Scroll untuk baca artikel
BUDAYA

Tari Lulo, Lingkaran Persaudaraan Suku Tolaki yang Tak Lekang Zaman

×

Tari Lulo, Lingkaran Persaudaraan Suku Tolaki yang Tak Lekang Zaman

Sebarkan artikel ini
Tari Lulo atau Molulo merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Suku Tolaki, salah satu suku asli yang mendiami daratan Jazirah Tenggara Sulawesi. - foto dok TN

wawainews.id — Ketika tangan-tangan saling bertaut, kaki bergerak serempak mengikuti irama, dan sebuah lingkaran perlahan membesar, di sanalah Tari Lulo menemukan makna sejatinya. Bukan sekadar tarian, bukan pula hanya hiburan dalam pesta. Lulo adalah cara masyarakat Tolaki merayakan kebersamaan, menghormati sesama, sekaligus merawat ingatan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tari Lulo atau Molulo merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Suku Tolaki, salah satu suku asli yang mendiami daratan Jazirah Tenggara Sulawesi. Tarian ini dikenal sebagai tarian pergaulan yang melibatkan banyak orang tanpa membedakan usia, status sosial, maupun latar belakang. Siapa pun dapat masuk ke dalam lingkaran dan menjadi bagian dari tarian.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kesederhanaan gerak justru menjadi kekuatan Lulo. Para penari berdiri membentuk lingkaran, saling bergandengan tangan, kemudian menggerakkan kaki secara serempak mengikuti irama musik pengiring. Lingkaran itu terus bergerak, berputar, membesar ketika orang-orang baru ikut bergabung.

Tidak ada satu orang yang menjadi pusat perhatian. Tidak ada penari yang lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Semua bergerak dalam irama yang sama.

Di situlah filosofi Lulo terasa begitu kuat: manusia tidak berdiri sendiri. Kebersamaan hanya akan terjaga ketika setiap orang mampu bergerak dalam harmoni dengan orang lain.

BACA JUGA :  Nada dari Tangan Perempuan: Bebay Butabuh dan Detak Budaya Lampung

Jejak Sakral Tari Lulo dari Masa Lampau

Jauh sebelum dikenal sebagai tarian pergaulan seperti sekarang, Lulo memiliki hubungan erat dengan kehidupan agraris dan kepercayaan masyarakat Tolaki masa lalu.

Pada masa itu, Lulo bukan sekadar pertunjukan untuk menghibur masyarakat. Tarian ini menjadi bagian dari ritual yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, terutama setelah masa panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sanggoleo Mbae, yang dalam kepercayaan kuno masyarakat Tolaki dikaitkan dengan dewa padi.

Masyarakat berkumpul, membentuk lingkaran, kemudian menari bersama. Gerakan yang dilakukan secara kolektif menjadi simbol hubungan manusia dengan alam sekaligus rasa syukur atas hasil kehidupan yang mereka terima.

Lulo juga hadir dalam berbagai momentum penting kehidupan masyarakat Tolaki, termasuk upacara adat, pelantikan raja, ritual penyembuhan dan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat pada masa lampau.

Seiring perubahan zaman, fungsi sakral tersebut mengalami pergeseran. Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak ikut hilang.

Lulo justru menemukan bentuk baru sebagai tradisi sosial yang semakin terbuka.

Dari Ritual Adat Menjadi Simbol Persaudaraan

Hari ini, Tari Lulo telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara.

BACA JUGA :  Wagub Jabar Berharap Penobatan Sultan Baru Cirebon, Kolaborasi Majukan Budaya

Di Kota Kendari dan berbagai wilayah Sulawesi Tenggara, Lulo dapat dijumpai dalam pesta pernikahan, penyambutan tamu, festival budaya, kegiatan masyarakat hingga pesta rakyat.

Menariknya, siapa pun dapat masuk ke dalam lingkaran.

Tua dan muda berdiri bersama. Laki-laki dan perempuan menari dalam satu irama. Perbedaan status sosial, pekerjaan, bahkan latar belakang suku dan agama tidak menjadi penghalang untuk bergabung.

Lulo seolah memiliki pesan sederhana: ketika berada dalam satu lingkaran, semua orang adalah bagian dari kebersamaan.

Lingkaran yang terus membesar juga menjadi gambaran bagaimana sebuah masyarakat seharusnya tumbuh. Tidak menutup diri, tetapi membuka ruang bagi orang lain untuk datang dan menjadi saudara.

Ada Etika dalam Setiap Gandengan Tangan

Di balik gerakan yang terlihat sederhana, Tari Lulo memiliki aturan dan simbol yang menarik.

Salah satunya terlihat dari posisi tangan ketika para penari saling bergandengan. Dalam tradisi Lulo, telapak tangan laki-laki berada di bawah telapak tangan perempuan.

Posisi tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari teknik gerakan. Ia dimaknai sebagai bentuk penghormatan, perlindungan dan penghargaan terhadap perempuan.

Pesan tersebut membuat Lulo memiliki dimensi sosial yang kuat. Tarian ini tidak hanya berbicara mengenai bagaimana kaki bergerak mengikuti irama, tetapi juga bagaimana manusia menempatkan dirinya terhadap orang lain.

BACA JUGA :  Festival Limo Migo, Simfoni Budaya dari Enam Desa dalam Menjaga Warisan Leluhur di Lampung Timur

Ada penghormatan. Ada kebersamaan. Ada kesetaraan.

Dan semuanya dirajut dalam satu lingkaran.

Tak Ada Penari Utama, Tak Ada yang Boleh Berdiri Sendiri

Salah satu keunikan paling kuat dari Lulo adalah tidak adanya penari utama yang menjadi pusat perhatian.

Semua orang memiliki posisi penting.

Satu orang yang kehilangan irama dapat memengaruhi gerakan orang di sebelahnya. Sebaliknya, ketika semua mampu mengikuti irama secara bersama-sama, lingkaran akan bergerak dengan harmonis.

Filosofi tersebut sangat dekat dengan kehidupan sosial masyarakat.

Sebuah komunitas tidak akan kuat hanya karena satu orang. Ia membutuhkan banyak orang yang mau bergerak bersama, saling menyesuaikan dan menjaga keseimbangan.

Karena itu, Lulo dapat dibaca sebagai gambaran kecil tentang kehidupan masyarakat Tolaki: berbeda individu, tetapi tetap berada dalam satu kebersamaan.

Lulo yang Terus Hidup di Tengah Zaman Modern

Perubahan zaman ternyata tidak membuat Tari Lulo kehilangan tempat.

Justru sebaliknya, generasi muda terus membawa Lulo ke ruang-ruang baru. Ketukan gong tradisional dalam sejumlah pertunjukan dapat berpadu dengan aransemen musik modern hingga musik elekton.

Bentuk pengiringnya boleh berubah. Suasana pesta boleh berbeda. Generasi penarinya pun terus berganti.

Namun, satu hal tetap dipertahankan: lingkaran kebersamaan.