Scroll untuk baca artikel
POLITIK

1.500 Lansia Kepung GOR Bang Yan, Bekasi: Usia Boleh Bertambah, Semangat Jangan Pensiun

×

1.500 Lansia Kepung GOR Bang Yan, Bekasi: Usia Boleh Bertambah, Semangat Jangan Pensiun

Sebarkan artikel ini
Sekitar 1.500 lansia berkumpul di GOR Bang Yan, Kota Bekasi, Kamis (1/10/2026), dalam peringatan Hari Lansia Sedunia dan Hari Kesehatan Mental Nasional.- foto dok

KOTA BEKASI – Usia boleh bertambah, tetapi semangat ternyata belum mengenal kata pensiun.

Sekitar 1.500 lansia memadati GOR Bang Yan, Kota Bekasi, Kamis (1/10/2026). Mereka bukan datang sekadar duduk manis menunggu acara selesai. Ada yang melenggang dalam fashion show, memainkan angklung, menari Bali, hingga mengikuti pemeriksaan kesehatan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pemandangan itu menjadi bagian dari peringatan Hari Lansia Sedunia dan Hari Kesehatan Mental Nasional yang mengusung tema “Lansia Sehat, Jiwa Raga, Berdaya, Bermartabat Bersama PDI Perjuangan.”

Acara tersebut dihadiri Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan Ribka Tjiptaning, jajaran fraksi dan anggota PDI Perjuangan, serta Wali Kota Bekasi Tri Adhianto. Kegiatan serupa pada Juli 2026 juga menunjukkan bahwa GOR Bang Yan telah menjadi salah satu ruang kegiatan besar bagi komunitas lansia Kota Bekasi.

Yang menarik, panggung kali ini bukan dikuasai generasi muda dengan tren terbaru dan joget yang sedang viral.

Para lansia justru mengambil alih panggung dengan caranya sendiri.

Fashion show, angklung, dan tarian Bali menjadi bukti bahwa memasuki usia lanjut tidak otomatis berarti harus berhenti berkarya. Jika anak muda sibuk mengejar FYP, para lansia ini justru menunjukkan bahwa pengalaman hidup juga punya panggungnya sendiri.

BACA JUGA :  Pohon Pengganti Karangan Bunga Hiasi Kebun Buah Bekasi Keren di Kali Baru

Suasana tersebut sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi para lansia untuk tetap aktif, percaya diri, berinteraksi dan menunjukkan bahwa usia bukan alasan untuk menarik diri dari kehidupan sosial.

Mereka juga mendapatkan layanan kesehatan gratis, termasuk pemeriksaan mata dan pemberian kacamata bagi peserta yang membutuhkan.

Dengan begitu, kegiatan tidak berhenti pada seremoni. Ada aktivitas sosial, hiburan sekaligus layanan kesehatan yang langsung menyentuh kebutuhan peserta.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyebut Kota Bekasi memiliki alasan tersendiri menjadi lokasi kegiatan tersebut.

Pemkot Bekasi telah mengembangkan Sekolah Lansia KUN (Kasih Untuk Negeri) sebagai ruang belajar dan beraktivitas bagi masyarakat lanjut usia.

Program Sekolah Lansia mulai dirintis pada 2022. Data Pemkot Bekasi pada 2026 menunjukkan jumlah pesertanya telah melampaui target awal 3.000 orang dan mencapai sekitar 3.436 peserta pada pertengahan tahun.

Bahkan, pada 2026 program tersebut telah berkembang dengan sekolah lansia yang tersebar di sejumlah wilayah Kota Bekasi.

Menurut Tri, Sekolah Lansia tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai kesehatan. Program tersebut juga menjadi ruang untuk beraktivitas, bersosialisasi dan menjaga agar para lansia tetap memiliki lingkungan pergaulan.

“Sekolah Lansia di Kota Bekasi sudah berjalan sejak 2022. Saya sangat mengapresiasi lansia yang tetap ingin terus belajar, beraktivitas, bersosialisasi dan menjaga kesehatan. Sehingga masa lanjut usia tetap dapat dijalani dengan kegiatan yang positif,” ujar Tri.

BACA JUGA :  Wali Kota Bekasi Tegaskan Komitmen Jaga Keamanan Natal dan Persempit Ruang Intoleransi

Pesannya sederhana yakni menjadi lansia bukan berarti menjadi penonton pembangunan.

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengapresiasi keberadaan Sekolah Lansia di Kota Bekasi.

Menurut Hasto, program tersebut dapat menjadi ruang komunikasi, edukasi kesehatan sekaligus aktivitas sosial bagi kelompok lanjut usia.

“Program seperti ini akan kami dorong menjadi kebijakan strategis di daerah-daerah yang dipimpin kader PDI Perjuangan. Sekolah lansia bisa menjadi ruang komunikasi, edukasi kesehatan, hingga aktivitas sosial bagi para lansia,” ungkap Hasto.

Hasto juga menyampaikan gagasan agar perhatian terhadap lansia tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Menurut dia, para lansia perlu tetap memiliki ruang interaksi agar tidak merasa sendirian, memperoleh akses pelayanan kesehatan dan dapat beraktivitas di tengah masyarakat.

“Komitmen kepedulian terhadap lansia kami tempatkan sebagai gerak kebudayaan. Kader-kader partai akan ditugaskan mengunjungi para lansia dan mendorong kebijakan yang berpihak kepada mereka agar tidak merasa sendiri, mendapatkan pelayanan kesehatan, dan memiliki ruang sosialisasi yang baik,” ujarnya.

Hasto mengatakan, struktur penduduk usia lanjut di Kota Bekasi cukup besar. Karena itu, keberadaan mereka menurutnya tidak semestinya dipandang hanya dari sisi kebutuhan pelayanan sosial.

Justru pengalaman, pemikiran dan keteladanan para lansia dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Kami tidak ingin lansia menjadi beban, tetapi justru menjadi faktor pendorong pembangunan Kota Bekasi melalui pengalaman, pemikiran, dan keteladanan yang mereka miliki,” paparnya.

BACA JUGA :  45 Anggota Dewan Lampura Terpilih Dilantik Agustus

Pandangan itu sejalan dengan konsep Sekolah Lansia yang dikembangkan Pemkot Bekasi. Dalam berbagai kegiatan sepanjang 2026, pemerintah daerah menempatkan aktivitas belajar, berkarya dan bersosialisasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup lansia.

Dalam kesempatan tersebut, Tri juga memaparkan sejumlah program Pemkot Bekasi.

Mulai dari pembangunan polder untuk penanganan banjir, pengembangan PSEL Bantargebang, perluasan akses jaminan kesehatan, penataan kawasan Pasar Baru dan Pondok Gede, hingga pengembangan taman serta ruang terbuka hijau.

Ada pula program urban farming, budidaya ayam petelur, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja informal, beasiswa perguruan tinggi, pengembangan perpustakaan modern, serta penataan kawasan Kalimalang dan Danau Duta.

Namun di balik deretan proyek dan program tersebut, ada satu kelompok masyarakat yang sering kali luput dari percakapan tentang pembangunan: mereka yang sudah memasuki usia senja.

Tri menegaskan pembangunan tidak semestinya hanya dihitung dari berapa banyak beton yang berdiri atau berapa kilometer jalan yang dibangun.

“Kita ingin pembangunan di Kota Bekasi tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, tetapi juga bagaimana masyarakatnya bisa hidup sehat, aktif, produktif dan mendapatkan ruang untuk berinteraksi. Lansia juga harus menjadi bagian dari pembangunan dan memiliki kesempatan untuk terus berkarya,” katanya.***