Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

Dari Rumah Kontrakan ke Undangan Istana, Kisah Haru Putra Pengetik Naskah Proklamasi Bikin Indonesia Terenyuh

×

Dari Rumah Kontrakan ke Undangan Istana, Kisah Haru Putra Pengetik Naskah Proklamasi Bikin Indonesia Terenyuh

Sebarkan artikel ini
Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe didampingi anggota dewan menemui anak pengetik naskah proklamasi Sayuti Melik, Heru Baskoro (84) di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi, untuk mengundang hadir di HUT RI Kamis (6/8) - foto dok.

KOTA BEKASI – Sejarah kadang menyimpan ironi yang sulit dijelaskan. Di balik megahnya peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, terselip kisah seorang anak tokoh bangsa yang pernah menjalani hari-hari dalam kesederhanaan.

Ia adalah Heru Baskoro (84), putra kandung Sayuti Melik, sosok yang mengabadikan detik-detik lahirnya Indonesia dengan mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kini, menjelang peringatan kemerdekaan, kabar yang menghangatkan hati datang menghampiri Heru. Bersama sang istri, Treyzia Noviani (65), ia mendapat undangan khusus dari Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara.

Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe saat mengunjungi Heru di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Kota Bekasi, didampingi jajaran dinas terkait serta anggota DPRD Kota Bekasi Misbah (Fraksi Gerindra) dan Ahmadi Madong (Fraksi PKB).

“Bersilaturahmi, memastikan kondisi beliau saat ini serta menyampaikan pesan Bapak Presiden RI Prabowo Subianto bahwa pada HUT Kemerdekaan nanti beliau beserta istri menjadi tamu undangan kehormatan di Istana Negara Jakarta,” ujar Abdul Harris Bobihoe, pada Kamis (6/8).

BACA JUGA :  Viral Dulu, Ditutup Kemudian: 15 Kafe Pasar Bintara Akhirnya Tumbang Usai THM Ramadan Jadi Sorotan

Kunjungan itu bukan sekadar seremoni. Di teras STPL, Wakil Wali Kota berbincang hangat dengan Heru dan istrinya, menyerahkan buah tangan, sekaligus memastikan keduanya mendapatkan pendampingan yang layak.

Sebelumnya, Heru dan istrinya telah dievakuasi dari rumah kontrakan di kawasan Rawalumbu, Kota Bekasi, menuju STPL untuk memperoleh layanan residensial, rehabilitasi medis, serta pendampingan psikososial.

Bagi banyak orang, perpindahan itu mungkin hanya sebuah proses bantuan sosial. Namun bagi keluarga Heru, itu menjadi awal hadirnya kembali perhatian negara terhadap keluarga yang memiliki ikatan erat dengan sejarah lahirnya Republik Indonesia.

Sayuti Melik, Pengetik yang Mengabadikan Kemerdekaan

Nama Sayuti Melik tercatat dalam lembar emas sejarah bangsa. Pada dini hari 17 Agustus 1945, di rumah Laksamana Tadashi Maeda, ia dipercaya mengetik naskah Proklamasi yang sebelumnya ditulis tangan oleh Soekarno setelah melalui pembahasan bersama para tokoh kemerdekaan.

BACA JUGA :  Penerapan New Normal di Kota Bekasi, Begini Penjelasannya

Sayuti Melik pula yang melakukan sejumlah penyempurnaan redaksional pada naskah tersebut, termasuk mengganti penulisan “tempoh” menjadi “tempo” dan menuliskan penandatanganan atas nama “Soekarno/Hatta”. Hasil ketikannya kemudian menjadi dokumen bersejarah yang dibacakan Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, menandai lahirnya Republik Indonesia.

Karena itulah, nama Sayuti Melik tidak hanya dikenal sebagai pengetik naskah proklamasi, tetapi juga sebagai salah satu saksi penting lahirnya bangsa.

Momentum undangan ke Istana bagi Heru Baskoro menjadi simbol bahwa jasa para pejuang dan keluarganya tetap memiliki tempat dalam ingatan bangsa.

Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe menyebut momen tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun oleh banyak tokoh yang bekerja dalam sunyi, tanpa berharap pujian ataupun kemewahan.

“Momentum ini menjadi pengingat kita semua akan torehan sejarah perjuangan kemerdekaan,” ujarnya.

Sementara itu, Treyzia Noviani tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Dengan mata berbinar, ia mengaku bahagia dan berterima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah serta undangan langsung dari Presiden.

BACA JUGA :  Wali Kota Turun Tangan: Tri Adhianto Redam Aksi Buruh Bekasi Tuntut Kenaikan UMK 2026

Bagi keluarga kecil itu, undangan ke Istana bukan sekadar menghadiri upacara kenegaraan. Lebih dari itu, undangan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang sebuah keluarga yang namanya telah menyatu dengan sejarah kemerdekaan Indonesia.

Ada sebuah ironi yang sering terdengar setiap bulan Agustus: “Kita hafal isi Proklamasi, tetapi kadang lupa bertanya bagaimana kabar keluarga mereka yang ikut menuliskan sejarah.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, namun menjadi pengingat bahwa menghormati pahlawan tidak berhenti pada upacara dan pengibaran bendera. Menghargai mereka juga berarti memastikan keluarga para pejuang tetap merasakan kehadiran negara.

Kisah Heru Baskoro menjadi bukti bahwa sejarah bukan hanya tersimpan di buku pelajaran. Ia hidup dalam sosok-sosok yang masih ada di sekitar kita, membawa kenangan, keteladanan, sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari pengorbanan banyak tangan yang bekerja tanpa sorotan.***