KOTA BEKASI – Hari pertama sekolah biasanya identik dengan dua pemandangan: anak-anak yang gugup memasuki gerbang sekolah dan orang tua yang diam-diam lebih cemas daripada putra-putrinya. Namun, Senin (13/7/2026), suasana itu berubah menjadi lebih hangat ketika Wali Kota Bekasi Tri Adhianto hadir langsung membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di SMP Negeri 12 Kota Bekasi.
Di tengah riuhnya polemik penerimaan peserta didik yang beberapa waktu terakhir menjadi perhatian publik, Pemerintah Kota Bekasi memilih mengawali tahun ajaran baru dengan mengirim pesan yang berbeda: setelah proses penerimaan selesai, kini saatnya memastikan setiap anak diterima dengan rasa aman, bukan dengan rasa takut.
Ratusan siswa baru memenuhi halaman SMPN 12 Kota Bekasi. Mereka disambut para guru, orang tua, dan jajaran pemerintah daerah. Hadir mendampingi Wali Kota, Camat Bekasi Selatan Karya Sukmajaya, Lurah Pekayon Jaya Amanda Pratiwi, kepala sekolah, serta para tenaga pendidik.
Mengusung tema “MPLS Ramah”, kegiatan berlangsung selama lima hari, mulai 13 hingga 17 Juli 2026. Program tersebut dirancang bukan sekadar mengenalkan ruang kelas, perpustakaan, atau tata tertib sekolah, melainkan membangun budaya sekolah yang aman, inklusif, dan menghargai setiap peserta didik.
Dalam sambutannya, Tri Adhianto menegaskan bahwa orientasi sekolah tidak boleh lagi menjadi ruang intimidasi atau tradisi yang menakutkan.
“Sekolah harus menjadi rumah kedua yang membuat anak-anak merasa nyaman untuk belajar, berkembang, dan berprestasi. Melalui MPLS Ramah, mari kita ciptakan lingkungan pendidikan yang penuh kepedulian, saling menghargai, dan bebas dari segala bentuk perundungan,” tegasnya.
Sebagai simbol dimulainya tahun ajaran baru, Tri memukul gong dan mengalungkan tanda pengenal kepada perwakilan siswa baru. Prosesi sederhana itu menjadi penanda dimulainya perjalanan ribuan pelajar menuju jenjang pendidikan menengah pertama.
ASN Boleh Antar Anak, Pendidikan Dimulai dari Rumah
Tak hanya membuka MPLS, Tri juga kembali menegaskan kebijakan Pemerintah Kota Bekasi yang memberikan dispensasi kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengantarkan anak mereka pada hari pertama sekolah.
Menurutnya, pendidikan tidak dimulai ketika guru membuka buku pelajaran, melainkan sejak orang tua menggenggam tangan anaknya melewati gerbang sekolah.
“Hari pertama sekolah merupakan momen yang sangat berharga bagi anak-anak. Kehadiran orang tua akan memberikan rasa aman, semangat, dan kepercayaan diri kepada mereka untuk memulai perjalanan pendidikan di lingkungan yang baru,” ujar Tri.
Kebijakan tersebut mendapat sambutan positif dari para orang tua yang sejak pagi memadati halaman sekolah. Banyak di antara mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk mendampingi buah hati memasuki lingkungan belajar yang baru.
MPLS Harus Ramah, Bukan Ajang “Senioritas Berkedok Tradisi”
Tri mengingatkan bahwa sudah saatnya paradigma MPLS berubah total. Jika dahulu orientasi siswa baru identik dengan hukuman, atribut aneh, hingga praktik senioritas, kini seluruh sekolah dituntut menghadirkan kegiatan yang edukatif, menyenangkan, dan membangun karakter.
Dengan nada satir, ia menyampaikan bahwa yang perlu diperkenalkan kepada siswa bukan rasa takut kepada kakak kelas, melainkan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan.
“Yang perlu dibawa anak-anak ke sekolah adalah semangat belajar, bukan rasa waswas. Buku pelajaran jauh lebih penting daripada cerita-cerita horor tentang senioritas,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Pemerintah Kota Bekasi, lanjut Tri, tidak akan mentoleransi segala bentuk perundungan, kekerasan fisik maupun verbal, serta praktik diskriminasi yang mencederai hak peserta didik.
Pendidikan Berkualitas Dimulai dari Lingkungan yang Aman
Selain meninjau pelaksanaan MPLS, Tri juga berdialog dengan para guru dan tenaga kependidikan mengenai kesiapan sekolah menyambut tahun ajaran baru.
Ia mengapresiasi seluruh jajaran SMPN 12 Kota Bekasi yang telah mempersiapkan kegiatan secara matang sehingga mampu menghadirkan suasana yang nyaman bagi peserta didik.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh kemampuan sekolah menciptakan lingkungan yang sehat secara psikologis.
“Pendidikan bukan sekadar mengejar angka rapor. Karakter, empati, disiplin, dan rasa saling menghormati justru menjadi bekal utama anak-anak menghadapi masa depan,” katanya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah agar proses pendidikan berjalan selaras.
Bekasi Ingin Dikenal karena Prestasi, Bukan Polemik
Momentum pembukaan MPLS Ramah menjadi penegasan komitmen Pemerintah Kota Bekasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih humanis.
Di tengah berbagai dinamika yang sempat mengiringi pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), pemerintah berharap perhatian publik kini beralih pada substansi pendidikan: bagaimana memastikan setiap anak yang telah diterima memperoleh pengalaman belajar yang aman, nyaman, dan bermakna.
Sebab pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai, melainkan tempat membentuk manusia. Dan hari pertama sekolah seharusnya dikenang bukan karena air mata atau ketakutan, tetapi karena senyum, harapan, dan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik dimulai dari sebuah ruang kelas yang ramah bagi semua.***












