LAMPUNG – Kapolda Lampung, Helfi Assegaf, menegaskan pihaknya masih terus memburu pelaku penembakan yang menewaskan Brigadir Arya saat memergoki aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Bandar Lampung, Sabtu (9/5/2026).
Meski media sosial sudah ramai “mengadili dan menyimpulkan”, polisi memastikan proses penyelidikan masih berjalan dan belum semua informasi yang beredar dapat dibenarkan.
“Sedang melakukan pengejaran, nanti kita pers rilis,” ujar Kapolda kepada awak media di Mapolda Lampung, Selasa (12/5/2026).
Pernyataan itu sekaligus menjawab berbagai spekulasi liar yang berkembang pasca viralnya video penangkapan dramatis di depan lapangan Desa Gunung Mekar, Kecamatan Jabung, Lampung Timur.
Dalam video yang beredar luas, tampak aparat bersenjata melakukan penyergapan di siang hari dengan suara letusan senjata api yang memicu kepanikan warga sekitar. Netizen pun langsung mengaitkan video tersebut dengan kasus penembakan anggota Intel Polda Lampung.
Namun saat ditanya soal video viral tersebut, Kapolda menegaskan bahwa semuanya masih dalam tahap pendalaman.
“Ini masih proses penyelidikan. Nanti setelah ada kepastian akan kita konfirmasi. Banyak yang harus kita cocokkan,” kata Helfi Assegaf.
Kapolda juga mengungkapkan pihaknya masih mendalami keberadaan senjata api milik Brigadir Arya yang dikabarkan hilang setelah insiden penembakan.
“Setelah selesai akan kita informasikan,” tandasnya.
Sebelumnya, media sosial diramaikan berbagai narasi yang menyebut terduga pelaku yang ditangkap merupakan warga Gunung Mekar, Kecamatan Jabung. Bahkan sebagian akun menyebut satu pelaku lain diamankan di wilayah Pesawaran.
Narasi tersebut langsung menyebar cepat bak “breaking news tanpa ruang redaksi”. Sebagian akun media sosial hingga konten kreator lokal bahkan sudah membuat kesimpulan sendiri sebelum polisi mengumumkan hasil resmi penyelidikan.
Namun Kepala Desa Gunung Mekar, Edi Prayitno, langsung meluruskan informasi tersebut. Ia memastikan pria yang diamankan aparat bukan warga desa setempat maupun warga Kecamatan Jabung.
“Banyak yang menghubungi saya menanyakan siapa yang ditangkap. Saya pastikan bukan warga sini atau Kecamatan Jabung. Informasinya warga Pesawaran, tapi lebih jelasnya silakan tanya langsung ke polisi,” tegas Edi.
Menurutnya, informasi di media sosial berkembang terlalu jauh hingga seolah-olah aparat melakukan penggerebekan rumah warga di Gunung Mekar. Padahal, berdasarkan keterangan warga dan aparat, penangkapan terjadi di jalan depan lapangan desa.
“Bukan penggerebekan rumah. Penangkapannya di jalan, tepat di depan lapangan Desa Gunung Mekar,” jelasnya.
Edi juga menyebut saat penangkapan berlangsung terdapat dua orang di atas satu sepeda motor. Namun hanya satu orang yang berhasil diamankan, sementara satu lainnya disebut lolos.
“Katanya ada dua orang, satu berhasil kabur,” ujarnya.
Pernyataan senada datang dari tokoh pemuda Kecamatan Jabung yang memastikan belum ada informasi warga dari tiga desa induk Kecamatan Jabung Negara Batin, Jabung, dan Negara Saka yang ditangkap dalam operasi tersebut.
“Sampai sekarang belum ada informasi warga Jabung yang ditangkap. Dari aparat juga disebut bukan warga sini,” katanya.
Akibat narasi yang telanjur viral, perdebatan sengit pun pecah di media sosial. Banyak warga Jabung turun langsung ke kolom komentar untuk meluruskan informasi yang dianggap menyesatkan dan merugikan nama daerah mereka.
Warga keberatan karena nama Jabung terus dikaitkan dengan pelaku kriminal, padahal identitas resmi belum diumumkan kepolisian.
“Warga sini sampai sibuk klarifikasi di komentar. Belum ada kepastian tapi sudah ramai menuduh,” tulis salah satu akun warga.
Yang lebih ironis, sejumlah akun bahkan memajang foto pelaku lain yang tidak berkaitan dengan kasus penembakan Brigadir Arya, lalu memberi caption provokatif seolah pelaku sudah tertangkap. Padahal foto tersebut disebut berasal dari kasus berbeda yang terjadi sebelum insiden penembakan polisi.
Fenomena ini kembali memperlihatkan bagaimana media sosial sering bergerak lebih cepat daripada proses hukum. Video belum diverifikasi, identitas belum diumumkan, tetapi “sidang netizen” sudah menjatuhkan vonis.
Di tengah situasi tersebut, polisi meminta masyarakat tidak mudah terpancing narasi liar dan tetap menunggu informasi resmi dari aparat penegak hukum terkait perkembangan kasus penembakan Brigadir Arya maupun video penangkapan yang viral di Lampung Timur.***













