WawaiNEWS.ID – Sebuah patung figuratif berbentuk wanita yang dipamerkan dalam ajang seni internasional Desert X AlUla 2026 memicu perdebatan luas di Arab Saudi. Di media sosial, karya tersebut menuai kritik dari sebagian kalangan yang menilai kehadirannya tidak selaras dengan tradisi keagamaan dan budaya yang selama ini dijaga di wilayah Madinah.
Di sisi lain, penyelenggara pameran justru menyebut instalasi tersebut sebagai simbol keterbukaan budaya dan bagian dari transformasi Arab Saudi menjadi pusat seni serta pariwisata dunia. Perdebatan pun tak terhindarkan. Ketika seni kontemporer bertemu tradisi yang telah mengakar selama berabad-abad, yang muncul bukan hanya karya seni, tetapi juga benturan cara pandang.
Mengutip ArtNet, Senin (3/8/2026), karya yang menjadi pusat perhatian itu berjudul Najma, ciptaan seniman asal Santa Monica, Amerika Serikat, Lita Albuquerque. Patung berwarna biru elektrik tersebut menggambarkan sosok wanita yang duduk bermeditasi dalam posisi lotus dan ditempatkan di atas hamparan batu raksasa kawasan Wadi Al Fann, AlUla.
Instalasi itu segera menjadi bahan perbincangan karena menampilkan representasi figur manusia di kawasan yang berada dalam wilayah administratif Madinah, daerah yang memiliki nilai historis dan religius sangat penting bagi umat Islam.
Seni Bertemu Tradisi, Kontroversi Pun Muncul
Bagi sebagian kalangan konservatif, kehadiran patung figuratif tersebut dianggap tidak sejalan dengan tradisi seni Islam yang selama berabad-abad cenderung menghindari penggambaran makhluk bernyawa dalam konteks tertentu, terutama di ruang yang memiliki sensitivitas keagamaan.
Mereka menilai langkah tersebut mencerminkan dorongan modernisasi yang terlalu jauh dan kurang memperhatikan nilai-nilai budaya lokal.
Namun di sisi lain, banyak pengamat seni melihat pameran tersebut sebagai bagian dari transformasi besar Arab Saudi yang dalam beberapa tahun terakhir semakin membuka ruang bagi industri kreatif, seni kontemporer, hiburan, dan pariwisata sebagai bagian dari agenda diversifikasi ekonomi.
Satirnya, batu-batu gurun yang selama ribuan tahun hanya menjadi saksi perjalanan kafilah kini “ikut menyaksikan” perdebatan yang berpindah cepat ke layar ponsel dan media sosial. Yang panas bukan hanya cuaca AlUla, tetapi juga kolom komentar warganet.
Menanggapi gelombang kritik, Lita Albuquerque menyatakan bahwa karya tersebut bukan dimaksudkan untuk memancing kontroversi, melainkan membawa pesan universal mengenai pengetahuan dan kemanusiaan.
Menurutnya, tokoh Najma merupakan sosok astronaut fiktif yang datang ke Bumi untuk menyebarkan pemahaman, kebijaksanaan, dan perspektif global.
Ia bahkan menyebut kehadiran karya figuratif tersebut di Arab Saudi sebagai sebuah pencapaian penting dalam dunia seni internasional.
“Ini adalah momen bersejarah. Pintu akhirnya terbuka untuk kolaborasi seperti ini yang menyatukan seniman internasional, Timur Tengah, dan Arab Saudi. Ini bersejarah, bukan hanya karena figur ini ditampilkan, tetapi karena karya ini diterima,” ujar Lita Albuquerque.
Desert X AlUla dan Ambisi Baru Arab Saudi
Penyelenggara Desert X AlUla menjelaskan bahwa pameran tersebut menghadirkan 14 instalasi seni berskala besar yang ditempatkan di lanskap gurun AlUla.
Tujuannya bukan sekadar menghadirkan karya seni, tetapi juga membangun dialog lintas budaya, memperkenalkan kekayaan sejarah kawasan, sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang menjadi bagian dari program transformasi nasional Arab Saudi.
Kontroversi yang muncul menunjukkan bahwa transformasi sebuah negara tidak hanya berbicara tentang pembangunan infrastruktur atau investasi, tetapi juga menyentuh wilayah yang jauh lebih sensitif: identitas budaya, tradisi, dan cara masyarakat memaknai ruang publik.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai patung Najma menjadi pengingat bahwa sebuah karya seni bisa memiliki makna yang sangat berbeda, bergantung pada siapa yang memandangnya.
Bagi sebagian orang, ia adalah simbol dialog dan keterbukaan. Bagi sebagian lainnya, ia dianggap melampaui batas yang selama ini dijaga. Di titik itulah seni berhenti menjadi sekadar objek visual dan berubah menjadi ruang diskusi yang memancing beragam tafsir.***













