KOTA BEKASI – Apel pagi gabungan Pemerintah Kota Bekasi, pada Senin (18/5/2026), tak sekadar menjadi rutinitas ASN berdiri rapi mendengar arahan pimpinan.
Di balik seremoni penghargaan dan pidato formal itu, terselip potret lengkap wajah Kota Bekasi hari ini yakni ada atlet berprestasi internasional, kampung keluarga terbaik, angka pengangguran yang menurun, tetapi juga ada ancaman serius soal minimnya kursi SMP negeri dan kewaspadaan terhadap hantavirus.
Pelaksana Harian (PLH) Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, memimpin langsung apel yang digelar di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Pemkot memberikan penghargaan kepada atlet Savate Kota Bekasi yang sukses membawa pulang tiga medali emas dan satu perak dari ajang Asia Savate Championship serta Himalaya Open International di Nepal.
Di tengah dominasi cabang olahraga populer, prestasi Savate ini menjadi pengingat bahwa atlet daerah tetap bisa bersinar meski kadang harus berjuang lebih keras dibanding popularitas olahraga “mainstream”.
Selain atlet, penghargaan juga diberikan kepada Kampung Keluarga Berkualitas Kenanga Bintara Jaya yang berhasil meraih juara pertama tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2026.
“Kami mengucapkan selamat kepada para penerima penghargaan atas dedikasi dan kontribusinya bagi kemajuan Kota Bekasi,” ujar Abdul Harris.
Namun suasana apel berubah lebih serius ketika pembahasan masuk ke sektor pendidikan.
Pemkot Bekasi mengungkap fakta yang mulai membuat banyak orang tua deg-degan menjelang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Jumlah lulusan SD di Kota Bekasi tahun ini mencapai 34.893 siswa. Sementara daya tampung SMP negeri hanya tersedia 18.957 kursi.
Artinya, lebih dari 15 ribu siswa terancam tidak tertampung di sekolah negeri. Ini bukan sekadar angka statistik.
Bagi banyak keluarga, khususnya kelas menengah dan pekerja, kursi SMP negeri masih dianggap “jalur penyelamat ekonomi” di tengah biaya pendidikan yang terus naik.
Akibatnya, setiap musim penerimaan siswa baru di Bekasi sering terasa seperti “kompetisi nasional”: server sibuk, orang tua panik, dan grup WhatsApp penuh pertanyaan.
Abdul Harris meminta Dinas Pendidikan dan jajaran kecamatan lebih transparan dalam memberikan informasi kepada masyarakat.
Ia juga meminta masyarakat diberi pemahaman soal alternatif pendidikan lain, termasuk sekolah swasta dan program keterampilan.
Namun di lapangan, persoalannya sering bukan sekadar pilihan sekolah melainkan kemampuan membayar.
Dalam arahannya, Abdul Harris juga menyampaikan angka pengangguran di Kota Bekasi turun menjadi 7,33 persen pada 2026 dari sebelumnya 7,83 persen di tahun 2025.
Penurunan ini dinilai sebagai perkembangan positif. Namun ia mengingatkan bahwa pemerintah tidak boleh hanya puas dengan statistik penurunan angka.
“Tingkat pengangguran turun, tetapi harus diimbangi dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang berkualitas,” katanya.
Pernyataan ini cukup relevan di tengah realitas perkotaan saat ini bahwa, bekerja memang lebih baik daripada menganggur, tetapi masyarakat juga mulai mempertanyakan kualitas pekerjaan, kestabilan penghasilan, hingga masa depan karier.
Sebab di kota penyangga metropolitan seperti Bekasi, banyak warga bekerja keras setiap hari, tetapi tetap merasa hidup makin mahal.
Selain pendidikan dan ketenagakerjaan, Pemkot Bekasi juga menyoroti persiapan keberangkatan calon jamaah haji.
Pemerintah daerah disebut terus berkoordinasi dengan Kementerian Agama dan Kementerian Haji dan Umrah untuk mendukung kelancaran ibadah warga Bekasi ke Tanah Suci.
Abdul Harris bahkan mengajak masyarakat mendoakan jamaah haji, termasuk Wali Kota Bekasi, agar diberi kesehatan dan keselamatan selama menjalankan ibadah.
Di sisi lain, Pemkot turut mengapresiasi geliat masyarakat di kawasan Car Free Day (CFD) GOR dan Alun-alun Kota Bekasi.
Menurutnya, ruang publik kini tidak hanya menjadi tempat olahraga dan rekreasi, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat.
Fenomena ini memang makin terlihat:
CFD sekarang bukan hanya tempat jogging, tetapi juga arena UMKM, konten media sosial, hingga “pasar dadakan” warga kota.
Tak hanya bicara pembangunan dan ekonomi, Pemkot Bekasi juga mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus yang dilaporkan telah ditemukan di Indonesia.
Abdul Harris meminta Dinas Kesehatan dan seluruh puskesmas memperkuat deteksi dini, edukasi masyarakat, sistem pelaporan, hingga pengendalian vektor penyakit.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setelah pandemi besar berlalu, ancaman kesehatan baru tetap bisa muncul kapan saja.
Dan kota padat seperti Bekasi harus selalu siap menghadapi risiko tersebut.
Menutup arahannya, Abdul Harris meminta seluruh jajaran Pemerintah Kota Bekasi memperkuat sinergi dan bergerak cepat dalam meningkatkan pelayanan publik.
“Kami mengharapkan sinergi dan kerja cepat seluruh jajaran demi pelayanan publik yang lebih baik dan kesejahteraan masyarakat Kota Bekasi,” tutupnya.
Di balik apel pagi yang terlihat formal itu, tersimpan satu kenyataan bahwa Kota Bekasi hari ini memang terus bergerak maju, tetapi PR kotanya juga terus bertambah.***













