Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi
WawaiNEWS.ID – Transformasi Artificial Intelligence (AI) bukan sekadar kemajuan teknologi. Ia adalah gelombang perubahan besar yang sedang mengguncang fondasi pendidikan tinggi, pasar kerja, hingga cara manusia membangun masa depan.
Banyak kampus masih merasa aman dengan model lama: ruang kelas, dosen bicara, mahasiswa mencatat, lalu lulus membawa ijazah. Padahal dunia kerja sudah berlari jauh lebih cepat dibanding perubahan kurikulum.
Pertanyaannya bukan lagi jurusan apa yang populer, tetapi jurusan mana yang masih relevan saat mahasiswa lulus lima tahun ke depan.
Jika perguruan tinggi lambat membaca zaman, kampus berisiko berubah menjadi museum gelar, bangunannya megah, alumninya banyak, tetapi produknya tak lagi dibutuhkan.
Dalam konteks ini, terdapat 25 kelompok jurusan utama yang dapat diklasifikasikan ke dalam lima klaster.
Pertama, klaster teknologi inti. Meliput,: Artificial Intelligence, Data Science, Ilmu Komputer, Cyber Security, dan Software Engineering.
Kedua, engineering. Meliputi: Robotika, Teknik Elektro, Teknik Industri, dan Biomedis.
Ketiga, ekonomi digital. Meliputi: Business Analytics dan Digital Marketing.
Keempat, sektor strategis. Meliputi: energi terbarukan, ilmu lingkungan, kedokteran, dan bioteknologi.
Kelima, bidang sosial adaptif: Meliputi: Ilmu Hukum, Manajemen, Ekonomi, Psikologi, Pendidikan, Desain, Arsitektur, Agribisnis, Pariwisata, dan Ilmu Komunikasi.
Dominasi klaster teknologi bukan kebetulan. LinkedIn mencatat bahwa AI telah menciptakan 1,3 juta pekerjaan baru. Termasuk AI engineer dan data- related roles.
Bahkan, 86% perusahaan global memperkirakan AI akan mentransformasi bisnis mereka dalam dekade ini. Konsekuensinya, hampir 40% skill kerja akan berubah. Menunjukkan bahwa jurusan tidak lagi cukup tanpa adaptasi kompetensi.
Namun, perubahan ini tidak bersifat substitutif murni. Studi akademik menunjukkan bahwa 78,7% interaksi AI bersifat augmentatif, bukan menggantikan manusia sepenuhnya.
Augmentatif adalah sifat atau peran teknologi (terutama AI) yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan manusia. Bukan menggantikannya sepenuhnya.
Dalam konteks kerja, AI bersifat augmentatif berarti membantu manusia bekerja lebih cepat, akurat, dan efisien. Sementara keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Contohnya dalam bidang kesehatan, AI dapat membantu dokter menganalisis hasil rontgen atau MRI dengan lebih cepat. Tetapi diagnosis dan keputusan pengobatan tetap ditentukan oleh dokter.
AI berperan sebagai alat pendukung yang memperkuat kinerja manusia.
Ini sejalan dengan teori skill-biased technological change. Menyatakan bahwa teknologi meningkatkan permintaan terhadap pekerja berkeahlian tinggi, bukan sekadar menghilangkan pekerjaan.
Implikasinya jelas: jurusan seperti Ilmu Hukum atau Manajemen tidak hilang. Tetapi bergeser dari bentuk generik ke spesialis. Misalnya cyber law atau digital business.
Sebaliknya, jurusan berbasis tugas rutin mengalami tekanan. Karena memiliki automation feasibility tinggi.
Dengan demikian, problem utama pendidikan tinggi bukan lagi relevansi jurusan. Melainkan kecepatan adaptasi kurikulum. Perguruan tinggi yang masih berorientasi pada transfer teori berisiko tertinggal oleh ekosistem pembelajaran berbasis AI.
Kesimpulannya, era AI tidak menghapus kebutuhan akan jurusan PT. Tetapi mengubah hierarki dan struktur nilainya. Jurusan masa depan bukan hanya ditentukan oleh bidangnya, melainkan oleh kemampuannya berintegrasi dengan AI, data, dan kompleksitas manusia.
Dalam lanskap ini, pendidikan tinggi dituntut bertransformasi dari institusi pengajar menjadi ekosistem pembentuk kapabilitas adaptif. Jika tidak demikian akan tertinggal.
Begitu kata berbagai literatur dalam mencermati era AI ini.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.***











