Scroll untuk baca artikel
Hukum & Kriminal

Komplotan Pembobol Tower Telekomunikasi di Tulang Bawang Berakhir di Tangan Polisi

×

Komplotan Pembobol Tower Telekomunikasi di Tulang Bawang Berakhir di Tangan Polisi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

TULANG BAWANG — Niat mencuri baterai tower telekomunikasi demi cuan instan berujung petaka. Sebuah komplotan pencuri yang diduga spesialis pembobol tower telekomunikasi terlibat aksi kejar-kejaran dan baku tembak dengan polisi di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Akibatnya, satu pelaku tewas setelah polisi melakukan tindakan tegas dan terukur, sementara enam anggota komplotan lainnya berhasil diringkus.

Peristiwa yang lebih mirip adegan film laga tengah malam ini bermula ketika Tim URC Tekab 308 Polres Tulang Bawang menerima laporan adanya dugaan pencurian baterai tower milik operator telekomunikasi di Kampung Mekar Indah Jaya, Kecamatan Banjar Baru, pada Minggu (28/6/2026) dini hari.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Saat petugas tiba di lokasi, kondisi tower sudah “bercerita” lebih dulu. Rak penyimpanan baterai ditemukan dalam keadaan rusak, sementara para pelaku telah menghilang meninggalkan jejak kerusakan dan kerugian.

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari, menjelaskan bahwa setelah menemukan lokasi dalam kondisi dibobol, polisi langsung bergerak cepat melakukan penyekatan di sejumlah titik yang diduga menjadi jalur pelarian pelaku.

“Petugas kemudian melakukan pengecekan ke lokasi dan mendapati rak penyimpanan baterai tower dalam kondisi rusak. Para pelaku telah melarikan diri sehingga langsung dilakukan penyekatan di sejumlah titik,” ujar Yuni melalui keterangan resminya pada Selasa (30/6).

BACA JUGA :  Bawa Kabur Gadis Asal Lampung Timur, Pemuda Asal Jakarta Meringkuk di Bui

Di tengah operasi pengejaran, perhatian petugas tertuju pada sebuah mobil Toyota Calya putih yang dicurigai membawa para pelaku.

Namun bukannya berhenti saat diminta petugas, pengemudi justru memilih skenario yang biasanya hanya berhasil di layar lebar: menginjak pedal gas sedalam-dalamnya.

Mobil tersebut bahkan menabrak kendaraan patroli polisi yang berusaha melakukan penghentian di depan Mapolres Tulang Bawang.

Situasi pun berubah dari operasi penangkapan menjadi pengejaran berisiko tinggi.

Yang membuat keadaan semakin berbahaya, para pelaku tidak hanya berusaha kabur. Mereka juga melepaskan tembakan ke arah petugas yang melakukan pengejaran.

Kejar-kejaran berlangsung hingga kawasan Gerbang Tol Menggala. Di lokasi inilah situasi memanas.

Menurut polisi, para pelaku kembali melepaskan tembakan ke arah anggota yang melakukan pengejaran. Ancaman terhadap keselamatan petugas membuat aparat akhirnya mengambil tindakan tegas dan terukur.

“Karena tindakan pelaku membahayakan keselamatan anggota, petugas melakukan tindakan tegas dan terukur. Dari hasil penindakan tersebut, satu orang pelaku meninggal dunia, sementara enam pelaku lainnya berhasil diamankan,” kata Yuni.

Jika biasanya pencuri berharap bisa menghilang tanpa jejak, komplotan ini justru meninggalkan jejak yang sangat lengkap, mulai dari barang bukti hasil curian hingga senjata api.

BACA JUGA :  Kepolisian Diminta Klarifikasi Pernyataan Adik Kandung Gus Miftah Kaitkan Institusi Polri Terkait Tambang Pasir di Lamtim

Pengungkapan kasus ini menunjukkan bahwa para pelaku diduga bukan sekadar pencuri biasa yang datang membawa obeng dan tang.

Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan lima unit baterai tower hasil curian yang belum sempat dijual.

Selain itu, petugas juga menyita dua pucuk senjata api rakitan jenis revolver dan FN beserta amunisi yang diduga digunakan dalam aksi mereka.

Tak berhenti di situ, polisi turut mengamankan tiga unit kendaraan yang diduga menjadi armada operasional komplotan, serta berbagai peralatan yang digunakan untuk membobol fasilitas telekomunikasi.

Temuan yang lebih mengejutkan muncul saat pemeriksaan kendaraan para pelaku.

Di dalam mobil, polisi menemukan dua paket sabu beserta sejumlah plastik klip bekas pakai.

Kombinasi barang bukti tersebut membuat kasus ini berkembang dari dugaan pencurian menjadi potensi pengungkapan jaringan kejahatan yang lebih luas.

Fenomena pencurian baterai tower telekomunikasi bukan kasus baru. Harga baterai industri yang tinggi membuat fasilitas telekomunikasi kerap menjadi sasaran pelaku kejahatan.

Masalahnya, ketika baterai tower dicuri, dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan operator. Gangguan layanan komunikasi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat yang bergantung pada jaringan telekomunikasi.

Karena itu, aparat menduga kelompok ini telah memiliki pola operasi yang cukup terorganisir dan masih mendalami kemungkinan keterlibatan mereka dalam sejumlah aksi serupa di wilayah lain.

BACA JUGA :  Pedagang yang Bacok Rentenir Sampai Tewas di Tangsel Masih Dirawat di RS

Saat ini enam tersangka telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan intensif. Sementara satu pelaku yang meninggal dunia dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses identifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut.

Penyidik juga tengah melakukan pengembangan guna mengungkap kemungkinan adanya jaringan yang lebih besar di balik aksi pencurian baterai tower tersebut.

“Saat ini enam tersangka telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Sementara satu pelaku yang meninggal dunia dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses identifikasi dan pemeriksaan. Penyidik juga masih melakukan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan komplotan ini dalam aksi pencurian di lokasi lain,” tutup Yuni.

Ironisnya, di era ketika sinyal internet menjadi kebutuhan pokok hampir setara nasi dan kopi, masih ada pihak yang melihat tower telekomunikasi bukan sebagai penopang komunikasi masyarakat, melainkan sebagai “ATM berjalan” yang bisa dibongkar kapan saja.

Sayangnya bagi komplotan ini, perjalanan mereka berakhir bukan di tempat penjualan barang curian, melainkan di hadapan aparat penegak hukum. Satu pelaku kehilangan nyawa, enam lainnya kehilangan kebebasan. Sementara baterai tower yang dicuri akhirnya kembali menjadi barang bukti.***