Scroll untuk baca artikel
HEADLINESLAMPUNG

Rumah Adat Lampung Masih Terjaga, Tapi Jalan Pekon Way Haru Berlumpur dan Listrik Belum Ada, Di Mana Pembangunan?

×

Rumah Adat Lampung Masih Terjaga, Tapi Jalan Pekon Way Haru Berlumpur dan Listrik Belum Ada, Di Mana Pembangunan?

Sebarkan artikel ini
Potret Pekon Way Haru, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Kampung tua yang telah berdiri sejak 1819 ini masih mempertahankan rumah-rumah tradisionalnya. Namun, di balik keasrian dan nilai sejarahnya, keterbatasan infrastruktur serta akses jalan berlumpur menjadi gambaran panjangnya perjuangan warga menghadapi keterisolasian. (Foto: Tangkapan layar video Facebook Esa Smara Art)

PESISIR BARAT – Usianya sudah lebih dari dua abad. Pekon Way Haru, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, menyimpan sejarah panjang sejak 1819. Rumah-rumah tradisional masih berdiri, tatanan permukiman mempertahankan wajah kampung lama, dan kehidupan masyarakatnya menyimpan jejak peradaban yang diwariskan lintas generasi.

Namun, di balik nilai sejarah dan keasrian perkampungan tersebut, terselip kenyataan yang memprihatinkan. Jalan lingkungan masih berupa tanah berlumpur, akses infrastruktur terbatas, dan menurut keterangan pembuat video yang beredar di media sosial, masyarakat setempat juga belum menikmati aliran listrik.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Potret itu memperlihatkan ironi sebuah pekon tua yang telah melewati perjalanan sejarah lebih dari 200 tahun, tetapi kemajuan pembangunan masih berjalan sangat lambat akibat keterisolasian wilayah.

Pemandangan Pekon Way Haru tersebut menjadi perhatian setelah diunggah akun Facebook Esa Smara Art. Video itu memperlihatkan deretan rumah warga dengan arsitektur tradisional, lingkungan permukiman yang relatif tertata, serta jalan tanah yang membentang di antara rumah-rumah penduduk.

Sekilas, suasananya menghadirkan romantisme kampung tempo dulu. Tetapi bagi warga yang setiap hari tinggal di sana, jalan berlumpur bukan sekadar pemandangan yang mengundang nostalgia. Kondisi tersebut merupakan bagian dari tantangan kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :  Warga Pugung Tambal Jalan Provinsi, Pemerintah Tambal Janji

Pekon Way Haru sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang menghadapi keterisolasian geografis. Wilayah Kecamatan Bangkunat disebut memiliki empat pekon dalam kategori tertinggal. Way Haru juga masuk dalam kawasan 3T, yakni daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Keterisolasian menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pembangunan berjalan lamban. Keterbatasan akses dan infrastruktur membuat masyarakat menghadapi tantangan lebih besar dalam memperoleh fasilitas dasar maupun menjangkau pusat pelayanan.

Keunikan Pekon Way Haru justru terletak pada wajah tradisionalnya. Rumah-rumah lama masih berdiri dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Sejumlah warganet yang menyaksikan video tersebut bahkan mengaku kagum karena karakter asli perkampungan Lampung itu belum banyak tergerus perubahan zaman.

Salah seorang warganet mengaku pernah berkunjung ke wilayah tersebut pada 1993 ketika masih kuliah. Selama sebulan, ia pernah mengikuti kegiatan kerja bakti bersama masyarakat setempat. Kenangan yang masih melekat adalah keramahan penduduk dan kehidupan kampung yang begitu bersahaja.

BACA JUGA :  Korban Begal Payudara di Lampung Timur Trauma, Minta Pelaku Ditangkap dan Dihukum

Warganet lainnya menilai tata bangunan rumah di pekon tersebut cukup rapi. Ada pula yang berharap rumah-rumah tradisional tetap dipertahankan dan dirawat, sementara jalan lingkungan mulai dibangun dengan konstruksi yang lebih layak.

Namun, komentar lain justru menyoroti kondisi infrastruktur yang dinilai seperti suasana tahun 1980-an. Bahkan, muncul pertanyaan mengenai penggunaan dana pekon ketika akses jalan masih berupa tanah berlumpur.

Pembuat video, Esa Smara Art, juga menjawab pertanyaan salah seorang warganet mengenai ketersediaan listrik dengan menyebut bahwa aliran listrik belum tersedia.

Jika kondisi tersebut masih berlangsung, persoalan Pekon Way Haru tentu bukan sekadar pembangunan jalan. Ketersediaan listrik, akses transportasi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik merupakan kebutuhan mendasar yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Keterisolasian geografis memang menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam membangun wilayah seperti Way Haru. Namun, kondisi geografis tidak seharusnya membuat masyarakat harus terus menunggu terlalu lama untuk menikmati pembangunan yang layak.

Semangat gotong royong yang muncul dalam komentar warganet patut diapresiasi. Ada yang mengusulkan setiap keluarga menyumbangkan dua sak semen untuk membantu memperbaiki jalan. Gagasan tersebut mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

BACA JUGA :  Pemprov Gelontorkan Rp4 Miliar, Pembangunan Jalan di Lambar

Tetapi pembangunan infrastruktur dasar tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat. Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab menghadirkan pemerataan pembangunan, terutama bagi wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dan pemerintah provinsi perlu memberikan perhatian terhadap kondisi Pekon Way Haru. Pemetaan kebutuhan infrastruktur, peningkatan akses jalan, ketersediaan listrik, serta pelayanan dasar perlu menjadi bagian dari prioritas pembangunan kawasan terisolasi.

Pekon Way Haru tidak harus kehilangan rumah tradisional dan identitas budayanya untuk disebut maju. Justru keaslian perkampungan yang telah bertahan sejak 1819 itu merupakan kekayaan sejarah yang patut dilestarikan.

Namun, masyarakatnya juga berhak menikmati kehidupan yang lebih baik.

Jangan sampai usia pekonnya sudah lebih dari 200 tahun, tetapi persoalan jalan, listrik, dan keterbatasan akses masih menjadi cerita yang sama bagi generasi berikutnya.

Way Haru bukan sekadar kampung tua yang menyimpan sejarah. Di sana ada masyarakat yang juga berhak merasakan arti kemerdekaan pembangunan.***