Scroll untuk baca artikel
EkonomiZona Bekasi

“Tempe Makin Kurus, Dompet Makin Kritis!” Rupiah Melemah, Harga Kedelai di Bekasi Naik, Pengrajin Menjerit

×

“Tempe Makin Kurus, Dompet Makin Kritis!” Rupiah Melemah, Harga Kedelai di Bekasi Naik, Pengrajin Menjerit

Sebarkan artikel ini
Foto: Getty Images/iStockphoto

KOTA BEKASI — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan dampaknya di dapur masyarakat. Bukan hanya harga barang impor yang naik, kini tahu dan tempe makanan rakyat yang selama ini identik dengan menu “penyelamat akhir bulan” ikut terdampak.

Harga kedelai impor sebagai bahan baku utama produksi tahu dan tempe di Kota Bekasi mengalami kenaikan signifikan. Akibatnya, para pengrajin mulai kelimpungan menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli konsumen.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Berdasarkan hasil monitoring Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi, harga kedelai kuning yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.800 per kilogram kini melonjak menjadi Rp10.800 per kilogram.

Kenaikan seribu rupiah per kilogram mungkin terlihat kecil di atas kertas. Namun bagi pelaku usaha kecil yang setiap hari bergantung pada margin tipis, selisih tersebut bisa menentukan apakah dapur produksi tetap mengepul atau justru ikut “mati gaya”.

BACA JUGA :  Revitalisasi Pasar Kranji Dimulai, Kabid Pasar: Target Dua Tahun Bisa Ditempati

Kepala Disdagperin Kota Bekasi, Ika Indah Yarti, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan harga dan pasokan kedelai di pasar.

“Kami terus memonitor harga kedelai di lapangan dan melaporkannya secara berkala melalui SP2KP. Harga ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar dolar,” ujar Ika, Senin (25/5).

Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor membuat komoditas ini sangat sensitif terhadap gejolak kurs dolar AS.

Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis naik. Efek dominonya kemudian menjalar ke pasar tradisional, dapur pengrajin, hingga meja makan masyarakat.

Ironisnya, di negeri agraris yang tanahnya subur, tahu dan tempe justru masih sangat bergantung pada kedelai impor. Akibatnya, setiap dolar “bersin”, pengrajin tempe di gang-gang permukiman ikut demam.

Di wilayah Margahayu, Bekasi Timur, para pengrajin mengaku kini berada dalam situasi serba salah.

Jika harga jual dinaikkan, mereka takut pelanggan kabur. Namun jika harga dipertahankan, keuntungan makin tergerus biaya produksi.

BACA JUGA :  Dedi Mulyadi Gerakkan Revolusi Kedelai! 210 Hektare di Indramayu Ditanam, Target Putus Ketergantungan Impor Tempe-Tahu

“Kalau harga dinaikkan, kami khawatir pembeli berkurang. Tapi kalau enggak dinaikkan, biaya produksi terus naik,” ujar salah satu pengrajin.

Di tengah tekanan biaya, banyak produsen akhirnya memilih strategi yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat: shrinkflation.

Harga tetap, ukuran menyusut.

Tempe yang dulu tebal kini makin tipis. Tahu yang biasanya padat mulai terasa “minimalis”. Konsumen memang masih membayar dengan nominal sama, tetapi isi yang diterima perlahan mengecil.

Fenomena ini menjadi humor pahit masyarakat kelas menengah bawah. Di saat gaji belum tentu naik, ukuran lauk justru makin hemat ruang.

“Tempenya sekarang kayak habis kena revisi anggaran,” celetuk salah satu warga sambil tertawa getir.

Meski terdengar lucu, kondisi ini mencerminkan tekanan nyata yang sedang dihadapi pelaku usaha kecil.

Kenaikan harga kedelai kembali memperlihatkan betapa rentannya sektor usaha mikro terhadap dinamika ekonomi global.

Para pengrajin tahu dan tempe yang bekerja dari subuh hingga malam kini harus memikirkan hal-hal yang jauh dari dapur mereka: kurs dolar, impor, hingga perdagangan internasional.

BACA JUGA :  Sensus Ekonomi 2026 Dimulai: Bupati Ela Ajak Warga Jujur Isi Data, Demi Lampung Timur Naik Kelas

Padahal sebagian besar hanya ingin satu hal sederhana produksi tetap jalan dan pelanggan tetap datang.

Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin sebagian usaha kecil akan mengurangi produksi, merumahkan pekerja, bahkan berhenti beroperasi.

Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada pemantauan harga, tetapi juga mendorong solusi jangka panjang.

Penguatan produksi kedelai lokal dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Sebab selama pasokan masih bergantung pada luar negeri, harga tahu dan tempe akan terus ikut menari mengikuti irama dolar.

Dan pada akhirnya, masyarakat kecil lagi-lagi menjadi pihak yang paling dulu merasakan dampaknya mulai dari pengrajin yang margin usahanya makin tipis, hingga konsumen yang harus menerima kenyataan bahwa tempe favorit mereka kini ukurannya tak lagi “seberani dulu”.***