Scroll untuk baca artikel
Opini

Nasionalisme Bung Karno Jangan Hanya Jadi Materi Upacara: Ketika Merah Putih Berkibar, Tapi Persatuan Mulai Ditawar

×

Nasionalisme Bung Karno Jangan Hanya Jadi Materi Upacara: Ketika Merah Putih Berkibar, Tapi Persatuan Mulai Ditawar

Sebarkan artikel ini

Oleh: Amsar A. Dulmanan
Dosen Sosiologi Politik UNUSIA

WawaiNEWS.ID – Setiap Senin pagi, jutaan siswa Indonesia berdiri tegak menghadap Sang Merah Putih. Lagu Indonesia Raya berkumandang. Pancasila dibacakan. Sumpah setia kepada bangsa kembali diucapkan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun selesai upacara, media sosial kembali dipenuhi ujaran kebencian, politik identitas, provokasi agama, perang suku, hoaks, hingga saling melabeli sesama anak bangsa sebagai musuh.

Pertanyaannya sederhana tetapi mengusik:

Apakah nasionalisme kita masih hidup, atau hanya hadir setiap hari Senin?

Di sinilah pemikiran Bung Karno menjadi sangat relevan.

Nasionalisme yang diwariskan Bung Karno bukan sekadar hafalan pelajaran Pendidikan Pancasila. Nasionalisme bukan slogan yang dipasang di baliho setiap bulan Agustus, bukan pula sekadar lomba panjat pinang, konvoi bendera, atau diskon merah putih di pusat perbelanjaan.

Nasionalisme adalah cara berpikir, cara memandang sesama warga negara, sekaligus cara negara memperlakukan rakyatnya.

Bung Karno Tidak Mewariskan Nasionalisme yang Marah

Banyak orang memahami nasionalisme sebagai sikap paling keras mencintai negara.

BACA JUGA :  Bung Hatta, Maafkan Kami!

Padahal Bung Karno justru mengajarkan sesuatu yang lebih dewasa.

Beliau berkali-kali menolak nasionalisme sempit (chauvinisme).

Baginya, mencintai Indonesia bukan berarti membenci bangsa lain.

Sebaliknya, bangsa yang benar-benar mencintai negaranya akan menghormati kemanusiaan universal.

Kalimat Bung Karno yang sangat terkenal masih terdengar relevan hingga hari ini:

“Internasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berakar dalam bumi nasionalisme.”

Artinya jelas.

Orang yang tidak mencintai bangsanya sendiri akan sulit menghargai bangsa lain.

Namun sebaliknya, orang yang mengaku nasionalis tetapi gemar memecah belah rakyatnya sendiri juga sedang mengkhianati nasionalisme itu.

Nasionalisme Adalah Perekat, Bukan Alat Memukul Lawan Politik

Dalam perspektif sosiologi politik, bangsa bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja.

Sebagaimana dijelaskan Benedict Anderson melalui konsep imagined communities, bangsa adalah komunitas politik yang dibangun melalui kesadaran bersama.

Indonesia bahkan merupakan salah satu eksperimen sosial terbesar dalam sejarah dunia.

Lebih dari 17.000 pulau.

Ratusan kelompok etnis.

Ratusan bahasa daerah.

Berbagai agama dan budaya.

Semuanya sepakat hidup dalam satu rumah bernama Indonesia.

Rumah sebesar ini tentu tidak dibangun hanya dengan semen dan beton.

Ia dibangun oleh rasa percaya.

Oleh solidaritas.

Oleh nasionalisme.

Karena itu Bung Karno memahami bahwa tanpa identitas nasional yang kuat, Indonesia hanya akan menjadi kumpulan pulau yang saling berjauhan, bukan sebuah bangsa.

Bung Karno Sedang Melawan Kolonialisme, Kita Jangan Malah Sibuk Menjajah Sesama

Kolonialisme memang telah berakhir.

Namun bentuk penjajahan terus berubah.

Hari ini penjajahan bisa hadir melalui kemiskinan.

Ketimpangan ekonomi.

Korupsi.

Oligarki.

Penyebaran hoaks.

Politik identitas.

Hingga budaya saling membenci yang dipelihara demi keuntungan politik sesaat.

Ironisnya, kadang musuh terbesar bangsa ini bukan lagi datang dari luar negeri.

Melainkan berasal dari sesama anak bangsa yang lebih sibuk memenangkan kelompoknya dibanding menjaga Indonesia.

Bung Karno mungkin akan tersenyum getir melihat kondisi itu.

Dulu rakyat bersatu mengusir penjajah.

Sekarang sebagian orang justru rela memecah bangsa demi memenangkan kontestasi lima tahunan.

Nasionalisme Tidak Kenyang oleh Seremoni

Indonesia sangat kaya dengan simbol nasional.

Bendera.

Garuda.

Pancasila.

Bahasa Indonesia.

Upacara kenegaraan.

Semuanya penting.

Pierre Bourdieu menyebut simbol sebagai modal politik yang membangun identitas bersama.

Namun simbol hanya akan hidup apabila diikuti tindakan nyata.

Merah Putih akan kehilangan makna apabila masih ada rakyat yang lapar.

Pancasila kehilangan ruh apabila keadilan sosial hanya berhenti menjadi bunyi sila kelima.

Lagu Indonesia Raya akan terasa hampa apabila rakyat masih kesulitan memperoleh pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak.

Nasionalisme bukan sekadar menghormati bendera.

Nasionalisme adalah memastikan setiap warga negara dapat hidup bermartabat di bawah bendera itu.

Marhaenisme: Nasionalisme yang Membela Rakyat Kecil

Inilah keistimewaan nasionalisme Bung Karno.

Beliau tidak berhenti pada kemerdekaan politik.

Kemerdekaan harus menghadirkan kesejahteraan.

Melalui konsep Marhaenisme, Bung Karno menempatkan petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat miskin sebagai pusat pembangunan nasional.

Artinya, negara tidak boleh hanya sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan tanpa pemerataan hanya akan melahirkan ketimpangan.

Dan ketimpangan adalah musuh terbesar nasionalisme.

Bangsa yang timpang akan mudah terpecah.

Demokrasi Bukan Arena Permusuhan

Sebagian orang menganggap berbeda pilihan politik berarti berbeda kecintaan kepada Indonesia.