Scroll untuk baca artikel
Opini

Dihujat Tak Membalas, Diserang Tak Berisik: Mengapa Teddy Indra Wijaya Justru Makin Dipercaya Prabowo?

×

Dihujat Tak Membalas, Diserang Tak Berisik: Mengapa Teddy Indra Wijaya Justru Makin Dipercaya Prabowo?

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya - foto doc Setkab

Oleh: Fernando Emas
Direktur Rumah Politik Indonesia

WawaiNEWS.ID – Di era politik yang semakin bising oleh komentar, sindiran, hingga perang opini di media sosial, muncul satu fenomena yang menarik untuk dicermati. Ketika banyak pejabat dan politisi berlomba menjadi pusat perhatian, Teddy Indra Wijaya (TIW) justru memilih jalur yang berbeda: bekerja dalam senyap.

Semakin tinggi posisi yang diembannya sebagai Sekretaris Kabinet, semakin deras pula kritik, tudingan, bahkan serangan personal yang diarahkan kepadanya. Namun menariknya, Teddy hampir tidak pernah terlihat terpancing. Ia tidak sibuk membuat klarifikasi berjam-jam di televisi, tidak larut dalam adu argumentasi di media sosial, dan tidak pula menjadikan kritik sebagai panggung untuk mencari simpati.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sebaliknya, ia menjawab dengan sesuatu yang mulai langka dalam politik Indonesia: hasil kerja.

Di tengah budaya politik yang sering mengukur kualitas pejabat dari seberapa sering muncul di layar kaca atau seberapa ramai menjadi perbincangan publik, Teddy justru menunjukkan bahwa efektivitas tidak selalu identik dengan popularitas.

Banyak orang lupa bahwa tugas utama seorang Sekretaris Kabinet bukanlah menjadi selebritas politik. Jabatan itu menuntut kemampuan mengelola koordinasi pemerintahan, memastikan arahan presiden diterjemahkan menjadi kebijakan yang berjalan, serta menjembatani komunikasi lintas kementerian agar roda pemerintahan tidak tersendat oleh ego sektoral.

BACA JUGA :  Al-Qur’an Bukan Buku Doa Saja: Spirit Kewirausahaan, Dari Pasar Madinah ke Startup Zaman Now

Dalam konteks itu, ukuran keberhasilan Teddy seharusnya bukan jumlah pengikut media sosial atau seberapa sering namanya menjadi trending topic, melainkan apakah pemerintahan berjalan efektif dan agenda Presiden dapat dieksekusi dengan baik.

Dan sejauh ini, publik melihat bahwa Presiden Prabowo Subianto tetap memberikan kepercayaan penuh kepadanya.

Tentu ada yang bertanya, mengapa sosok yang relatif muda bisa mendapatkan kepercayaan sebesar itu?

Jawabannya sederhana: karena kepercayaan dalam politik tingkat tinggi tidak diberikan berdasarkan umur, melainkan kapasitas.

Jika usia menjadi satu-satunya ukuran, maka banyak pemimpin dunia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan memimpin. Politik modern menempatkan kompetensi, integritas, loyalitas, kemampuan membaca situasi, serta kecakapan mengeksekusi kebijakan sebagai faktor utama.

Di sinilah Teddy tampaknya berhasil menjawab keraguan banyak pihak.

Setiap kali muncul tudingan bahwa dirinya hanya menikmati efek kedekatan dengan Presiden, publik justru melihat fakta berbeda. Teddy tidak sibuk membela diri. Ia membiarkan kinerjanya berbicara.

BACA JUGA :  Nahi Munkar Jangan Dijadikan Senjata Politik: Ketika Moral Dipakai Menyerang Lawan dan Membela Kawan

Ironisnya, sebagian kritik yang ditujukan kepadanya sering kali terjebak pada persoalan personal, bukan pada evaluasi objektif terhadap hasil kerja. Seolah-olah yang dipersoalkan bukan apa yang ia kerjakan, melainkan siapa dirinya.

Padahal dalam sistem demokrasi, yang semestinya diuji adalah kapasitas, bukan prasangka.

Sebagai warga negara, Teddy memiliki hak yang sama untuk mengabdi kepada bangsa. Tidak ada aturan yang melarang seseorang menduduki jabatan strategis hanya karena usianya lebih muda dibanding para pejabat lain. Yang menjadi pertanyaan seharusnya bukan “mengapa Teddy dipercaya?”, melainkan “apakah Teddy mampu menjalankan amanah tersebut?”

Sampai saat ini, kepercayaan yang terus diberikan Presiden menjadi indikasi bahwa pertanyaan itu telah dijawab melalui kinerja.

Kemampuan Teddy membangun komunikasi dengan berbagai kalangan juga menjadi nilai tambah yang tidak bisa diabaikan. Dalam pemerintahan yang besar dan kompleks, kemampuan menjadi jembatan antar kepentingan sering kali jauh lebih penting dibanding kemampuan berpidato di depan publik.

Tidak semua orang bisa menjadi penghubung yang efektif antara presiden, menteri, birokrasi, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya. Namun kemampuan itu tampaknya menjadi salah satu alasan mengapa Teddy terus mendapatkan ruang dan kepercayaan.

BACA JUGA :  Ahmad Ali yang Eksotis, Sudirman Said yang Dialogis

Lebih jauh lagi, perjalanan pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya menunjukkan bahwa posisi yang ia raih bukanlah hadiah instan. Pendidikan formal yang baik, pengalaman profesional, kedisiplinan sebagai prajurit, serta kesempatan belajar langsung dari tokoh-tokoh nasional seperti Prabowo Subianto dan Joko Widodo merupakan modal yang tidak dimiliki banyak orang seusianya.

Karena itu, narasi yang menyebut karier Teddy sekadar “karbitan” terasa terlalu sederhana untuk menjelaskan realitas yang jauh lebih kompleks.

Dalam politik, kedekatan memang bisa membuka pintu. Namun kedekatan tidak akan mampu mempertahankan seseorang di dalam ruangan jika ia tidak memiliki kemampuan.

Pada akhirnya, jabatan bukanlah soal siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang mampu menyelesaikan pekerjaan.

Dan sejauh ini, Teddy Indra Wijaya tampaknya memahami satu hal yang sering dilupakan banyak politisi: kepercayaan publik tidak dibangun oleh debat yang panjang, melainkan oleh kerja yang nyata.

Mungkin itulah sebabnya, semakin banyak kritik yang datang, justru semakin kuat pula alasan Presiden untuk tetap mempercayainya.

Sebab dalam politik, hasil kerja selalu lebih sulit dibantah dibandingkan opini.***