Scroll untuk baca artikel
Hukum & KriminalLampung

“Ayah Kenapa, Bu?” Tangis Anak Pecah Saat ASN di Metro Tewas Ditembak Penagih Hutang

×

“Ayah Kenapa, Bu?” Tangis Anak Pecah Saat ASN di Metro Tewas Ditembak Penagih Hutang

Sebarkan artikel ini
Geger, Dedi Christian Agung (40) warga Kelurahan Ganjar Asri, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro, meninggal dunia ditembak di bagian kepala. Peristiwa dipicu soal utang piutang, Sabtu (23/5/2026) malam. (Foto- Dok. Polda Lampung).

LAMPUNG — Belum reda geger kasus polisi ditembak begal, publik Lampung kembali dikejutkan tragedi berdarah yang kali ini menimpa seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dedi Kristian Agung (40), pegawai di Dinas Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Lampung Tengah, tewas ditembak di depan istri dan dua anaknya sendiri diduga akibat persoalan utang piutang.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Peristiwa memilukan itu terjadi di kawasan Jalan Khairbras, Jembatan Hitam, Kelurahan Ganjar Asri, Kota Metro. Lokasi yang biasanya ramai aktivitas warga mendadak berubah menjadi arena kepanikan setelah letusan senjata api memecah suasana.

Korban yang sehari-hari juga berjualan ayam geprek itu roboh bersimbah darah usai terlibat cekcok dan perkelahian dengan pelaku di tengah jalan.

Ironisnya, tragedi tersebut terjadi tepat di hadapan istri dan dua anak korban yang masih kecil.

“Ayah kenapa bu?”.

Kalimat polos itu kini menjadi trauma yang terus terngiang di kepala Vita Lestari, istri korban.

Di tengah kepanikan, anak mereka yang baru berusia 7 tahun histeris melihat sang ayah terkapar berlumuran darah. Sementara adiknya yang masih berusia 3 tahun hanya bisa menangis tanpa memahami sepenuhnya apa yang terjadi.

BACA JUGA :  Kepolisian Diminta Klarifikasi Pernyataan Adik Kandung Gus Miftah Kaitkan Institusi Polri Terkait Tambang Pasir di Lamtim

“Anak saya terus terang langsung teriak, ‘Ayah kenapa, Bu? Ayah kenapa?’” ujar Vita, Minggu (24/5/2026).

Suasana disebut berubah mencekam hanya dalam hitungan detik. Warga yang berada di sekitar lokasi bahkan sempat takut mendekat karena pelaku masih menodongkan senjata api setelah penembakan terjadi.

Korban baru dapat dievakuasi sekitar 15 menit kemudian oleh warga bersama petugas Babinsa setelah pelaku melarikan diri. Namun luka tembak yang diderita korban terlalu parah. Nyawa Dedi tak berhasil diselamatkan.

Dari Utang Piutang Berujung Nyawa Melayang

Menurut Vita, tragedi berdarah tersebut dipicu persoalan utang piutang yang sebelumnya sudah memicu ketegangan antara korban dan pelaku.

Bahkan sebelum penembakan terjadi, keduanya sempat terlibat adu mulut hingga perkelahian fisik.

Vita menduga aksi penembakan itu bukan tindakan spontan. Ia menyebut pelaku sebelumnya kerap melontarkan ancaman kepada korban.

Di tengah situasi ekonomi yang makin berat, persoalan utang memang kerap menjadi bara dalam sekam. Namun ketika peluru mulai dipakai sebagai alat penagih, persoalannya bukan lagi soal uang, melainkan runtuhnya akal sehat dan rasa kemanusiaan.

BACA JUGA :  Mantan Camat Sekampung Udik dan Kades Gunung Agung jadi tersangka dugaan mafia tanah di Malangsari

Fenomena ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi masyarakat. Di saat banyak orang sibuk mengejar gaya hidup, cicilan, hingga gengsi sosial, sebagian konflik justru berakhir tragis karena emosi lebih cepat meledak daripada kemampuan menyelesaikan masalah secara dewasa.

“Nyawa Harus Dibayar dengan Nyawa”

Dengan suara bergetar menahan duka, Vita meminta aparat penegak hukum bertindak transparan dan tegas dalam menangani kasus tersebut.

Ia berharap tidak ada intervensi maupun “backing” yang melindungi pelaku.

“Saya cuma minta keadilan seadil-adilnya. Jangan ada backing-an apa pun. Nyawa harus dibayar dengan nyawa,” tegasnya.

Kalimat berikutnya menjadi pukulan emosional yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.

“Enak dia mati tidak ada tanggungan, sedangkan suami saya mati meninggalkan dua anak yang masih kecil,” lanjut Vita.

Kini, bukan hanya seorang suami yang hilang. Dua anak kehilangan ayahnya, seorang istri kehilangan tulang punggung keluarga, dan orang tua kehilangan anggota keluarganya secara tragis.

Suasana duka menyelimuti Tempat Pemakaman Umum (TPU) 16C Metro Barat pada Minggu (24/5/2026).

Jenazah Dedi Kristian Agung dimakamkan di tengah tangis keluarga, kerabat, warga, hingga rekan kerja yang datang memberikan penghormatan terakhir.

BACA JUGA :  Pemkab Tanggamus Jalin Kerjasama dengan DJKN dan PKNL Bandar Lampung

Sejak disemayamkan di rumah duka hingga prosesi pemakaman berlangsung, pelayat terus berdatangan.

Jajaran Pemerintah Kota Metro, aparat desa, hingga rekan-rekan ASN tampak hadir di lokasi pemakaman.

Di pusara yang masih basah, tersisa ironi yang pahit: seorang ASN yang siang malam bekerja mencari nafkah, akhirnya pulang untuk terakhir kali bukan karena pensiun, melainkan karena konflik yang berujung peluru.

Dan di tengah hiruk-pikuk kehidupan hari ini, masyarakat kembali diingatkan bahwa persoalan ekonomi, emosi, dan kekerasan yang tak terkendali bisa mengubah pertikaian biasa menjadi tragedi berdarah dalam hitungan detik.

Diketahui pelaku menyerahkan diri ke Polres Lampung Utara. Tapi sempat mengundang tanya, karena biasanya warga datang ke kantor polisi ditemani kuasa hukum, kali ini pelaku penembakan datang dengan “rombongan pejabat pengantar”.

Situasi yang sontak memantik perhatian masyarakat dan ramai diperbincangkan di media sosial. Pelaku diketahui merupakan warga Desa Sukadana Ilir, Kecamatan Bunga Mayang, Lampung Utara. Penyerahan diri berlangsung dalam pengamanan ketat aparat gabungan.***