Scroll untuk baca artikel
OPINI

G30S/PKI: Semua Korban Ideologi

×

G30S/PKI: Semua Korban Ideologi

Sebarkan artikel ini
ilustrasi salah satu kekejaman PKI, foto net
Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi 

wawaiNews.id – Enam dekade sudah berlalu, tetapi luka 1965 belum sepenuhnya selesai. Perdebatan sering diarahkan pada siapa korban dan siapa pelaku 1 Oktober 1965. Pencermatannya kerap berhenti pada aspek mikro, sementara aspek makro terlepas dari perhatian.

Secara makro ada pertanyaan lebih mendasar: bukankah bangsa Indonesia sendiri yang menjadi korban? Indonesia berusaha dibelah melalui ideologi, seperti mengulang luka Paregreg pada era Majapahit. Bedanya, kali ini Indonesia berada di tengah pertarungan ideologi global. Ideologi telah membelah bangsa Indonesia.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Ada sebagian anak bangsa dibuat percaya pada jalan idiologi komunis. Menjadi perpanjangan tangan dari agenda komunisme internasional. Ada sebagian lagi percaya dengan teguh pada kepentingan nasionalnya sendiri. Berdasar idiologi bangsanya sendiri. Keduanya mengalami benturan.

Menjelang 1 Oktober 1965, PKI berada pada puncak kekuatan politiknya. PKI memiliki sekitar tiga juta anggota dan jaringan organisasi massa yang mengklaim sekitar 15 juta anggota.

PKI merupakan organisasi komunis terbesar di negara nonkomunis dan memiliki hubungan erat dengan jaringan komunisme internasional. Hubungan Jakarta–Beijing dan Jakarta–Moskow sama-sama menjadi bagian dari konfigurasi geopolitik tersebut.

BACA JUGA :  Kabinet Zaken dengan Observer Tentara?

Dalam perkembangan berikutnya, orientasi PKI semakin dekat kepada Beijing, di tengah perpecahan gerakan komunis dunia. Komunis Soviet memilih dan menempuh jalan strategi parlementaria dalam perebutan kekuasaan. Sedangkan Komunisme RRC membenarkan dan menempuh jalan revolusioner kekerasaan dalam merebut kekuasaan.

Pada saat yang sama, Indonesia berada dalam pusaran Perang Dingin. Pertarungan ideologi bukan lagi sekadar persoalan politik domestik, tetapi terkait dengan perebutan pengaruh global.

Pertanyaan besarnya adalah: ke mana Indonesia akan dibawa? Ke arah negara komunis atau tetap dalam jalan politik yang menolak komunisme? Di antara dua kecenderungan itu berdiri berbagai kekuatan nasionalis, keagamaan, militer, dan nonkomunis.

Dalam situasi itulah G30S/PKI terjadi. Sejumlah pimpinan PKI, termasuk D.N. Aidit, terlibat dalam pengorganisasian gerakan tersebut bersama kelompok perwira militer yang dibinanya sejak lama. Ingin merebut kekuasaan Indonesia dan menjadikan negara Komunis. Jika berhasil, akan menjadi negara komunis terbesar ketiga setelah Soviet dan RRC.

BACA JUGA :  Muslim dalam Peradaban Teknik

Gerakan itu gagal dan PKI segera runtuh. Enam jenderal dan Pierre Tendean menjadi korban pembunuhan. PKI meghadapi perlawanan balik tentara dan elemen non komunis.

Yang kemudian runtuh bukan seketika basis massa PKI, melainkan struktur kekuasaan politik yang menopangnya. Sebelum 1 Oktober 1965, PKI memiliki kekuasaan superior. Membuat lawan-lawanya ciut nyali.

Sesudah 1 Oktober, Indonesia memasuki konflik internal bersenjata skala luas. Antara Oktober -Desember 1965. Sesama anak bangsa berhadapan: kekuatan komunis melawan kekuatan nonkomunis.

Tidak ada dua pemerintahan dan garis depan teritorial seperti perang saudara klasik. Tetapi terjadi mobilisasi, perebutan pengaruh, penyerangan, pembalasan, dan kekerasan politik.

Konflik itu kemudian berkembang menjadi kekerasan massal yang menewaskan sekitar setengah juta orang dan menyebabkan ratusan ribu lainnya ditahan tanpa proses peradilan. Angka dan distribusinya terus menjadi objek penelitian, tetapi besarnya tragedi tersebut tidak terbantahkan.

Indonesia diadu oleh ideologi. Berbeda dengan Jerman, Korea, atau Vietnam yang terbelah secara teritorial, Indonesia tetap satu secara geografis, tetapi terbelah secara politik, sosial, dan psikologis. Energi bangsa terkuras oleh konflik ideologi dan dampaknya terasa selama puluhan tahun.

BACA JUGA :  Anti Dwifungsi Meleleh, Kenapa ?

Karena itu, hakekatnya 1965 bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. 1965 adalah luka Indonesia. Luka bersama. Dipicu oleh pemujaan terhadap idiologi Komunisme sebagian warganya.

Semua pihak (komunis-non komunis dan simpatisannya) memiliki korban. Tetapi seluruh korban itu berada dalam satu bangsa yang sama. Itulah sebabnya korban terbesar adalah Indonesia.

Pancasila adalah titik temu Indonesia. Ia bukan milik satu golongan, melainkan fondasi bersama agar perbedaan politik dan ideologi tidak kembali berubah menjadi pertarungan yang menghancurkan bangsa. Kesetiaan dan kebanggaan terhadap idiologi bangsa Pancasila sangat diperlukan.

Kita tidak bisa membiarkan Paregreg kedua, dan seterusnya terjadi. Sebab dalam tragedi G30S/PKI, pada akhirnya bukan hanya satu kelompok yang kehilangan. Yang terluka adalah Indonesia.

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.***