Scroll untuk baca artikel
Opini

Diplomasi Geopolitik Prabowo–Putin

×

Diplomasi Geopolitik Prabowo–Putin

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, Rusia pada Rabu, 10 Desember 2025. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WAWAINEWS.ID – Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia kembali memantik spekulasi mengenai arah geopolitik Indonesia. Pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin di Kremlin pada Desember 2025 ini tidak dapat dibaca sebagai diplomasi rutin. Waktu, urutan lawatan, dan konteks kawasan menunjukkan adanya agenda strategis berlapis.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kunjungan tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah Prabowo melawat ke Pakistan dan di tengah rangkaian bencana hidrometeorologi besar di berbagai wilayah Indonesia. Faktor-faktor ini membuat pertemuan Prabowo–Putin memiliki bobot politik yang lebih dalam.

Konteks Kawasan: Australia–PNG dan Usulan Buffer Zone

Dalam beberapa bulan terakhir, Australia dan Papua Nugini (PNG) menandatangani perjanjian pertahanan untuk memperkuat kapasitas keamanan PNG. Salah satu implikasinya adalah kemampuan Australia memberikan respons cepat terhadap potensi gangguan keamanan di PNG.

Tidak lama kemudian, PNG mengajukan usulan pembentukan buffer zone sepanjang 10 km di perbatasan dengan Papua. Zona ini diusulkan sebagai wilayah steril bagi pasukan bersenjata. Bagi Indonesia, gagasan itu sangat sensitif karena menyentuh isu dasar kedaulatan dan tata kelola keamanan di Papua.

BACA JUGA :  Pesantren NU dalam Tudingan Isu

Interaksi Australia–PNG ini bukan soal bilateral semata. Dalam perspektif security dilemma, peningkatan kapabilitas defensif pihak lain kerap dipersepsi sebagai ancaman. Lonjakan hubungan keamanan Canberra–Port Moresby mendorong Jakarta untuk mempertegas posisi strategisnya demi menjaga otonomi kawasan.

Tekanan Domestik: Bencana dan Kebutuhan Kapasitas Nasional

Di saat bersamaan, Indonesia tengah menghadapi bencana hidrometeorologi berskala besar. Presiden Prabowo menghadapi kebutuhan ganda:

  1. memperkuat kapasitas nasional dalam mitigasi bencana, dan
  2. memastikan stabilitas posisi strategis Indonesia dalam dinamika keamanan Indo-Pasifik.

Isi Pertemuan: Militer, Energi, Nuklir, dan Pangan

Media resmi Rusia melaporkan bahwa pembahasan Prabowo–Putin meliputi kerja sama militer, energi, pengembangan nuklir, hingga perdagangan pangan.

Beberapa poin penting:

1. Modernisasi Pertahanan

Indonesia membutuhkan modernisasi TNI, terutama angkatan udara, laut, dan sistem pertahanan udara berlapis. Rusia, dengan rekam jejak panjang dalam transfer teknologi militer, menjadi mitra potensial.

BACA JUGA :  “Pak Puk” Presiden Prabowo dalam Perang Tarif

Ini sejalan dengan teori balancing dalam hubungan internasional: Indonesia menjaga jarak dari dominasi kekuatan regional seperti Amerika Serikat dan Australia dengan memperkuat hubungan dengan kekuatan besar lain, seperti Rusia.

2. Ambisi Energi Nuklir

Putin secara terbuka menawarkan keterlibatan Rusia dalam pengembangan energi nuklir Indonesia. Dengan rencana pembangunan PLTN skala kecil pada 2032, Rusia—melalui Rosatom—dapat menyediakan paket lengkap dari teknologi hingga pendanaan.

Teknologi nuklir memiliki potensi dual-use. Kerja sama ini dapat memperdalam hubungan strategis yang berdampak geopolitik.

3. Kerja Sama Antariksa: Isu Sensitif Biak

Indonesia sejak lama mempertimbangkan Biak sebagai lokasi peluncuran satelit karena posisinya dekat ekuator. Rusia memiliki sejarah ketertarikan terhadap lokasi peluncuran ekuatorial.

Jika pembahasan mengarah pada pembangunan ground station, pusat pelatihan antariksa, kerja sama satelit, atau bahkan studi fasilitas peluncuran, dampak geopolitiknya akan besar. Teknologi ruang angkasa juga dual-use: berguna untuk mitigasi bencana namun relevan pula bagi pertahanan.

Australia dan PNG dipastikan memerhatikan perkembangan ini.

Sinyal Geopolitik Indonesia

Kunjungan Prabowo ke Rusia dapat terbaca sebagai langkah signalling bahwa Indonesia memiliki berbagai opsi kemitraan strategis. Indonesia tidak akan tinggal diam melihat konfigurasi keamanan kawasan berubah.

BACA JUGA :  Tak Dapat Izin Mendarat, Prabowo Batal ke Medan

Dalam perspektif teori hubungan internasional, kunjungan ini menyentuh beberapa konsep kunci:

• Balance of Power

Menghadapi ekspansi jejaring keamanan Australia, Indonesia menegaskan kembali kemandirian strategisnya.

• Security Dilemma

Gerak defensif Australia–PNG dipersepsi sebagai potensi ancaman oleh Jakarta. Intensifikasi hubungan Indonesia–Rusia merupakan reaksi dalam dinamika dilema keamanan tersebut.

• Strategic Autonomy & Dual-use Technology

Kerja sama nuklir, satelit, dan pertahanan memperkuat kapasitas teknologi Indonesia komponen utama otonomi strategis jangka panjang.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Moskow berlangsung dalam konteks geopolitik yang kompleks. Isu paling sensitif adalah potensi kolaborasi teknologi satelit atau fasilitas peluncuran di Papua. Jika benar ke arah tersebut, Indonesia sedang menegosiasikan ulang posisinya dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik.

Dalam dunia yang semakin multipolar, langkah ini merupakan cara Indonesia memperluas ruang manuver strategisnya.

Jakarta,
ARS
(rohmanfth@gmail.com)