JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, teknologi, atau sumber daya alam, tetapi terutama oleh kualitas manusia yang dibentuk melalui pendidikan, kesehatan, serta karakter yang kuat.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026), Presiden mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar di sektor pendidikan. Ketertinggalan yang ada harus segera dikejar agar generasi mendatang mampu menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan bangsa.
“Kita paham dan mengerti bahwa masa depan kita ditentukan oleh kualitas manusia kita, kualitas anak-anak kita, kualitas fisik kesehatan, karena itu gizi sangat penting, tapi juga kualitas pendidikan. Kita paham bahwa pendidikan kita banyak ketertinggalan,” ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut mendapat respons dari Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i, yang menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal kecerdasan intelektual, melainkan juga pembentukan akhlak, moral, dan ketahanan karakter generasi muda.
Menurut Romo Syafi’i, Kementerian Agama tengah menyiapkan materi pembelajaran yang bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta didik agar mampu menghadapi berbagai pengaruh budaya yang dinilai bertentangan dengan nilai agama, moral, dan ketahanan bangsa.
Ia menjelaskan, langkah tersebut merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029, yang memasukkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu ancaman nonmiliter yang perlu diantisipasi.
“Penyebaran itu merupakan ancaman pertahanan negara nonmiliter. Karena itu sebuah ancaman, tentu harus kita hindari,” kata Romo Syafi’i.
Kemenag menilai bahwa upaya pencegahan paling efektif dilakukan melalui jalur pendidikan. Anak-anak, menurut Romo Syafi’i, perlu mendapatkan pemahaman yang sesuai dengan usia mereka agar memiliki kemampuan menyaring berbagai pengaruh yang datang dari lingkungan maupun perkembangan zaman.
Materi tersebut tidak akan berdiri sebagai mata pelajaran baru, melainkan akan diintegrasikan ke dalam kurikulum yang sudah ada.
“Tentu dengan memberikan pemahaman kepada anak-anak didik kita agar tidak dipengaruhi oleh budaya itu. Karena itu Kemenag menyusun materi yang nantinya akan di-insert dalam kurikulum yang sudah berjalan,” ujarnya.
Kurikulum tersebut direncanakan disusun secara bertahap berdasarkan jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan perkembangan psikologis peserta didik.***












