Scroll untuk baca artikel
Info Wawai

Dua Hari Dilawan Arus Maut, Pemuda Asal Pesawaran Akhirnya Ditemukan Tak Bernyawa di Irigasi Batanghari

×

Dua Hari Dilawan Arus Maut, Pemuda Asal Pesawaran Akhirnya Ditemukan Tak Bernyawa di Irigasi Batanghari

Sebarkan artikel ini
ilustrasi tenggelam

LAMPUNG TIMUR – Di tengah gelapnya malam dan derasnya arus saluran Irigasi Batanghari, harapan keluarga Andre Saputra (20) perlahan memudar. Selama hampir dua hari, mata mereka tak lepas menyusuri aliran air yang seolah tak pernah berhenti membawa doa sekaligus kecemasan. Hingga akhirnya, Minggu (26/7/2026) sekitar pukul 19.30 WIB, kabar yang paling ditakuti itu benar-benar datang.

“Alhamdulillah sudah ketemu,” ucap seorang warga yang ikut dalam pencarian. Kalimat singkat itu menjadi penanda berakhirnya operasi pencarian, sekaligus mengakhiri penantian panjang keluarga pemuda asal Desa Enggal Mulyo, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah sebelumnya dilaporkan tenggelam di saluran Irigasi Batanghari, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur.

Suasana di lokasi pencarian berubah hening saat tim gabungan mengevakuasi jasad Andre dari aliran irigasi. Warga yang sejak awal mengikuti proses pencarian hanya bisa menyaksikan dengan wajah penuh duka. Jenazah kemudian dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi mengenai titik pasti penemuan korban maupun hasil pemeriksaan awal.

BACA JUGA :  Pemprov Lampung Mulai Data Penyaluran Bansos

Peristiwa tragis itu bermula pada Sabtu (25/7/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Andre bersama rombongannya sedang dalam perjalanan pulang menuju Kota Metro usai melintas dari arah Kecamatan Sekampung.

Di tengah perjalanan, diduga Andre tidak menyadari adanya tikungan tajam. Sepeda motor yang dikendarainya kehilangan kendali sebelum akhirnya terjun ke saluran irigasi dengan arus yang sangat deras. Dalam hitungan detik, tubuh korban terseret arus gelap, sementara rekan-rekannya hanya mampu meminta pertolongan.

Laporan kejadian diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Lampung dari Polsek Batanghari pada pukul 23.46 WIB. Tanpa menunggu lama, tim Rescue Basarnas langsung bergerak menuju lokasi dan tiba sekitar pukul 01.15 WIB untuk bergabung dengan unsur SAR lainnya.

BACA JUGA :  Geger! Lansia 67 Tahun Hilang Misterius di Tanggamus, Polisi Turun Tangan

Malam itu, pencarian dilakukan dengan menyisir lokasi kejadian menggunakan berbagai peralatan penyelamatan. Namun derasnya arus, minimnya pencahayaan, dan kondisi medan yang sulit membuat korban belum berhasil ditemukan hingga dini hari. Operasi kemudian dihentikan sementara dan dilanjutkan kembali pada Minggu pagi.

Memasuki hari kedua, upaya pencarian diperbesar. Tim SAR Gabungan membagi operasi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU). SRU pertama menggunakan perahu karet menyusuri aliran irigasi sejauh sekitar 7,2 kilometer menuju pintu air, sementara SRU kedua menyisir bantaran saluran sepanjang kurang lebih 4 kilometer dengan berjalan kaki.

Setiap meter aliran irigasi diperiksa. Setiap sudut yang berpotensi menjadi tempat korban tersangkut tak luput dari perhatian petugas. Waktu terus berjalan hingga akhirnya, menjelang malam, pencarian yang melelahkan itu membuahkan hasil.

BACA JUGA :  Gubernur Mirza Buka Peluang Pemprov Biayai Jalan Swadaya Warga, Gotong Royong Tak Boleh Jadi Pengganti Negara

Sebelumnya, Dantim Rescuer Basarnas Lampung, Dedi Pranata, mengatakan seluruh personel dikerahkan untuk memaksimalkan pencarian dengan mempertimbangkan karakteristik medan dan derasnya arus.

“Sejak menerima laporan, kami langsung mengerahkan personel dan peralatan menuju lokasi. Pencarian dilakukan dengan membagi tim menjadi dua SRU agar area yang disisir lebih luas,” ujarnya.

Operasi SAR melibatkan Basarnas Lampung, Polsek Batanghari, Kodim dan Koramil Batanghari, BPBD Kabupaten Lampung Timur, BPBD Kota Metro, Tagana, keluarga korban, serta puluhan warga yang tanpa lelah ikut membantu pencarian.

Berakhirnya operasi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat. Penantian selama dua hari memang telah usai, namun kepulangan Andre bukan lagi dalam pelukan hangat keluarga, melainkan dalam balutan kesedihan yang menyelimuti seluruh orang yang mencintainya. ***