Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

Waduh! Wakil Dekan UIN Jambi Nonaktif Usai Digerebek Bareng Mahasiswi

×

Waduh! Wakil Dekan UIN Jambi Nonaktif Usai Digerebek Bareng Mahasiswi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Gambar ilustrasi

JAMBI — Dunia akademik kembali diuji, kali ini bukan soal skripsi atau akreditasi, melainkan urusan yang jauh lebih “personal”. Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi resmi menonaktifkan sementara seorang oknum dosen berinisial DK dari jabatannya sebagai wakil dekan, setelah terseret kasus dugaan penggerebekan bersama seorang mahasiswi di kamar kos.

Peristiwa yang terjadi di kawasan Telanaipura, Kota Jambi, pada Jumat (1/5/2026) malam itu langsung menyedot perhatian publik. Bukan hanya karena melibatkan figur akademik, tetapi juga karena dramanya lengkap digerebek oleh istri sah bersama warga.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Rektor UIN STS Jambi, Kasful Anwar, tak butuh waktu lama untuk merespons. Ia menegaskan bahwa langkah penonaktifan dilakukan demi menjaga objektivitas pemeriksaan sekaligus meredam kegaduhan yang sudah terlanjur viral di media sosial.

BACA JUGA :  Usai Bongkar Tambang Emas Ilegal, Wartawan di Jambi Diancam Sejumlah Preman

“Ini bentuk komitmen kami menjaga marwah institusi, integritas akademik, dan nilai etika kampus,” ujar Kasful dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026).

Kasus ini dengan cepat berubah dari isu internal menjadi konsumsi publik. Di tengah tuntutan akademik yang menuntut keteladanan, justru muncul ironi: ruang kelas ditinggalkan, sorotan beralih ke kamar kos.

Kampus pun menegaskan, setiap sivitas akademika terikat pada kode etik dan norma kelembagaan. Dan seperti yang kini terbukti, kode etik bukan sekadar dokumen formal yang disimpan rapi di lemari administrasi.

“Yang bersangkutan kami nonaktifkan dari jabatan tambahan sebagai wakil dekan, sekaligus dihentikan sementara dari aktivitas yang mewakili institusi, termasuk mengajar, penelitian, dan pengabdian,” tegas Kasful.

BACA JUGA :  Tinjau Karhutla di Jambi, Kepala BNPB Disambut Hujan

Langkah ini diambil agar proses pemeriksaan etik berjalan tanpa intervensi, sekaligus menjaga suasana akademik tetap kondusif.

Pihak kampus menyatakan akan melakukan penelusuran menyeluruh untuk memastikan kebenaran peristiwa tersebut. Jika terbukti melanggar kode etik, sanksi tegas akan dijatuhkan sesuai regulasi.

Namun di tengah derasnya arus informasi, kampus juga mengingatkan publik untuk tidak berspekulasi liar.

“Jangan membangun narasi yang memperkeruh situasi,” imbau Kasful.

Meski demikian, imbauan itu terasa seperti menahan banjir dengan payung karena di era digital, satu kejadian bisa berubah menjadi ribuan versi cerita dalam hitungan menit.

BACA JUGA :  Fahri Hamzah: Ada Keanehan Terkait Aksi Mahasiswa Tolak RUU KPK

UIN STS Jambi menegaskan bahwa tindakan personal oknum dosen tersebut tidak mencerminkan nilai dan budaya kerja institusi. Pernyataan yang penting, meski publik tentu berharap lebih dari sekadar klarifikasi yakni pembuktian nyata bahwa standar etik benar-benar ditegakkan.

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa jabatan akademik bukan hanya soal gelar dan posisi, tetapi juga soal tanggung jawab moral.

Sebab di kampus, mahasiswa mungkin belajar teori di kelas. Tapi publik menilai langsung praktik di kehidupan nyata.

Dan ketika ruang akademik bersinggungan dengan drama personal, satu hal jadi jelas: reputasi dibangun bertahun-tahun, tapi bisa runtuh dalam satu malam apalagi kalau lokasinya kamar kos.***