Scroll untuk baca artikel
Infrastruktur

5 Kilometer Jalan Tak Kunjung Tuntas, Warga Bandar Agung Rogoh Kocek Sendiri: Negara Datang Belakangan?

×

5 Kilometer Jalan Tak Kunjung Tuntas, Warga Bandar Agung Rogoh Kocek Sendiri: Negara Datang Belakangan?

Sebarkan artikel ini
Foto: Dengan modal gotong royong, patungan, dan jimpitan, masyarakat berhasil membangun sekitar 5 kilometer jalan cor beton secara swadaya, (foto_jali)

LAMPUNG TIMUR – Ketika pembangunan infrastruktur seharusnya menjadi tanggung jawab negara, warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono, justru memilih tidak menunggu. Dengan modal gotong royong, patungan, dan jimpitan, masyarakat berhasil membangun sekitar 5 kilometer jalan cor beton secara swadaya.

Di balik semangat kebersamaan itu, tersimpan ironi yang mengundang pertanyaan. Desa dengan panjang jaringan jalan hampir 9 kilometer ini masih menghadapi keterbatasan pembangunan, sehingga warga harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri agar jalan di lingkungannya bisa layak dilalui.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Setiap pembangunan jalan sepanjang 200 meter membutuhkan dana sekitar Rp40 juta untuk pembelian material. Dana tersebut dihimpun dari masyarakat, sementara seluruh pekerjaan dilakukan secara sukarela tanpa upah. Bagi warga, menunggu seluruh kebutuhan dipenuhi melalui anggaran pemerintah bukan lagi pilihan yang realistis.

Tokoh masyarakat Dusun 16, Kyai Abdul Manan, mengatakan gerakan swadaya ini masih terus berjalan. Menurutnya, pembangunan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan masyarakat, dengan mengedepankan semangat gotong royong demi memperbaiki akses yang selama ini menjadi kebutuhan utama.

BACA JUGA :  Jalan Berlubang Sisa Proyek Gorong-gorong di Desa GSB Belum Diperbaiki, Korban Terus Berjatuhan

Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dan Pemerintah Kecamatan Bandar Sribhawono turut memberikan dukungan berupa peminjaman dua unit molen serta bantuan semen di beberapa titik. Sebelumnya, pemerintah juga telah membangun sekitar 2 kilometer jalan aspal lataston beserta onderlagh di desa tersebut.

Meski demikian, fakta bahwa masyarakat mampu membangun jalan menggunakan dana sendiri memunculkan perdebatan. Di satu sisi, hal itu menjadi bukti kuatnya budaya gotong royong. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam pemerataan pembangunan infrastruktur pedesaan.

BACA JUGA :  Amburadul, Proyek BMSDA Aktivitas Warga Jatisampurna Terganggu

Kini, jalan yang telah dicor memberikan manfaat langsung bagi warga. Mobilitas menuju kebun, sekolah, dan pusat desa menjadi lebih mudah, sementara distribusi hasil pertanian tidak lagi terkendala jalan berlumpur saat musim hujan.

Warga berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat terus diperkuat. Namun lebih dari itu, mereka juga berharap semangat swadaya yang patut diapresiasi tidak terus-menerus menjadi solusi utama atas kebutuhan infrastruktur dasar yang semestinya dapat dipenuhi melalui pembangunan yang merata dan berkelanjutan. ***