LAMPUNG UTARA – Pelaku berinisial F (21), yang diduga menembak mati Dedi Kristian Agung (40) pedagang ayam geprek di Metro Barat, Kota Metro, Lampung, akhirnya menyerahkan diri ke polisi, Minggu (24/5/2026).
Namun penyerahan diri ini mendadak jadi sorotan publik lantaran pelaku datang ke Mapolres Lampung Utara bukan sendirian. Ia disebut didampingi Wakil Bupati, pihak keluarga, hingga kepala desa.
Kalau biasanya warga datang ke kantor polisi ditemani kuasa hukum, kali ini pelaku penembakan datang dengan “rombongan pejabat pengantar”. Situasi yang sontak memantik perhatian masyarakat dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Pelaku diketahui merupakan warga Desa Sukadana Ilir, Kecamatan Bunga Mayang, Lampung Utara. Penyerahan diri berlangsung dalam pengamanan ketat aparat gabungan.
Tim Tekab 308 dari Kota Metro bersama jajaran Polda Lampung turut diterjunkan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan maupun amukan massa.
Meski pelaku telah menyerahkan diri, polisi masih memburu sejumlah barang bukti penting yang belum diserahkan, termasuk senjata api yang digunakan dalam aksi penembakan.
Selain pistol, aparat juga masih mencari pakaian yang dikenakan pelaku saat kejadian serta sepeda motor yang dipakai untuk kabur usai menembak korban.
Penyidik saat ini masih mendalami motif lengkap penembakan dan mengumpulkan alat bukti guna memperkuat proses hukum.
Berawal dari Utang Bank Plecit
Kasus ini sebelumnya menghebohkan warga Metro Barat setelah Dedi Kristian Agung, seorang pedagang ayam geprek, tewas ditembak di Jalan Khair Bras atau kawasan Jembatan Item, Kelurahan Ganjar Asri.
Peristiwa berdarah itu diduga dipicu persoalan utang piutang bank keliling alias bank plecit.
Menurut keterangan saksi, pelaku datang untuk menagih tunggakan utang korban di depan Toko Happy Mart. Namun obrolan penagihan berubah panas hingga berujung baku hantam di tengah jalan.
“Korban dan pelaku sempat berdebat soal utang, lalu berkelahi,” ujar Muji, kakak ipar korban.
Situasi berubah tragis ketika pelaku tiba-tiba mengeluarkan senjata api dari tas kecil yang dibawanya.
Dalam kondisi emosi, korban bahkan sempat menantang pelaku.
“Tembak saja, tembak!”
Kalimat itu benar-benar dijawab dengan peluru.
Pelaku melepaskan tembakan yang mengenai kepala korban hingga Dedi langsung roboh bersimbah darah. Tak cukup sampai di situ, pelaku juga disebut sempat melepaskan tembakan ke udara sebelum melarikan diri.
Istri korban, Vita Lestari, sempat membawa korban ke Rumah Sakit Mardi Waluyo. Namun nyawa Dedi tidak berhasil diselamatkan.
Kehadiran pejabat daerah saat proses penyerahan diri pelaku kini ikut menjadi perbincangan masyarakat. Sebagian mempertanyakan alasan pendampingan tersebut, sementara lainnya menilai itu sebagai upaya memastikan pelaku menyerahkan diri tanpa perlawanan.
Di tengah sorotan publik, polisi memastikan proses hukum tetap berjalan sesuai aturan.***











