menjalankan ibadah haji bersama Ibu, kembali ke Kota Bekasi menjadi haji yang mabrur, serta pulang dalam keadaan sehat,” ucap Harris.
Bagi masyarakat, sosok kepala daerah sering terlihat dalam ruang formal: pidato, rapat, proyek, atau perdebatan kebijakan.
Namun keberangkatan haji menghadirkan sisi lain yang lebih manusiawi.
Ada rasa haru meninggalkan rumah dan pekerjaan. Ada doa keluarga yang mengiringi. Ada harapan pulang membawa ketenangan batin setelah menunaikan rukun Islam kelima.
Dan di tengah kerasnya ritme politik lokal, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa pejabat publik juga manusia biasa yang ingin menjalankan ibadah dan mencari keberkahan hidup.
Tri Adhianto dan Wiwiek Hargono dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 13 Juni 2026 setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.
Sementara itu, untuk beberapa pekan ke depan, jalannya pemerintahan Kota Bekasi berada di bawah kendali Harris Bobihoe.
Dan bagi warga Bekasi, pesan Tri mungkin cukup sederhana:
pemerintahan tetap berjalan, pelayanan tetap harus hadir, meski wali kotanya sedang memenuhi panggilan spiritual di Tanah Suci.***













