Scroll untuk baca artikel
OPINI

Maulid Nabi dan Antibodi Peradaban

×

Maulid Nabi dan Antibodi Peradaban

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi

Maulid bukan sekadar mengingat kapan Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan.

Maulid adalah kesempatan untuk mengukur kembali apakah nilai-nilai yang beliau bawa masih hidup dalam diri kita.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Jika kita rajin bershalawat tetapi gemar menghina orang lain, ada yang perlu dikoreksi.

Jika kita berbicara tentang Nabi sebagai pembawa rahmat tetapi menikmati kebencian terhadap kelompok berbeda, ada yang perlu direnungkan.

Jika kita mengagungkan kesederhanaan Nabi tetapi mengejar kemewahan tanpa batas, ada pertanyaan moral yang harus dijawab.

Jika kita memuji keadilan Nabi tetapi membenarkan ketidakadilan ketika dilakukan kelompok sendiri, berarti kita baru mengagumi sosoknya, belum sepenuhnya menghidupkan ajarannya.

Maulid seharusnya membawa kita dari kekaguman menuju keteladanan.

Dari seremoni menuju transformasi.

Dari simbol menuju substansi.

Antibodi Peradaban

Karena itu, misi profetik Nabi Muhammad SAW dapat dibaca sebagai antibodi peradaban.

BACA JUGA :  Didit Prabowo: Rekonsiliasi Simbolik dalam Sejarah Raja-Raja

Ukhuwah menjadi antibodi terhadap polarisasi.

Keadilan menjadi antibodi terhadap ketimpangan.

Karamah insaniyyah menjadi antibodi terhadap dehumanisasi.

Amanah menjadi antibodi terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Rahmah menjadi antibodi terhadap kekerasan.

Zakat dan solidaritas sosial menjadi antibodi terhadap kesenjangan.

Pemaafan menjadi antibodi terhadap budaya dendam.

Tazkiyah penyucian jiwa menjadi antibodi terhadap kesombongan dan narsisme.

Dan pengendalian diri menjadi antibodi terhadap penyalahgunaan kekuatan.

Persoalannya, antibodi hanya berguna jika benar-benar masuk ke dalam tubuh peradaban.

Ia tidak cukup dipajang sebagai slogan.

Nilai-nilai kenabian harus masuk ke dalam kebijakan publik, perilaku politik, praktik ekonomi, pendidikan, hukum, teknologi, media dan kehidupan sehari-hari.

Teknologi Boleh Berlari, Akhlak Jangan Tertinggal

Modernitas tidak membutuhkan manusia untuk kembali ke abad ketujuh.

Yang dibutuhkan adalah membawa nilai-nilai universal yang diajarkan Nabi Muhammad SAW agar abad ke-21 tidak kehilangan kemanusiaannya.

Teknologi boleh semakin cepat.

Kecerdasan buatan boleh semakin pintar.

BACA JUGA :  Tokoh-Tokoh Bangsa yang Dipenjara Presiden Soekarno

Ekonomi boleh semakin besar.

Kekuasaan boleh semakin kompleks.

Tetapi manusia harus tetap memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang mungkin dilakukan dan yang layak dilakukan.

Sebab tidak semua yang bisa dilakukan secara teknologi otomatis benar secara moral.

Di situlah akhlak menjadi penting.

Teknologi memberikan kemampuan.

Akhlak memberikan arah.

Kekuasaan memberikan daya.

Amanah memberikan batas.

Kebebasan memberikan pilihan.

Tanggung jawab memberikan konsekuensi.

Dan pengetahuan memperluas kemungkinan, sementara kebijaksanaan menentukan mana yang seharusnya dipilih.

Nabi untuk Sepanjang Zaman

Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, dengan demikian, bukan nostalgia terhadap masa lalu.

Ia adalah panggilan moral untuk setiap zaman.

Bukan untuk membawa manusia mundur ke abad ketujuh, melainkan untuk memastikan bahwa kemajuan abad ke-21 dan abad-abad sesudahnya tetap memiliki jiwa kemanusiaan.

Sebab persoalan manusia pada dasarnya tidak banyak berubah.

Manusia tetap membutuhkan keadilan.

Tetap membutuhkan kasih sayang.

Tetap membutuhkan martabat.

BACA JUGA :  Karma Geopolitik

Tetap membutuhkan pengendalian diri.

Tetap membutuhkan pemimpin yang amanah.

Tetap membutuhkan distribusi kekayaan yang adil.

Tetap membutuhkan kemampuan hidup berdampingan dengan perbedaan.

Yang berubah hanyalah bentuk penyakitnya.

Dan karena penyakit peradaban terus berevolusi, nilai-nilai yang menjadi antibodinya harus terus dihidupkan.

Itulah makna terdalam Maulid Nabi.

Bukan sekadar memperingati kelahiran seorang manusia mulia, tetapi menghidupkan kembali misi kemanusiaan yang dibawanya.

Ketika teknologi dituntun akhlak, kekuasaan dikendalikan amanah, kekayaan disertai keadilan, kebebasan dipertanggungjawabkan, perbedaan diperlakukan dengan adil, dan manusia kembali ditempatkan sebagai manusia—di situlah rahmat Nabi Muhammad SAW benar-benar hadir dalam peradaban.

Bukan hanya untuk abad ketujuh.

Bukan hanya untuk abad ke-21.

Tetapi sepanjang zaman.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Jakarta, ARS
(rohmanfth@gmail.com)
Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu sosial, politik, hukum, kebijakan publik dan peradaban.***