Scroll untuk baca artikel
SosialZona Bekasi

Kursi Roda hingga Kaki Palsu Dibagikan, Pemkot Bekasi Wujudkan Keadilan Sosial bagi Penyandang Disabilitas

×

Kursi Roda hingga Kaki Palsu Dibagikan, Pemkot Bekasi Wujudkan Keadilan Sosial bagi Penyandang Disabilitas

Sebarkan artikel ini
Robert TP Siagian Kadisprindag Kota Bekasi
Robert TP Siagian Kepala Dinas Sosial Kota Bekasi -foto doc

BEKASI – Bagi sebagian orang, sebuah kursi roda hanyalah alat bantu. Namun bagi penyandang disabilitas, kursi roda bisa menjadi pintu menuju kemandirian. Tongkat netra bukan sekadar penyangga langkah, melainkan penuntun menuju rasa percaya diri. Begitu pula alat bantu dengar yang bukan hanya memperjelas suara, tetapi juga membuka kembali ruang komunikasi dengan dunia.

Atas dasar itulah, Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Sosial menyalurkan 91 alat bantu disabilitas kepada warga dari keluarga kurang mampu yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) desil 1 hingga desil 5.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Program ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun Kota Bekasi yang lebih inklusif, ramah disabilitas, serta memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh warga.

Kepala Dinas Sosial Kota Bekasi, Robert Siagian, mengatakan seluruh bantuan diberikan berdasarkan hasil pendataan dan asesmen sehingga benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing penerima.

“Ada 91 penerima alat bantu disabilitas. Bantuan yang kami salurkan terdiri atas 32 alat bantu dengar, 20 kursi roda, 13 kursi roda multifungsi, 13 tongkat netra sensorik, tiga kaki palsu, dan 10 tongkat walker,” ujar Robert Siagian, Senin (20/7/2026).

BACA JUGA :  Heboh Sabotase Running Text Bertulis 'Plt Wali Kota Bekasi Bobrok, Ini Kata Pemkot

Bukan Sekadar Membagikan Alat, tetapi Mengembalikan Harapan

Setiap alat bantu yang diserahkan memiliki cerita.

Ada warga yang selama bertahun-tahun harus bergantung pada bantuan keluarga untuk berpindah tempat. Ada pula penyandang disabilitas yang kesulitan beraktivitas karena keterbatasan alat penunjang.

Kini, dengan bantuan tersebut, mereka memiliki peluang lebih besar untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih mandiri.

Robert menegaskan seluruh penerima merupakan warga Kota Bekasi dari keluarga tidak mampu yang telah memenuhi kriteria berdasarkan DTKS desil 1 sampai desil 5.

“Alat bantu disabilitas ini diberikan bagi warga tidak mampu yang berada pada desil 1 sampai desil 5 sehingga bantuan benar-benar tepat sasaran,” katanya.

Kota Inklusif Dimulai dari Kesempatan yang Sama

Menurut Robert, membangun kota ramah disabilitas tidak cukup hanya dengan menyediakan trotoar landai atau jalur khusus bagi kursi roda.

BACA JUGA :  Sambut Pilkada 2024, Pemko Bekasi Gelar Simulasi Pengamanan Pilkada

Yang lebih penting adalah memastikan setiap penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang sama untuk bergerak, belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri.

Karena itu, alat bantu yang diberikan telah disesuaikan dengan kondisi medis dan kebutuhan masing-masing penerima.

“Tujuannya adalah mendukung terwujudnya Kota Bekasi yang inklusif, ramah disabilitas, dan berkeadilan sosial karena seluruh penerima bantuan berasal dari keluarga tidak mampu pada kelompok desil 1 sampai 5,” jelasnya.

Ia berharap bantuan tersebut mampu meningkatkan mobilitas sekaligus kualitas hidup para penerima manfaat.

“Ini juga untuk mempermudah akses dan mobilitas penyandang disabilitas karena alat bantu yang diberikan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing penerima,” tambah Robert.

Ketika Empati Menjadi Kebijakan

Di tengah berbagai tantangan sosial, program seperti ini menunjukkan bahwa pelayanan publik tidak selalu berbentuk pembangunan gedung atau infrastruktur besar.

Kadang, perubahan terbesar justru hadir melalui hal-hal sederhana yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.

Sebuah alat bantu dengar dapat membuat seorang anak kembali mengikuti pelajaran di sekolah.

BACA JUGA :  Viral! Jogging Track Alun-alun Bekasi Disulap Jadi Arena Kursus Stir, Warga Geleng Kepala

Sebuah kaki palsu bisa mengembalikan semangat seseorang untuk bekerja.

Sebuah tongkat walker mampu membantu lansia atau penyandang disabilitas kembali melangkah tanpa rasa takut.

Jangan Sampai yang Sulit Bergerak Justru Kebijakan

Ada satu pelajaran sederhana dari program ini.

Yang membutuhkan bantuan adalah warganya, bukan proses birokrasinya.

Karena itu, pelayanan sosial idealnya bergerak lebih cepat daripada kesulitan yang dihadapi masyarakat.

Syukurlah, dalam program ini yang bergerak bukan hanya kursi roda dan tongkat walker, tetapi juga kepedulian pemerintah kepada kelompok yang selama ini membutuhkan perhatian lebih.

Pemerataan Kesejahteraan Harus Bisa Dirasakan Semua

Robert menegaskan penyaluran alat bantu disabilitas merupakan bentuk nyata kehadiran Pemerintah Kota Bekasi dalam memberikan pelayanan kesejahteraan sosial yang merata tanpa membedakan kondisi fisik maupun latar belakang ekonomi.

“Ini merupakan wujud kehadiran pemerintah untuk memberikan pemerataan pelayanan kesejahteraan sosial kepada masyarakat. Mudah-mudahan pemberian alat bantu ini dapat memberikan manfaat sehingga keadilan sosial benar-benar dapat terwujud dengan baik,” pungkasnya.