Scroll untuk baca artikel
KesehatanZona Bekasi

1.583 Warga Terserang dalam 5 Bulan, Usia Produktif Jadi Sasaran Empuk Nyamuk Aedes

×

1.583 Warga Terserang dalam 5 Bulan, Usia Produktif Jadi Sasaran Empuk Nyamuk Aedes

Sebarkan artikel ini
Ilustras
foto ilustrasi nyamuk Aedes aegypti

KOTA BEKASI — Kasus Demam Berdarah di Kota Bekasi terus merangkak naik. Remaja hingga dewasa menjadi kelompok paling banyak terinfeksi. Dinkes bergerak, tapi perang melawan nyamuk tak cukup hanya mengandalkan fogging dan status media sosial.

Saat sebagian warga Bekasi sibuk mengejar target kerja, target cicilan, hingga target hidup yang makin mahal, seekor musuh kecil justru diam-diam mengejar mereka lebih dulu. Namanya bukan debt collector, bukan pula tagihan listrik, melainkan nyamuk Aedes aegypti, sang “pemburu darah” yang kembali menunjukkan taringnya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mencatat sebanyak 1.583 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi sepanjang Januari hingga Mei 2026. Angka ini menjadi alarm serius bahwa ancaman dengue masih jauh dari kata selesai.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bekasi, Vevie Herawati, mengungkapkan bahwa seluruh kelompok usia terdampak, namun korban terbanyak berasal dari kalangan usia produktif.

“Kasus DBD tahun 2026 periode Januari sampai Mei yang sudah terlaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Bekasi sebanyak 1.583 kasus,” ujar Vevie, Senin (8/6/2026).

BACA JUGA :  Kasus DBD Setiap Tahun Melonjak, Dinkes Kota Bekasi Harus Perbesar Anggaran Penanganan

Data Dinkes menunjukkan kelompok usia 15 hingga 44 tahun menjadi penyumbang kasus terbesar dengan 775 pasien atau hampir setengah dari total kasus.

Disusul kelompok usia 5 hingga 14 tahun sebanyak 422 kasus, usia di atas 44 tahun sebanyak 223 kasus, balita usia 1 hingga 4 tahun sebanyak 141 kasus, serta bayi di bawah satu tahun sebanyak 22 kasus.

Fenomena ini menunjukkan bahwa DBD bukan lagi sekadar penyakit anak-anak seperti yang masih banyak dipercaya masyarakat. Kini, remaja, pekerja kantoran, pedagang, mahasiswa hingga ibu rumah tangga sama-sama berada dalam zona risiko.

Ironisnya, kelompok usia produktif yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi justru menjadi “menu utama” bagi nyamuk pembawa virus dengue.

Jika menilik data tiga tahun terakhir, tren DBD di Kota Bekasi memang fluktuatif, namun belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan.

Tahun 2023 tercatat 1.220 kasus.

Setahun kemudian, angka tersebut melonjak tajam menjadi 4.167 kasus pada 2024.

Sementara pada 2025 terjadi sedikit penurunan menjadi 4.045 kasus.

Meski turun tipis, jumlah tersebut tetap lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kasus tahun 2023.

Artinya, dengue masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan belum berhasil ditekan secara optimal.

BACA JUGA :  Addendum Pasar Kranji Baru Disorot, Sri Mulyono: “Lahan Pemkot kok Dijadikan Rebutan Dua Calo Proyek?”

Masih banyak warga yang menganggap fogging sebagai solusi utama pemberantasan DBD. Padahal, secara ilmiah fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak efektif memusnahkan telur maupun jentik yang tersembunyi di tempat penampungan air.

Dengan kata lain, meminta fogging tanpa membersihkan lingkungan ibarat mengepel lantai saat atap rumah masih bocor.

Karena itu, Dinkes Kota Bekasi menegaskan bahwa strategi utama pengendalian dengue tetap bertumpu pada Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan gerakan 3M Plus, yakni:

• Menguras tempat penampungan air secara rutin.
• Menutup rapat wadah penyimpanan air.
• Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

Ditambah langkah pencegahan lain seperti penggunaan obat anti nyamuk, pemasangan kawat kasa, hingga pemeriksaan jentik secara berkala.

Menghadapi lonjakan kasus, Dinkes Kota Bekasi mengaku telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi.

Mulai dari penyusunan regulasi dan surat edaran terkait PSN, investigasi epidemiologi terhadap setiap kasus yang ditemukan, penguatan sistem kewaspadaan dini rumah sakit (KDRS), hingga memastikan ketersediaan logistik pengendalian dengue di seluruh puskesmas.

Logistik tersebut meliputi rapid test DBD, larvasida atau bubuk abate, serta insektisida untuk kebutuhan penanganan di lapangan.

BACA JUGA :  Proposal Minta AC Kelurahan Jatiraden Bikin Runyam Program 'Zero Complaint' Wali Kota Bekasi

Selain itu, pemerintah daerah juga menggandeng sekolah, kelurahan, kecamatan, dan berbagai elemen masyarakat melalui program Jumat Bersih dan kampanye edukasi kesehatan di media sosial.

Meski pemerintah telah mengerahkan berbagai upaya, keberhasilan pengendalian DBD pada akhirnya sangat ditentukan oleh perilaku masyarakat.

Nyamuk Aedes aegypti tidak membutuhkan rawa-rawa atau sungai kotor untuk berkembang biak. Tutup botol yang terisi air hujan, pot tanaman, dispenser, talang air, hingga ember yang terlupakan sudah cukup menjadi “apartemen mewah” bagi jentiknya.

Karena itu, kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) kembali diperkuat untuk melakukan edukasi dan pemeriksaan rutin di lingkungan permukiman.

Jika masyarakat hanya panik saat ada warga yang masuk rumah sakit, tetapi lupa memeriksa bak mandi sendiri, maka nyamuk akan selalu selangkah lebih maju.

DBD bukan sekadar urusan dinas kesehatan. Ini adalah urusan seluruh warga. Sebab dalam perang melawan dengue, nyamuk tidak pernah peduli apakah korbannya pelajar, pegawai, pengusaha, atau pejabat.

Yang mereka cari hanya satu yakni darah yang lengah.***