Scroll untuk baca artikel
LampungPertanian

Festival Kakao Lampung Timur Pecah! Bupati Ela Dorong Petani Naik Kelas, Tak Lagi Jual Biji Mentah

×

Festival Kakao Lampung Timur Pecah! Bupati Ela Dorong Petani Naik Kelas, Tak Lagi Jual Biji Mentah

Sebarkan artikel ini
Foto: Festival Kakao Lampung Timur 2026 menjadi panggung besar transformasi sektor perkebunan kakao. Digelar di Desa Sumur Bandung, Kecamatan Way Jepara, pada Sabtu 25 Juli 2026, (foto_jali)

LAMPUNG TIMUR – Festival Kakao Lampung Timur 2026 menjadi panggung besar transformasi sektor perkebunan kakao. Digelar di Desa Sumur Bandung, Kecamatan Way Jepara, pada Sabtu 25 Juli 2026, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang pameran hasil perkebunan, tetapi juga menandai komitmen Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dalam mengangkat nilai ekonomi kakao melalui hilirisasi dan inovasi.

Festival yang dibuka langsung oleh Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, mempertemukan petani, pelaku usaha, akademisi, lembaga pendamping, hingga perusahaan nasional dan internasional dalam satu semangat membangun masa depan kakao Lampung Timur.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Dalam sambutannya, Bupati Ela menegaskan bahwa masa depan kakao tidak lagi bergantung pada besarnya produksi semata. Menurutnya, petani harus mulai bertransformasi dengan meningkatkan kualitas budidaya, pengolahan pascapanen, hingga pemasaran produk bernilai tambah.

BACA JUGA :  Satu Pelaku Pengeroyokan di Sekampung Udik Menyerahkan Diri

“Kita harus terus melakukan transformasi, mulai dari cara budidaya, peningkatan kualitas hasil panen, pengolahan pascapanen hingga pemasaran yang lebih modern dan berorientasi pada nilai tambah,” tegas Ela.

Ia mengajak petani tidak hanya menjual biji kakao mentah, tetapi mulai mengembangkan berbagai produk olahan seperti cokelat, bubuk kakao, minuman cokelat, hingga aneka produk kreatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Menurutnya, penguatan industri hilir akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani, pertumbuhan UMKM, pembukaan lapangan kerja, serta memperkuat posisi Lampung Timur sebagai salah satu sentra kakao unggulan di Indonesia.

Mengusung tema “Transformasi Kakao Lampung Timur”, festival ini juga menjadi etalase potensi kakao lokal. Berbagai produk olahan dipamerkan, mulai dari cokelat siap konsumsi hingga inovasi pertanian berkelanjutan berupa pupuk organik, fungisida organik, dan pengendali hama alami yang ramah lingkungan.

BACA JUGA :  Pembangunan Sumur Bor di Dusun 2 Surya Mataram Dinilai Mubazir

Suasana semakin meriah ketika seluruh tamu undangan bersama-sama menikmati minuman cokelat lokal sebagai simbol dukungan terhadap peningkatan konsumsi produk kakao dalam negeri.

Festival tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Timur, para kepala OPD, camat, serta berbagai lembaga pendamping dan mitra pembangunan seperti Rikolto, PBN, GIZ, KAWAN TANU, GEMA CITA, CSP, serta perusahaan-perusahaan besar di sektor kakao, di antaranya OFI, Barry Callebaut, Mars, Terve Chocolate, dan PT Tani.

Sementara itu, Ketua Forum APIK menekankan pentingnya membangun petani kakao yang mandiri melalui penerapan budidaya berkelanjutan. Selain meningkatkan produktivitas, tanaman kakao dinilai memiliki manfaat ekologis karena mampu mendukung penghijauan dan mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia melalui penggunaan pestisida organik.

BACA JUGA :  Aksi Kejahatan Curas, Kembali Terjadi di Wilayah Jabung

Forum APIK juga mengingatkan pentingnya standar penanganan pascapanen, seperti tidak menjemur biji kakao langsung di atas tanah dan memastikan proses pengeringan berlangsung optimal agar kualitas hasil panen tetap terjaga.

Tak hanya itu, Forum APIK memperkenalkan rencana pengembangan Aplikasi Sistem APIK, sebuah platform digital yang akan mempermudah pendataan petani, pengelolaan keanggotaan, penyaluran program pembinaan, hingga pemantauan perkembangan sektor kakao secara terintegrasi.

Melalui kolaborasi pemerintah, petani, dunia usaha, dan berbagai mitra pembangunan, Festival Kakao Lampung Timur diharapkan menjadi titik awal percepatan hilirisasi kakao, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus membawa kakao Lampung Timur semakin kompetitif di pasar nasional maupun internasional. ***