KOTA BEKASI — Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Harapanmulya, Kecamatan Medan Satria, kembali menjadi panggung awal tempat aspirasi warga diuji sebelum naik kelas ke tingkat kecamatan dan kota.
Di aula kelurahan, Jumat (9/1), berbagai usulan pembangunan untuk Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Bekasi Tahun 2027 dibedah mulai dari persoalan paling kasatmata hingga kebutuhan jangka panjang.
Forum Musrenbang kali ini menegaskan satu hal kebutuhan warga masih berkutat pada urusan dasar. Perbaikan jalan lingkungan, penanganan drainase yang kerap memicu genangan, serta penerangan jalan umum (PJU) menjadi usulan yang paling banyak disuarakan.
Infrastruktur, sekali lagi, menjadi wajah paling jujur dari kondisi pelayanan publik di tingkat kelurahan.
Selain infrastruktur fisik, warga juga mengusulkan peningkatan pengelolaan lingkungan, termasuk normalisasi saluran air, penanganan sampah, dan penataan ruang terbuka.
Usulan ini muncul seiring kekhawatiran warga terhadap banjir musiman yang kerap datang tanpa undangan, namun selalu meninggalkan pekerjaan rumah.
Di sektor sosial, aspirasi mengarah pada penguatan program bantuan sosial tepat sasaran, peningkatan fasilitas posyandu dan layanan kesehatan dasar, serta dukungan terhadap kegiatan kepemudaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Warga menilai pembangunan tidak cukup hanya dicor dan diaspal, tetapi juga harus menyentuh kualitas hidup.
Musrenbang juga mencatat kebutuhan peningkatan sarana pendidikan nonformal, pelatihan keterampilan, serta dukungan bagi UMKM lokal. Usulan ini dipandang penting untuk menjawab tantangan ekonomi di tengah tekanan biaya hidup yang kian meningkat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kasi Kessos Kecamatan Medan Satria Budi Setiadi, Lurah Harapanmulya Agung Adi Putra, serta perwakilan tokoh masyarakat dan warga.
Mewakili Camat Medan Satria, Budi Setiadi mengingatkan bahwa tidak semua usulan dapat langsung direalisasikan, sehingga penentuan skala prioritas menjadi kunci.
“Pembangunan itu bukan soal banyaknya usulan, tetapi sejauh mana usulan itu benar-benar dibutuhkan dan memberi dampak. Musrenbang ini menjadi filter awal agar program yang naik ke atas tidak sekadar keinginan, tetapi kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa partisipasi warga bukan sekadar formalitas kehadiran, melainkan keterlibatan aktif dalam menyampaikan masalah, solusi, dan kesediaan mengawal hasil Musrenbang agar tidak menguap di tengah proses birokrasi.
Musrenbang Kelurahan Harapanmulya kemudian menyepakati sejumlah usulan prioritas yang akan dibawa ke Musrenbang tingkat Kecamatan Medan Satria.
Di sanalah usulan akan kembali “dipertandingkan” dengan kebutuhan kelurahan lain, sebelum akhirnya diseleksi di tingkat kota.
Forum ini kembali menegaskan bahwa Musrenbang bukan sekadar ritual tahunan, melainkan arena negosiasi antara harencana dan Realita. Warga telah berbicara.
Kini, bola berada di tangan pemerintah: apakah daftar prioritas ini akan berubah menjadi program nyata, atau kembali menjadi janji pembangunan yang menunggu giliran tahun berikutnya.***











