WawaiNEWS.ID – Dunia internasional diguncang laporan dramatis yang menyebut Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat–Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Media resmi Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), melalui akun media sosialnya, mengabarkan bahwa Khamenei “syahid” dalam serangan tersebut. Pernyataan duka juga disampaikan Dewan Menteri Iran dan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Namun hingga laporan ini disusun, belum terdapat konfirmasi independen internasional yang sepenuhnya memverifikasi kabar tersebut. Situasi di Teheran dilaporkan mencekam, dengan ledakan terdengar di sejumlah titik strategis.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim melalui media sosial bahwa Khamenei tewas dalam operasi militer presisi tinggi. Ia bahkan menyebut sang Ayatollah sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah.”
Pernyataan ini langsung memperuncing tensi global. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya memang secara terbuka melontarkan ancaman keras terhadap kepemimpinan Iran.
Jika kabar ini benar, maka ini bukan sekadar serangan militer melainkan gempa geopolitik.
Dari Presiden Masa Perang ke Simbol Perlawanan
Khamenei mengambil alih tampuk kepemimpinan pada 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, arsitek Revolusi Islam 1979.
Berbeda dengan Khomeini yang dikenal sebagai ideolog revolusi, Khamenei membangun “negara keamanan”: memperkuat militer, memperluas pengaruh regional, dan mendorong konsep ekonomi perlawanan di tengah sanksi Barat.
Ia pernah menjabat presiden saat Perang Iran-Irak (1980–1988), periode berdarah yang membentuk sikapnya yang keras terhadap Barat. Dukungan AS kepada Irak kala itu menjadi memori strategis yang tak pernah benar-benar padam dalam kebijakan Teheran.
Meski dikenal konfrontatif, Khamenei bukan tanpa manuver diplomasi. Ia menyetujui kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) untuk meredakan tekanan ekonomi. Namun ketika AS menarik diri dari perjanjian tersebut, Iran kembali mengeras.
Strategi “bukan damai, bukan perang” menjadi garis kebijakan: memperkuat jaringan sekutu regional dari Lebanon hingga Yaman seraya menahan diri dari konflik terbuka skala penuh.
Pendukungnya menyebutnya simbol keteguhan melawan dominasi Barat. Pengkritiknya menilai ia terlalu fokus pada konfrontasi dan mengabaikan tuntutan reformasi generasi muda Iran.
Jika laporan wafatnya benar, maka Republik Islam Iran sedang memasuki babak paling genting sejak 1979.
Negara yang selama puluhan tahun dibangun dengan fondasi “perlawanan permanen” kini menghadapi pertanyaan besar:
Siapa penerusnya?
Bagaimana stabilitas dalam negeri?
Akankah poros regional Iran tetap solid?
Sejarah seringkali bergerak bukan dengan bisikan, melainkan dengan dentuman. Dan kali ini, dentumannya terdengar sampai ke jantung diplomasi global.
Satu hal yang pasti: Timur Tengah tak pernah benar-benar sepi dari kejutan. Dan dunia kembali menahan napas.***








